Arsip untuk ‘Aglaonema’ Kategori
Artikel tentang tanaman aglaonema
JURUS JITU MEMILIH AGLAONEMA
Ditulis oleh embundaun di/pada Agustus 26, 2008
Ditulis dalam Aglaonema | Leave a Comment »
PERBANYAK AGLAONEMA DENGAN PENGGAL PUCUK
Ditulis oleh embundaun di/pada Agustus 15, 2008
Sosok aglaonema Snow White itu mempesona. Sepuluh daun hijau bertabur bercak putih membuatnya kompak. Namun, dengan pisau tajam, kres… tangan kanan Prapanpong Tangpit memotong batang si putih salju menjadi 2 bagian. Batang yang tumbuh di pot terdiri atas 4 daun; batang terpotong, 6 daun.
Prapanpong Tangpit bukan sedang meluapkan marahnya. Memang begitulah cara dia memperbanyak aglaonema. Di depan rumahnya, di bilangan Khet Thawi Watthana, Bangkok, Thailand, menghampar 3.000 aglaonema. Semuanya diperbanyak dengan pemenggalan pucuk. Dengan teknik potong pucuk, At-sapaannya-menghasilkan minimal 5 anakan per tanaman setahun. Bandingkan dengan cara konvensional, cuma 2-3 anakan per tahun.
Pemotongan pucuk, merangsang induk mengeluarkan tunas baru. ‘Dari satu bonggol keluar 2-3 anakan,’ ujar At. Selang 5- 6 bulan, anakan aglaonema itu dipisahkan dari induk. Setelah dirawat 1-2 bulan atau keluar akar baru, kerabat anthurium itu siap jual. Itu baru anakan dari bonggol, belum dari batang hasil pemotongan. Potongan pucuk menghasilkan sekitar 2-3 anakan dan dapat dipanen setelah berdaun 5-7 helai. Jadi anakan diperoleh dari 2 tanaman, induk dan pucuk yang dipotong.
Sehat
Karena hasilnya spektakuler, sistem potong pucuk pun ditiru pekebun di Indonesia. Sebut saja Ukay Saputra di Jakarta. Pemilik Anisa Flora nurseri itu mengadopsi teknik itu sejak akhir 2005. Penggal pucuk dapat diterapkan untuk semua jenis aglaonema, tak hanya snow white. Itu yang Trubus saksikan di kebun produksi milik Ukay di Sawangan, Depok. Di lahan 3.000 m2, pria setengah baya itu memenggal heng-heng, legacy, venus, dan pride of sumatera.
Nun di Sentul, Bogor, Gunawan Widjaja pun melakukan hal sama. Itu terlihat dari puluhan pot di atas rak setinggi 1 m yang sekilas hanya berisi media tanpa tanaman. Begitu didekati, 2-4 tunas berbentuk jarum muncul ke permukaan. Itulah bonggol-bonggol tanaman induk yang telah dipotong pucuknya. Sedangkan pucuk yang telah dipisahkan, diletakkan di bawah rak.
Agar hasil maksimal, pilih aglaonema dewasa terdiri atas 8-10 daun. Kondisinya sehat: daun segar, kokoh, dan daun muda tak mengecil. Tanaman berakar kuat, putih, gemuk, dan tak busuk. Bila syarat itu terpenuhi, lakukan potong pucuk.
Sebelum pemenggalan, Ukay dan Gunawan memberikan perlakuan khusus. Ukay membenamkan batang aglaonema lebih dalam di pot. Biasanya, panjang batang sri rejeki yang ditanam hanya 5-7 cm yang terendam media. Sebelum dipotong, panjang batang yang tertutup media jadi 8-10 cm. ‘Prinsipnya seperti cangkok, sehingga akar terangsang keluar,’ ujarnya. Selain itu, sri rejeki diberi pupuk lambat urai berkomposisi seimbang setiap 3 atau 6 bulan. Penyemprotan hara mikro setiap satu bulan. Untuk mempercepat akar muncul, Ukay memberikan vitamin B1 seminggu sekali.
