Arsip Kategori: Sansevieria

MENGENAL SANSEVIERIA

Pada zaman dahulu, orang memanfatkan daun sansevieria sebagai penghasil serat, yakni untuk membuat tali anyaman, jangkar kapal dan kain. Namun sejak awal abad ke-19, sansevieria dianggap sebagai komoditas tanaman hias yang penting di dunia. Bentuk dan corak daunnya yang indah dan sangat beragam ternyata mampu memikat hati para penggemar tanaman hias.

Sansevieria adalah tumbuhan yang tumbuh menahun (perennial). Meskipun bukan tanaman asli Indonesia, sansevieria ini telah ada sejak puluhan tahun lalu. Pada awalnya, sansevieria yang dikenal secara luas adalah jenis ‘ceylon bowstring hemp’ (sansevieria trifasciata ‘lorentii mein liebling’), yang banyak menghasilkan serat rami. Mengingat kualitas serat yang baik, maka tumbuhan ini dibudidayakan.

Saat ini sansevieria telah berkembang menjadi komoditas yanng sangat penting dalam bisnis tanaman hias dunia. Sejak abad ke-19, sekitar tahun 1920-an tanamn sansevieria sudah menjadi komoditas dagang di Amerika, terutama di Florida. Di sana sansevieria populer sabagai indoor plant. Sekitar 1930-an, demam sansevieria mewabah ke benua Eropa.

 

A. Klasifikasi Tanaman

Sansevieria mempunyai banyak nama. “Lidah mertua (mother-in law tongue)” merupakan julukan yang kerap diberikan pada tanaman tak berdahan ini. Ada juga yang menamainya “tanaman pedang-pedangan” karena bentuk daunnya yang runcing menyerupai pedang. Beberapa yang lain menyebutnya “tanaman ular” (snake plant) karena pada beberapa jenis coraknya menyerupai sisik ular.

Para ahli biologi menjuluki tanaman sansevieria sebagai tanaman perintis karena mampu hidup di tempat yang tidak bisa di tumbuhi tanamn lain. Julukan-julukan lainnya adalah “century plant”, “lucky plant”, “the devil luck”, “judas sward”, dan “african’s devil”. Nama “sansevieria merupakan bahasa latin untuk genus yang terdiri dari beragam spesies.

Dalam ilmu taksonomi yang membagi makhluk hidup ke dalam lima kerajaan (Kingdom), tanaman sansevieria diklasifikasikan ke dalam famili Agavaceae (century plant) yang umumnya mempunyai daun berdaging tebal dan banyak mengandung air.

Klasifikasi sansevieria secara lengkap sebagai berikut.

Level Hirarki
Latin
Indonesia
Kingdom
Plantae
Tumbuhan
Subkingdom
Tracheobionta
Tumbuhan berpembuluh
Superdivisi
Sprematophyta
Tumbuhan berbiji
Divisi
Magnoliopyhta
Tumbuhan berbunga
Kelas
Liliopsida
Monokotil (berbiji tunggal)
Subkelas
Liliidae
-
Ordo
Liliales
-
Famili
Agavaceae
-
Genus
Sansevieria Thunb.
Sansevieria
Spesies
Misa,Sansevieria trifasciata, Sansevieria cylindrica, dan Sansevieria kirkii
-

 

B. Mengenal Bagian-bagian Tanamn Sansevieria

a. Akar

Lazimnya tumbuhan berbiji tunggal (monokotil), akar sansevieria berbentuk serabut. Akar berwarna putih ini tumbuh dari bagian pangkal daun dan menyebar ke segala arah di dalam tanah

b. Rimpang (Rhizoma)

Selain terdapat akar juga terdapat organ yang menyerupai batang, orang menyebut organ ini sebagai rimpang atau rhizoma yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sari-sari makanan hasil fotosintesis. Rimpang juga berperan dalam perkembang biakan.Rimpang menjalar di bawah dan kadang-kadang di atas permukaan tanah. Ujung organ ini merupakan jaringan meristem yang selalu tumbuh memanjang.

c. Daun

Tanaman sansevieria mudah dikenal dari daunnya yang tebal dan banyak mengandung air (fleshy dan succulent) sehingga dengan struktur daun seperti ini membuat sansevieria tahan terhadap kekeringan. Pasalnya, proses penguapan air dan laju transpirasi dapat ditekan. Daun tumbuh di sekeliling batang semu di atas permukaan tanah. Bentuk daun penjang dan meruncing pada bagian ujungnya. Tulang daun sejajar. Pada beberapa jenis terdapat duri.

d. Bunga

Bunga sansevieria terdapat dalam malai yang tumbuh tegak dari pangkal batang. Bunga sansevieria termasuk bunga berumah dua, putik dan serbuk sari tidak berada dalam satu kuntum bunga. Bunga yang memiliki putik disebut bunga betina, sedangkan yang memiliki serbuk sari disebut bunga jantan. Bunga ini mengeluarkan aroma wangi, terutama pada malam hari.

e. Biji

Biji dihasilkan dari pembuahan serbuk sari pada kepala putik. Biji memilki peran penting dalam perkembangbiakan tanaman. Biji sansevieria berkeping tunggal seperti tumbuhan monokotil lainnya. Bagian paling luar dari biji berupa kulit tebal yang berfungsi sebagai lapisan pelindung. Di sebalah dalm kulit terdapat embrio yang merupakan bakal calon tanaman.

 

C. Lingkungan Tumbuh Sansevieria

a. Suhu Lingkungan

Di habitat aslinya, sansevieria terbiasa dengan perbedaan suhu yang ekstrem. Pada siang hari suhunya sangat tinggi, bisa mencapai 55?C. Sebaliknya pada malam hari suhu turun hingga di bawah 10?C. Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman ini adalah 24-29?C pada siang hari dan 18-21?C pada malam hari.

Suhu udara sangat erat kaitannya dengan laju penguapan dari jaringan tumbuhan ke udara. Semakin tinggi suhu udara, maka laju transpirasi akan semakin tinggi. Jika suhu berada di bawah batas toleransi, kegiatan metabolisme tumbuhan akan terganggu atau malah terhenti.

b. Curah Hujan dan Kelembapan Udara

Daerah gurun yang merupakan asal sansevieria umumnya curah hujan rendah dengan jumlah bulan hujan sangat singkat. Curah hujan biasanya tidak lebih dari 250mm/tahun. Ditambah dengan suhu siang hari yang sangat panas menyebabkan daerah ini sangat kering. Pasalnya, penguapan lebih tinggi daripada curah hujan. Hal inilah yang menyebabkan tanaman ini tahan hidup di lingkungan dengan kelembapan yang sangat rendah.

c. Cahaya

Semua tumbuhan hijau membutuhkan cahaya matahari untuk mensintesis makanan. Sansevieria membutuhkan cahaya matahari yang cukup (1.000-10.000 fc) untuk menjamin pertumbuhan yang baik. Meskipun di habitat aslinya tumbuhan ini hidup dengan cahaya matahari yang berlimpah, sansevieria mempunyai toleransi yang tinggi terhadap lingkungan yang kekurangan cahaya. Tanaman ini akan melambat pertumbuhannya jika diletakkan di ruangan dengan pencahayaan kurang dari 15fc.

Ada dua jenis sansevieria berdasarkan kebutuhannya terhadap cahaya matahari. Pertama, jenis sansevieria yang membutuhkan cahaya matahari penuh atau full sun. Misalanya, Sansevieria cylindrica, Sansevieria liberica, Sansevieria trifaciata. Kedua, jenis sansevieria yang menghendaki cahaya matahari yang tidak langsung atau tipe shade. Tanaman ini tumbuh baik di tempat yang ternaungi. Sansevieria yang masuk dalam katagori ini umumnya berdaun kuning, misalnya Sansevieria hyacinthoides dan jenis ‘hahnii’.

d. Kondisi Tanah

Tanah gunrun sangat porus. Butirannya banyak mengandung pori-pori udara dan mudah sekali meloloskan air. Umumnya, tanah di lingkungan tersebut didominasi oleh tanah pasir dengan campuran jenis lain. Oleh karena itu, akar tanaman sansevieria sangat membutuhkan tanah yang tidak terlalu lembab dan beraerasi baik.