Sedangkan Gunawan meningkatkan frekuensi pemupukan 2-3 minggu sebelum pemotongan. Biasanya pemupukan setiap satu minggu dengan pupuk seimbang berkonsentrasi 2 cc/l air. Sebelum dipenggal, ditingkatkan jadi 2 kali seminggu dengan konsentrasi sama. Tujuannya, meningkatkan jumlah makanan di akar sebelum dipotong. Ketika pucuk dipenggal, makanan dari akar tak lagi didistribusikan ke daun sehingga memacu keluarnya tunas di batang.
Potong
Kini saatnya aglaonema dipenggal. Korek media hingga terlihat akar. Sebaiknya pucuk yang akan dipotong memiliki 3 akar untuk mencegah kematian. Potong batang sri rejeki itu dengan menyisakan minimal 1 daun pada tanaman induk. Tujuannya, agar kerabat keladi itu masih bisa berfotosintesis untuk menghasilkan makanan. ‘Dengan demikian tunas baru yang muncul berdaun besar,’ ujar Gunawan. Pemotongan tanpa membongkar media. Artinya aglaonema tak perlu dikeluarkan dari pot agar tidak stres.
Olesi aglaonema terpotong dengan antiseptik atau obat penutup luka. Gunawan memberikan campuran bahan-bahan yang biasa dipakai untuk menyirih. Seperti campuran pinang, kapur sirih, dan gambir yang dihaluskan. Oleskan obat itu di atas luka. Setelah kering angin-sekitar 5 menit-tanam sri rejeki bagian atas dalam media campuran pasir malang, humus andam, pakis, dan sekam. Perbandingannya, 5 : 2 : 2 : 1. Siram potongan pucuk, sedangkan induk 3 hari kemudian untuk menghindari busuk batang.
Alternatif lain, rendam pucuk aglonema dalam larutan hormon, bakterisida, dan fungisida selama 0,5 jam seperti dilakukan Ukay. Lalu tanam sri rejeki itu dalam media campuran sekam bakar, cocopeat, pasir malang, dan dolomit dengan perbandingan 70 : 12,5 : 12,5 : 5. ‘Dolomit berfungsi untuk menetralisir pH,’ kata Ukay. Selanjutnya siram anggota famili Araceae itu dengan air rendaman sebelumnya.
Letakkan pucuk aglaonema yang memiliki ketahanan tinggi, seperti snow white dan pride of sumatera, di bawah jaring peneduh 65% sebanyak 2 lapis. Sementara jenis yang agak ringkih, seperti legacy dan venus, taruh di bawah jaring dan plastik UV agar terhindar dari hujan.
Untuk merangsang tunas pada bonggol bawah, Ukay menyemprotkan campuran auksin dan sitokinin murni satu minggu sekali. Pemberian cukup 2 kali. Selang 1 bulan, 2-3 tunas muncul dan bisa dipisahkan setelah berdaun 5 helai atau 6 bulan kemudian. Aglonema pun siap jual 1 bulan kemudian. Cepat dan banyak bukan? (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Evy Syriefa)
Langkah2 Pemotongan:
1. Siapkan pisau dan alat pengorek
2. Aglonema dalam kondisi sehat terlihat dari akar yang putih dan gendut
3. Korek media untuk melihat akar
4. Potong batang aglaonema dan sisakan minimal satu daun pada bonggol
5. Oleskan obat penutup luka, seperti betadine atau campuran bahan menyirih pada luka pucuk dan induk
6. Tanam pucuk aglaonema di media campuran pasir malang, humus andam, pakis, dan sekam dengan perbandingan 5: 2:2:1
7. Siram aglaonema lalu letakkan di tempat ternaungi
8. Tunas muncul 1 bulan kemudian
(Dikutip dari majalah TRUBUS 440, dari judul asli: “Demi Anakan, Penggal Leher Ratu”)
Ditulis dalam Aglaonema | Leave a Comment »
Repotting atau penggantian media Aglaonema
Ditulis oleh embundaun di/pada Agustus 15, 2008
III. Repotting atau penggantian media dan/atau pot
Repoting atau penggantian media tanam dengan yang baru dikarenakan beberapa hal, diantaranya dengan alasan ukuran pot terlalu kecil atau terlalu besar atau karena memang media tanam sudah mencapai umur 5-6bulan.