 

D. Kegunaan Sansevieria

a. Bahan Serat

Salah satu nama yang diberikan kepada sansevieria adalah “bowstringhemp” yang berarti serat yang digunakan untuk mengikat. Hal ini beralasan, karena daun tumbuhan ini dahulunya sering dijadikan sebagai pengikat. Serat daunnya panjang, mengkilap, kuat, elastistis dan tidak merapuh meskipun terkena air. Karena keunggulan sifat-sifat serat daun sansevieria digunakan sebagai bahan baku pakaian. Beberapa negara seperti Cina, dan Selandia Baru membudidayakan sansevieria sebagai bahan baku serat pada industri tekstil. Jenis yang biasa ditanam untuk keperluan ini di antaranya Sansevieria cylindrica ‘aethiopica’, Sansevieria kirkii ‘perinii’, Sansevieria trifasciata ‘lorentii mein liebling’, dan Sansevieria zeylanica.

b. Obat Tradisional

Di daerah Afrika, sansevieria telah lama digunakan oleh penduduk lokal sebagai penghalau racun akibat gigitan ular dan serangga. Di beberapa daerah Asia, getah tumbuhan ini digunakan sebagai cairan antiseptik dan daunnya digunakan untuk membalut luka pada tindakan P3K.

Bagi penderita diabetes, daun tanaman ini bisa menjadi obat alternatif. Jenis yang digunakan adalah Sansevieria trifasciata ‘lorenttii’. Cara penggunaaanya, beberapa lembar daun dipotong-potong dan direbus dengan tiga gelas air hingga mendidih dan tersisa satu gelas. Sisa air ini kemudian diminum kepada penderita. Dengan cara yang sama, ramuan ini juga sering digunakan oleh penderita ambeien.

c. Antipolusi

Di dalam tiap helai daun sansevieria terdapat senyawa aktif pregnane glykoside, yaitu zat yang mampu menguraikan zat beracun menjadi senyawa asam organik, gula, dan beberapa senyawa asam amino. Beberapa senyawa beracun yang bisa diuraikan oleh tanaman ini diantaranya kloroform, benzen, xilen, formaldehid, dan triklorotilen. Kloroform adalah senyawa beracun yang menyerang sistem saraf manusia, jantung, hati, paru-paru, dan ginjal, melalui sistem pernafasan dan sirkulasi darah.

Kemampuan sansevieria untuk meymenyerap racun membuatnya akrab dalam penghijauan lingkungan. Di jalur hijau, tanaman ini dimanfaatkan untuk menyerap racun asap buangan kendaraan dari knalpot. Sementara itu sebagai tanaman hias indoor, sansevieria bisa menangani sick building syndrome, yaitu keadaan ruangan yang tidak sehat akibat tingginya konsentrasi gas karbondioksida, zat nikotin dari asap rokok, dan penggunaaanAC dalam ruangan. Satu tanaman sansevieria trifasciata ‘lorentii’ dewasa berdaun 4-5 helai dapat menyegarkan kembali udara dalam ruangan seluas 20m2.

Dengan kemampuan ini pula, ibu rumah tangga yang sering beraktivitas di dapur bisa memetik manfaat dari tanaman sansevieria. Peletakan sansevieria di dapur dapat menyegarkan udara dengan menyerap gas karbondioksida dan monoksida sisa pembakaran dari kompor.

http://duniaflora.com/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=5&infoid=21

ANEKA CARA PERBANYAK SANSEVIERIA

Selama 2 tahun, 4 pot Sansevieria kirkii 3-4 daun koleksi Iwan Hendrayanta di Permata Hijau, Jakarta Barat, bermetamorfosis jadi 400 tanaman baru.

Si lidah mertua tembaga itu dicacah-cacah daunnya membentuk persegi panjang sepanjang 5-7 cm. Lalu ditancap-tancapkan di media pasir hingga mengeluarkan anakan.

Kalau dibiarkan ‘bereproduksi’ alami paling hanya didapat 1-2 anakan per tahun. Maklum kirkii termasuk jenis yang lamban tumbuh. Makanya ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia yang hobiis sansevieria itu mencoba memotong-motong daun kirkii. ‘Setek’ daun itu lantas dibenamkan di media pasir. Hasilnya dari 1 potong daun muncul

2-3 anakan sekaligus dalam hitungan bulan

Cara serupa juga dicoba A. Gembong Kartiko, pekebun di Batu, Jawa Timur. Pemilik Sapta Plant & Pottery itu menyebut cara itu sebagai teknik potong tahu. ‘Daunnya kan dipotong-potong seperti potongan tahu,’ kata Gembong. Caranya, daun kirkii dewasa sepanjang minimal 15 cm dicacah menjadi 5 bagian. Artinya, setiap potong hanya sepanjang 3 cm. Namun, buat pemula pria berambut gondrong itu menyarankan ukuran lebih panjang supaya aman.

Gembong menyemai di media campuran sekam bakar dan pasir malang dengan perbandingan 1:3. Selama 2 minggu cacahan tidak perlu disiram. Memasuki minggu ke-3 baru siram menggunakan larutan mengandung hormon perangsang tumbuh. Sekitar 3-4 bulan kemudian, tunas baru bermunculan. Setelah 6 bulan pascapencacahan, anakan dengan 4 daun siap dijual.

Di Solo, Andy Solviano Fajar, mencoba teknik cacah pada jenis congo. Potongan daun berukuran 3,5 cm x 3,5 cm atau 5 cm x 5 cm ditanam di media pasir malang dan sekam bakar dengan perbandingan sama. Dalam 4 bulan didapat anakan baru.

Pabrik anakan

Keuntungan teknik cacah, anakan dihasilkan terus-menerus. ‘Anakan hasil perbanyakan dengan cacah bisa langsung jadi indukan begitu daunnya dewasa,’ kata Iwan. Penggemar encephalarthos itu menyebutnya perbanyakan dari daun ke daun. Karena setiap daun baru potensial jadi indukan untuk perbanyakan berikut, anakan pun seperti tak ada habis-habisnya.

Namun, tidak semua lidah mertua bisa diduplikasi dengan cara cacah daun. ‘Sansevieria bermotif belang, terutama hijau kuning atau hijau putih, tidak bisa diperbanyak dengan memotong daun,’ ujar Iwan. Risikonya, anakan yang dihasilkan berbeda dengan indukan. Bila tunas muncul dari bagian berwarna hijau, individu baru yang muncul juga hijau.

Risiko busuk lumayan besar, 50%. Penyebab utama, serangan cendawan dan bakteri lantaran pisau tidak steril, bagian luka tidak terlindung fungisida dan bakterisida, serta media terlalu lembap karena air siraman menggenang. Kendala lain, akar lambat tumbuh sehingga pertumbuhan anakan pun terhambat.

Untuk mempercepat akar tumbuh, Andy membungkus bagian bawah cacahan daun dengan tisu. Posisi cacahan tidak ditanam, tapi dibaringkan di atas media. Lalu disiram secara terus-menerus selama 1 bulan dengan larutan perangsang akar. Setelah akar keluar, baru ditanam di media campuran pasir malang dan sekam bakar. Jika ingin memacu tunas lebih cepat tumbuh dan bongsor, sungkup dengan plastik bening. Pertumbuhan daun baru 2 kali lebih bongsor dibanding tanpa sungkup.

(TRUBUS, dari judul asli: “Potong Tahu Sansevieria Tembaga”/ Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana)

PILIH SANSE SESUAI KEBUTUHAN

Ragam sansevieria yang mencapai ratusan varian dengan bermacam-macam tingkatan harga membuat para calon pembeli bisa memilih jenis mana yang akan dibeli sesuai dengan tujuannya. Tulisan ini mungkin bisa dijadikan semacam panduan.
 
 
Ragam sansevieria yang mencapai ratusan varian dengan bermacam-macam tingkatan harga membuat para calon pembeli bisa leluasa untuk memilih jenis mana yang akan dibeli sesuai dengan tujuannya.