Kami biasa mengganti media tanam bisa 5-6bulan sekali atau bahkan bisa 8-10bulan sekali. Tetapi kalau penggemar aglaonema dengan jumlah tanaman yang lebih sedikit mungkin bisa lebih terkontrol dan lebih optimun dilakukan repoting 4-5bulan sekali.
Sebagai sharing, pengguna baode seperti kami, pada saat repoting, media tanam yang lama akan terlihat lebih hancur dikarenakan kemampuan baode akar menguraikan unsur organik di dalam media untuk dijadikan hara. Silahkan dibuktikan.
Adapun urutan repoting cara fai-kao adalah sebagai berikut:
Sudah tentu pertama kali, berdo’a terlebih dahulu kepada Tuhan yang Maha Pencipta Maha Pengatur dan Maha Hidup.
Siapkan material-material yang diperlukan, aglaonema itu sendiri, baode daun atau akar, media baru, pot pengganti (atau tidak diganti) yang lebih pas/proporsional (jangan terlalu besar) dan pupuk slow release yang dipilih.
Siapkan pot dengan styform di bagian bawah secukupnya. Pengganti styform bisa menggunakan pecahan genting atau bata merah atau arang.
Masukkan media ke pot secukupnya, kurang lebih 1/3 atau ¼ pot.
Lepaskan aglao dari pot dengan hati-hati. Pegang batang aglao dekat media diapit jemari, miringkan pot dan lepaskan aglao dari pot. Lepaskan Media yang melekat di bonggol dan akar aglao dengan hati-hati. Atau dengan cara direndam dalam air, sehingga media yang nempel akan lepas sendiri.
Masukkan aglao ke dalam pot tersebut hingga di tengah-tengah, dan taburkan media diatas perakarannya sedikit demi sedikit tetapi belum sampai penuh.
Taburi pupuk slow release yang dipilih, kurang lebih sesendok teh (disesuaikan dengan ukuran tanaman)
Tambahkan media sedikit demi sedikit sampai penuh.
Untuk memadatkan gunakan dengan cara pot samping di pukul-pukul sehingga media turun sendiri dengan gravitasinya. Peringatan! JANGAN memadatkan media dengan cara ditekan-tekan dari atas/permukaan media.
Setelah cukup, siram media dengan air baik, dengan cara disemprot atau dituangi air atau dengan air dari slang keran air langsung sampai basah kuyup, untuk membantu memadatkan dan membagi media ke sela-sela akar.
setelah tiris, semprot media dengan menggunakan larutan baode akar atau daun.
Repoting selesai…
Dari : http://www.fai-kao.com/2008/05/25/tips_perawatan_aglaonema_ala_fai_kao_com
Ditulis dalam Aglaonema | Leave a Comment »
Media Tanam Aglaonema
Ditulis oleh embundaun di/pada Agustus 15, 2008
I. MEDIA TANAM
Pendahuluan
Pertama-tama mari kita tinjau persoalan media tanam. Masalah media tanam bisa dibilang termasuk faktor paling utama, karena merupakan media dimana sang ratu daun akan hidup.
Penggunaan Media yang tepat dan sesuai membuat aglaonema tumbuh lebih subur, lebih sehat dan lebih berkembang sesuai dengan fisiologis tanaman / jenis aslinya. Menurut beberapa literatur, faktor keasaman media tanam sangat mempengaruhi pertumbuhan aglaonema itu sendiri juga mempengaruhi ketahanan terhadap serangan penyakit tanaman, terutama yang disebabkan oleh jamur (fungi) dan bakteri (bactery).
Media tanam yang terlalu asam (indikator faktor keasaman pH yang kurang dari dari 7), akan membuat aglaonema lebih mudah terserang penyakit, karena penyebab sakit tersebut (jamur atau bakteri) lebih mudah tumbuh berkembang di dalam media seperti ini. Adapun salah satu diantara sebab media menjadi asam diantaranya media terlalu lama menahan air, dengan kata lain kondisi media terlalu sering dalam keadaan ”becek” atau bisa juga terdorong oleh air hujan yang kebetulan untuk daerah tertentu dan waktu tertentu yang bisa menyebabkan keasaam tanah meningkat.
Media tanam memang banyak ragamnya, tergantung selera, pengalaman pribadi orang-perorang dan juga tergantung iklim tertentu, serta bisa juga karena keawaman penggunaannya. Menurut kami, media tanam yang ada dipasaran termasuk media tanam hasil racikan media racikan dari kami (media tanam fai-kao.com), bukanlah media yang ”mutlak” harus digunakan. Beberapa pengalaman orang-orang tertentu, penggunaan media tanah asli juga bisa membantu juga, dan tidak harus terlalu ”diistimewakan”. Akan tetapi, tujuan atau goal tiap orang memelihara aglaonema tentu banyak ragamnya, ada yang sangat ingin akarnya banyak saja sehingga yang bersangkutan berfikir, masalah anak/tunas dan pertumbuhan akan berjalan alami selama akar tumbuh cukup dan sehat. Ada juga yang ingin mendapatkan anakan atau tunas lebih cepat, ada juga yang menginginkan corak warnanya konsisten, tetapi ada juga yang ingin coraknya berubah lebih merah, atau lebih hijau atau bahkan yang ada yang ingin berubah total yang disebut mutasi dan yang terakhir sebagian orang lain adalah kekhawatiran penggunaan media yang salah karena sang Ratu daun yang mahal harganya (relatif).
Perbedaan pemakaian media untuk tujuan dan pengetahuan yang berbeda-beda merupakan sesuatu yang wajar, oleh karena itu, disini, fai-kao.com bermaksud menyajikan media tanam versi fai-kao.com untuk dijadikan alternatif pilihan untuk digunakan.
Media tanam fai-kao.com
Media tanam yang kami gunakan adalah media tanam hasil racikan sendiri. Di awal-awal pembudidayaan aglaonema, kami telah mencoba beberapa jenis komposisi racikan, dan sampai dimana kami telah menemukan dan sedang menggunakan racikan media tanam sendiri yang terakhir (baca: paling mutakhir).
Media tanam racikan ini kami rancang di awal dengan tidak dimulai dari angka prosentase komposisinya, sehingga kadang kami bingung sendiri, sebenarnya berapa persen (%) komposisinya…? Tetapi setelah di periksa dan diamati, kurang lebih seperti berikut alternatifnya:
Pakis kasar, kualitas prima, tandanya berwarna hitam, getas (kalau dipatahkan mengeluarkan suara “krek!”), porsi kurang lebih 60%
Sekam bakar porsi kurang lebih 15%
Sekam mentah 10% (untuk daerah yang kelembabannya tinggi bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan)
Pasir malang 15%
Jika diperlukan tambahkan sedikit pupuk kandang (kurang lebih 5% dari total volume media yang telah diracik) – tetapi kadang kami tidak menggunakannya. Juga bisa menggunakan humus kering misal berupa angdam kasar, ranting dan daun lamtoro.
Dan jika diperlukan lagi (kadang-kadang kami menggunakannya) ditambahkan Zeolite (merk Zn) kurang lebih 2-3%
Sebelum digunakan, diharuskan dijemur seharian, sedemikian hingga media yang akan diracik benar-benar telah kering kerontang.
Media tanam hasil racikan ini menghasilkan media yang sangat poros, sehingga andaikan disiram dengan jumlah air yang banyak sekalipun bahkan menggunakan kucuran air langsung dari keran juga tidak bermasalah, karena air tersebut akan langsung mengalir keluar di bawah media. Dengan kata lain akan sangat poros.