Bagi para hobiis yang memelihara untuk sekedar koleksi di rumah, yang paling tepat adalah memilih jenis-jenis sansevieria yang langka atau unik. Biasanya sansevieria jenis ini tergolong mahal.Yang masuk katagori ini antara lain, Giant Varigata (kuning) atau Masoniana milik Agung WS Garden Yogyakarta yang harganya tembus Rp 60 juta rupiah.

Namun meskipun eksklusif, jangan harap bila diikutkan kontes di kelas bebas (non unik) pasti akan menang, karena kesehatan mempunyai presentase paling tinggi 35% sedangkan kelangkaan hanya 10%.

Bagi yang suka kontes tentu harus mencari jenis sansevieria yang kondisinya sehat, serta punya performance bagus dan didukung karakter tanaman yang juga bagus. Tentu akan lebih sempurna lagi jika sansevieria itu termasuk langka, karena akan menambah poin.

Berdasarkan pengalaman, sansevieria yang sering menang kontes adalah jenis Pingucula, Kirkii Brown, Patens (Fischeri), Concina dan beberapa jenis lain yang langka tapi memiliki kesehatan yang prima.

Berbeda lagi jika kita ingin memanfaatkannya untuk keperluan rental atau ditempatkan sebagai penghias ruangan, harus disesuaikan dengan jenis dan ukurannya.

Untuk ruangan besar sebaiknhya pilih sansevieria yang memiliki postur tinggi atau besar seperti Autralian Black, Liliantrue, Masoniana, atau Tiger.

Untuk ruangan sempit atau diletakkan di atas meja, pilih jenis-jenis sansevieria kecil, seperti Moonshine, atau Superba China.

Sedang untuk taman di luar rumah bisa pilih sansevieria yang harganya lebih murah. Sebaiknya tetap disesuaikan dengan luas halaman yang akan ditanami sansevieria.

Harga sansivera kini cukup beragam dari yang hanya Rp 3000,- sampai yang puluhan juta.***
(Sutejo/ Tabloid Agro Community)

Sansevieria Tampil Eksotis di Atas Batu

Andi Solviano Fajar kerap terlihat mendatangkan bongkahan batu bahan patung ke kebunnya. Pemain tanaman hias kawakan di Karanganyar, Jawa Tengah, itu beralih profesi? Tidak. Ia membutuhkan batu-batu itu untuk hunian lidah mertua.

Pada 1990-an Andi memanfaatkan batu-batu itu untuk kreasi bonsai dan suiseki. Lalu ketika adenium tren pada 2000-an ia juga menggunakan batu sebagai ornamennya. Kini giliran lidah mertua yang dipadukan dengan batu agar terlihat lebih cantik.

Saat Trubus bertandang ke kebunnya di Desa Krician, Kabupaten Karanganyar, tampak S. trifasciata ‘bantel’s sensation’ berdiri anggun di tengah-tengah sebongkah batu berwarna cokelat muda berdiametar 15 cm. S. trifasciata hahnii ‘jade’ pun ‘ditumbuhkan’ di atas batu dan ditempatkan dalam pot keramik bermedia pasir malang dan arang sekam.
Calcedone

Batu dipilih Andi untuk media tumbuh sansevieria agar terlihat alami layaknya kebiasaan hidup beberapa jenis sansevieria yang epifit di batu atau batang tanaman. Kesan alami itu jauh lebih menonjol daripada ditanam dalam pot. Batu yang digunakan jenis calcedone. ‘Itu jenis batuan alam dengan tingkat kekerasan 3-4 scalemol,’ ungkap Bambang Tri Kusmandono Raharjo, pematung di Tulungagung yang sering memasok batu untuk Andi. Itu penting, karena jika tekstur batu terlalu keras sulit dilubangi. Terlalu rapuh pun tidak baik lantaran gampang pecah dan tak tahan lama.