Keuntungan dari media ini diantara yang kami peroleh berupa kondisi aktual adalah:
Media tidak cepat lembab dan terhindar dari keasaman media yang konon mengundang jamur dan penyakit
Kemampuan media menahan air sangat kecil, sehingga bagi yang senang melakukan siram-siram tanaman, tidak perlu khawatir akan kondisi lembab media, dengan kata lain, mau melakukan penyiraman tiap hari pun tidak masalah
Pergerakan akar-akar baru terfasilitasi dengan mudah, atau dengan kata lain, pergerakan akar baru bisa sangat leluasa bergerak memanjang dan membesar sesuai dengan kondisi tanaman
Pergerakan tunas/calon anak, setelah keluar dari bonggol, bisa bergerak lebih mudah tanpa harus menembus media yang ”memadat”.
Ketika hujan turun, untuk aglao yang disimpan dibawah paranet /shade net dan tanpa plastik UV, tidak usah khawatir, karena air hujan yang membasahi media, akan langsung keluar karena sangat poros medianya.
Kekurangan dari media ini diantaranya:
Bagi pemakai yang “malas” melakukan penyiraman, karena media tanam cepat kering. Solusinya, jangan terlalu jauh jarak waktu penyiraman, dan jika tidak bisa dihindari, tambahan media sekam bakar 10% lagi, atau dengan cocopeat, tetapi dengan porsi yang sangat-sangat sedikit (karena kami tidak menyukai penggunaan cocopeat ini). Tetapi kekurangan ini bukanlah menjadi suatu kekurangan andaikan kita bisa menjaga waktu penyiraman.
Dan andaikan dari para pembaca ada yang berminat untuk memesan media tanam hasil racikan kami sendiri, bisa order, paling tidak 2-3hari sebelumnya, karena kami akan meracik media berdasarkan keperluan, jadi, kami tidak membuat untuk stok dengaan harapan media yang akan diterima oleh peminat adalah media tanam yang benar-benar baru atau “Fresh”. Selain itu, khusus untuk jenis pakis yang kami gunakan, tidak sembarang pakis, tetapi pakis yang “menurut kami” layak dan berkualitas yang akan kami gunakan, sehingga andaikan stok pakis yang yang ada dipasaran tidak ada yang memenuhi kriteria (menurut kami), mungkin stock akan terhambat karena kami tidak biasa “memaksa” meraciknya dengan pakis yang seadanya.
Permasalah dalam berjualan media ini adalah di pengiriman, sehingga bagi pembaca yang berminat silahkan hubungi dede 081385317086 atau dedemeki@centrin.net.id dan diharapkan diambil sendiri (di lokasi kebun di Parung bogor atau di rumah di depok atau di tempak bekerja di pancoran jakarta selatan). Di jual atas pesanan ukuran karung 20kg dengan harga Rp. 30ribu per karung.
Prinsi kami yang berkenaan dengan media tanam aglaonema adalah, Kami menyadari bahwa media racikan ini memang bukanlah media tanam aglaonema nomor 1(satu) di dunia dan tidak memiliki jaminan tertentu, tetapi selama kami berkecimpung dengan aglaonema, dengan beberapa kali menggunakan media tanam baik yang telah ada di pasaran maupun yang telah kami racik sebelumnya (trial and error), kami merasakan media yang terakhir ini, yang telah memberikan keyakinan kepada kami untuk mendapatkan aglaonema yang lebih sehat, tumbuh subur, corak dipertahankan, perakaran tidak terhambat serta sedikit banyaknya telah memberikan hasi berupa “produksi” (baca: perbanyakan) agalonema.
Dari : http://www.fai-kao.com/2008/05/25/tips_perawatan_aglaonema_ala_fai_kao_com
Ditulis dalam Aglaonema | Leave a Comment »
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Ditulis oleh embundaun di/pada Agustus 14, 2008
Bu, daun Carmen-nya kok ada bercak kuningnya ya?”
Tentu tidak enak rasanya bila pembeli di nursery Anda merasa kecewa dengan aglaonema pilihannya. Sebagai calon pemilik nursery, hal tersebut merupakan persoalan yang patut dihindari. Anda perlu memperluas wawasan tentang hama, penyakit, dan hal lainnya yang dapat menurunkan kualitas aglaonema. Berikut adalah jenis-jenis hama dan penyakit lainnya.
HAMA
Hama adalah hewan penggangu tanaman yang secara fisik masih dapat dilihat secara kasat mata tanpa bantuan alat. Hama pada aglaonema bermacam-macam dan gejalanya berbeda-beda.. Setiap hama memiliki cara penanggulangan tersendiri.
1. Kutu Putih / Kutu Kebul
Kutu ini lebih banyak menyerang aglaonema di dataran rendah dibanding dengan di dataran tinggi. Kutu putih whitefly ini dapat ditemukan di batang dan daun bagian bawah. Kutu tersebut mengisap cairan daun dan meninggalkan jelaga pada daun. Hal ini dapat ditanggulangi dengan membersihkan dengan kapas yang telah dicelupkan insektisida encer. Setelah itu, daun disemprotkan kembali dengan insektisida. Insektisida kontak atau sistemik yang bisa digunakan, seperti mitac 200 EC dosis 1-2 ml/l, Decis 1 cc/l, dan Cofidor 200 SL dosisi 1 ml/l.
2. Ulat
Hama ulat ada yang menyerang daun, yaitu spodoptera sp., ditandai dengan daun muda atau setengah tua yang rombeng dari pinggir. Ada juga ulat yang menyerang batang, yaitu noctuidae. Penanggulangannya dapat dilakukan dengan menggambil ulat secara mekanis. Namun, bila jumlahnya sudah banyak, ulat dapat dibasmi dengan menyemprotkan insektisida 2 minggu sekali. Insektisida yang dapat digunakan adalah Decis 25 EC 0,5-1 ml/l, Atabron 1 ml/l, atau Buldok 25 EC dosis 0.5-2 ml/l.
3. Belalang
Gejala penyerapan hama belalang ini sama dengan ulat, yaitu daun menjadi rombeng. Hama ini dapat ditanggulangi dengan penangkapan secara manual. Tangkap belalang yang belum bersayap atau saat masih pagi dan berembun-belalang tidak bisa terbang dengan sayap basah. Anda juga dapat menyemprotkan Confidor 200 SL dosis 1 ml/l. Campurkan Decis 2,5 EC dosis 0,75-1 ml/l dengan frekuensi penyemprotan 2 minggu sekali.
4. Kutu Perisai
Hama ini menyerang bagian daun. Kutu ini biasanya terdapat koloni dengan membentuk barisan di bagian tulang punggung daun, Sesuai namanya, kutu ini memiliki bentuk fisik seperti perisai pada bagian punggungnya. Kutu perisai diatasi dengan menggunakan insektisida sistemik dengan bahan aktif acephate.
5. Root Mealy Bugs
Hama ini menyerang bagian akar tanaman, bentuknya seperti kutu putih. Tanaman menjadi kurus, kerdil daunnya mengecil dan layu. Anda dapat menanggulangainya dengan mengganti media tanam. Selain itu, gunakan insektisida Confidor 200 SL dosis 0,5-0,75 ml/l atau Supracide 25 WP dosis 1-2 g/l dengan frekuensi 2 minggu sekali.
6. Kutu Sisik
Menyerang bagian daun, pelepah, batang, dan bunga. Bentuknya seperti lintah dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Kutu sisik dapat menyebabkan daun mengerut, kuning, layu dan akhirnya mati. Bersihkan kutu sisik dengan cara dikerik. Anda juga dapat menyemprotkan insektisida Confidor 200-SL atau Agrimex 18 EC dosis 1 ml/l dengan frekuensi 1 minggu sekali.
PENYAKIT
Penyakit pada tanaman khususnya aglaonema disebabkan oleh 2 patogen, yaitu cendawan dan bakteri. Jumlah cendawan yang menyebabkan penyakit umumnya lebih banyak dibanding bakteri. Bagian tanaman yang terkena bakteri biasanya mengeluarkan bau tidak sedap.
1. Busuk Akar
Penyakit ini ditandai dengan daun yang menjadi pucat lalu busuk, batang yang berlubang dan layu, serta akarnya berwarna coklat kehitaman. Busuk akar disebabkan karena media yang terlalu lembap sehingga menyebabkan cendawan cepat berkembang. Tanggulangi busuk akar dengan mengganti media baru yang lebih porous, lalu potong bagian akar yang busuk dan oleskan fungisida pada bekas potongan. Bisa juga dengan menyemprotkan fingisida Previcur N dosis 1 ml/l dengan frekuensi 2 minggu sekali.
2. Layu Fusarium
Gejala serangan ditandai dengan tulang daun yang pucat berubah warna menjadi cokelat keabuan lalu tangkainya membusuk. Penyababnya adalah media yang selalu basah sehingga media tanam jadi ber-pH rendah. Kondisi tersebut membuat cendawan fusarium oxysporium leluasa berkembang. Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan cara mengganti media tanam. Dapat juga dengan menyiramkan fungisida Derosol 500 SC dosis 1,5 ml/l setiap 2 minggu. Bisa juga diatasi dengan menyemprotkan fungsida Folicur 25 WP 1-2 g/l atau Folocur 250 EC 1-2 ml/l atau Delsane MX 200 dosis1 g/l. Penyakit ini dapat dicegah dengan menyiramkan Folicur 250 EC dengan konsentrasi 2 ml/l setiap 2 minggu sekali.
3. Layu Bakteri
Dari namanya tentu dapat diketahui bahwa penyakit tanaman disebabkan oleh bakteri. Layu bakteri ditandai dengan daun dan batang yang melunak serta bau yang tak sedap. Untuk mencegahnya, media tanam harus tetap dijaga agar tidak terlalu basah dan lingkungan sekitar tidak terlalui lembap. Atasi layu fusarium dengan menyemprotkan bakterisida Agrept dosis 1-2 ml/l atau Starner dosis 1 g/l setiap 2 minggu sekali.
4. Bercak Daun
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan. Sesuai namanya, penyakit ini ditandai dengan adanya bercak daun yang lama kelamaan akan membusuk. Bercak daun ini dapat diatasi dengan langsung memotong daun yang busuk. Dapat juga menyemprotkan fungisida folicur 25 WP dosis 1-2 g/l atau folicur 250 EC dosis 1-2 ml/l. Selain itu, dapat juga dengan menggunakan Score dosis 1 cc/l. Frekuensi penyemprotan 2 minggu sekali. Pupuk berkadar kalsium tinggi juga dapat membantu mengatasi penyakit ini.
VIRUS
Adanya virus pada aglaonema ditandai dengan daun yang berlubang menjadi kekuningan atau menjadi keriting. Perubahan tersebut karena virus dapat menghancurkan klorofil dan jaringan lainnya pada daun. Tanaman yang terjangkit virus tidak dapat ditanggulangi. Perawatan dan pengendalian lingkungan yang baik merupakan cara pencegahan yang paling efektif. Virus dapat menyebar dengan bantuan vektor seperti hama pengisap cairan tanaman dan penggunaan alat potong yang tidak steril.
Kelainan Fisiologis
Gejala fisiologis disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan seperti sinar matahari, suhu, defisiensi hara, air, dan tingkat keasaman. Sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan daun mengering dan layu. Bercak coklat akan timbul bila daun yang tidak berklorofil terbakar sinar matahari.
Sumber cahaya yang tidak merata dan posisi tanaman yang tidak pernah diputar menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi miring. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan warna daun pada aglaonema menjadi memucat. Selain itu, kelebihan air dapat menyebabkan daun menguning
Disamping gejala-gejala tersebut, pernahkah Anda melihat daun aglaonema menjadi kecil dan kerdil? Hal itu bisa disebabkan oleh defisiensi hara, media yang sudah lama tidak diganti, atau aglaonema tidak cocok dengan ketinggian tempat.
http://duniaflora.com/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=2&infoid=6
Ditulis dalam Aglaonema | Leave a Comment »
SEKILAS AGLAONEMA
Ditulis oleh embundaun di/pada Agustus 14, 2008
|
Seorang penggemar di Jakarta yang berkunjung ke sana langsung kepincut begitu melihat panampilannya. Harga sebuah kesenangan memang mahal. Betapa tidak, untuk sebuah pot aglaonema jawara itu ia menebusnya Rp 60-juta, setara dengan harga rumah BTN tipe 21 di pinggiran Jakarata. Itulah Aglaonema asal Thailand yang masuk ke Indonesia. Namun, bukan berarti itu harga yang paling mahal. Ada yang luar biasa lagi, Adelia berdaun cuma 10 lembar dihargai Rp 100-juta alias Rp 10-juta per helai daun 7 tahun silam. Aglaonema mewah itu memang spektakuler. Tidak hanya harganya menggapai langit, tetapi pola warnanya juga unik pada waktu itu, bermotif batik. Itulah motif batik pertama pada Aglaonema. Setelah itu menyusul pola warna serupa dengan nama tiara, shinta, juwita, raina, sexy pink, hot lady, dan srikandi. A. Warisan Kekayaan Alam Tanaman hias yang juga berjuluk chinese evergreen itu berasal dari Asia Tenggara. Disebut demikian karena daunnya senantiasa hijau. Panggilan itu kini tampaknya sudah tidak cocok lagi setelah bermunculan aglaonema hibrida berdaun merah menyala atau jingga. Aglaonema yang semula berwarna putih hijau kini sudah berubah menjadi aneka variasi warna. Pionir perubahan itu di dunia adalah Gregori Garnadi Hambali, penyilang aglaonema asal Bogor, Indonesia. Ia mencoba menyilangkan Aglaonema commutatum ‘tricolor’ x Aglaonema rotundum, hasilnya pride of Sumatera yang berwarna hijau dengan tulang merah. Di balik daun merah ungu. Di alam, aglaonema di jumpai di hutan-hutan di bawah pohon, tidak terkena sinar matahari langsung. Tanah tempat tumbuhnya tidak tergenang air. Berdasarkan sebarannya, terbukti aglaonema tahan terhadap perbedaan kelembapan. Ia tumbuh baik di tempat dengan kelambapan rendah maupun tinggi. Hibrida aglaonema sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sumber penyebaran itu ada di kawasan tropis, terutama di kawasan Asia Tenggara. Dari semua spesies itu yang paling populer di Indonesia saat ini ialah Aglaonema rotundum dan Aglaonema commutatum. Kedua spesies itulah yang kerap kali dibuat sebagai induk untuk menghasilkan hibrida lain. Kedua spesies itu ternyata ada di Indonesia. B. Penghias Rumah Demikian juga nurseri tanaman hias, hampir seluruhnya memajang beberapa pot aglaonema. Tidak hanya di pulau Jawa, tetapi merambah berbagai kota besar di Sumatera, dan sejumlah kecil di Indonesia Timur. Aglaonema yang dijajakan pun bermacam-macam. Tidak hanya donna carmen dan pride of sumatera, tetapi juga kelas standar, misalnya lady valentine, butterfly, dan snow white yang harganya tergolong menengah, berkisar Rp 100.000 – Rp 300.000. Bahkan ada yang berani memajang red coccin dan dud unyamanee yang masih berharga Rp 500.000 untuk anakan berdaun 3-4 lembar. Nurseri kelas eklusif menambahkan beberapa jenis tiara, madam soeroyo, JT 2000, atau Widuri yang lebih mahal lagi. Bukan tanpa alasan bila anggota famili Araceae itu naik daun. Aglaonema mudah dirawat dan sebagai tanaman indoor paling pas. Sang ratu daun memang tidak rewel. Tahan di simpan dalam ruangan selama 1 minggu tanpa dikeluarkan. Lagipula dengan motif indah, ia enak dipandang meski tanpa bunga. http://duniaflora.com/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=2&infoid=4 |
Ditulis dalam Aglaonema | Leave a Comment »

Luar biasa! Hebat! Kata itulah yang pas untuk melukiskan sosok turunan Aglaonema cochinchinense. Dialah mung mee srisuk alias rainamira. Puluhan helai daun bergerombol membentuk tajuk yang kompak. Sekitar 80% permukaan daun berwarna merah merona. Pucuk dihiasi warna kuning dengan tepi daun hijau tua. Pantas ia merebut kampiun saat Kontes Piala Raja di Suan Luang, Bangkok, pada Agustus 2004.