Selain kekerasannya pas, calcedone juga dipilih lantaran corak dan warna abstraknya menawan. Pantas, jenis batuan itu biasa dipakai sebagai bahan patung, perhiasan, sampai furniture. Marmer dan onyx, dua varian calcedone yang banyak dijumpai di alam. Kusmandono menyebutkan daerah Kuningan, Jawa Barat, Nganjuk, Jawa Tengah, dan pesisir antara Tulungagung sampai Wonosari jadi gudang batuan itu.

‘Untuk tanaman, biasanya saya carikan batu utuh, bukan berbentuk bongkahan yang diambil dari gunung,’ kata pria yang bermain suiseki sejak 1990. Itu agar terkesan alami, bukan pahatan. Ukurannya bervariasi, mulai dari hanya sekepalan tangan, sampai sebongkah dengan lebar lebih dari 30 cm.

Andi tak mengerjakan sendiri, pembuatan lubang untuk memasukkan akar tanaman diserahkan pada Kusmandono. Musababnya, selain butuh bor khusus, juga perlu ketelitian. Setiap batu dibuat satu atau lebih lubang tanam, tergantung ukuran. Lubang itu tembus dari satu sisi ke sisi lain. Maksudnya, agar akar bisa keluar dan mengisap nutrisi yang ada di media dalam pot. ‘Batu hanya sebagai pijakan saja,’ kata Andi.

Jika batu yang digunakan besar-akar sansevieria tidak tembus ke sisi lubang bawah-harus diisikan media tanam. Dengan begitu akar lama kelamaan tumbuh memanjang dan mampu mencapai media dalam pot. Oleh karena itu media dalam potlah yang menentukan tumbuh subur tidaknya tanaman, bukan batu.

Media yang biasa digunakan Andi adalah campuran arang sekam dan pasir malang. ‘Sebelum akar menjangkau media, tanaman tetap disiram dengan menyiramkan air perlahan-lahan ke dalam lubang,’ imbuh ayah satu anak itu. Itu rupanya yang membuat sansevieria dalam batu milik Andi tetap bongsor.
Kerdil

Nun di Malang, Jawa Timur, Agus Gembong Kartiko-hobiis sansevieria di Malang- melakukan hal serupa. Hanya saja jenis batu dan cara tanamnya berbeda. Pria yang gemar mengenakan kaos putih

dan celana hitam itu memilih batuan vulkanik asal Blitar, Jawa Timur. Tekstur batuan ini remah, sehingga perlu hati-hati saat melubanginya. Namun, justru karena remah itulah ia mampu menyerap air dan menyimpannya untuk keperluan tanaman. Makanya, Gembong tidak meletakkan batu itu di atas media seperti yang dilakukan Andi.

Lubang tidak ditembuskan hingga bagian bawah, tapi cukup sedalam 5 cm- tergantung ukuran batu dan rimpang. Paling hanya dibuat lubang kecil di bagian bawah sebagai jalan keluarnya air yang berlebihan. Media yang tersedia hanya terbatas pada yang diisikan ke lubang tanam. Konsekuensinya, tanaman tumbuh lambat. ‘Tapi justru itulah yang diinginkan,’ tutur Gembong.

Menurut pria kelahiran Malang 49 tahun lalu itu, sansevieria yang tetap kerdil justru unik. Buktinya setiap bulan tidak kurang dari 50 pot habis terjual. Harganya pun jelas lebih tinggi, karena tanaman jadi lebih berkarakter. Andi menjual S. trifasciata hahnii dalam batu Rp100.000. Artinya 5 kali lipat dibandingkan yang ditanam dalam pot. Sansevieria terpasung dalam batu bukan kutukan, tapi sentuhan seni untuk tingkatkan pamor lidah mertua. (Nesia Artdiyasa)

Dari : trubus-online.co.id

PENANAMAN SANSEVIERIA

Sansevieria memiliki rentang toleransi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan. Sifat ini sangat menguntungkan pada proses budi daya dan penyebarannya.

Daya tahan sansevieria yang cukup kuat dan rentang toleransinya yang cukup tinggi terhadap kondisi lingkungan yang kurang mendukung menjadi faktor yang menguntungkan dalam penanamannya. Sansevieria memungkinkan ditanam dalam berbagai kondisi lingkungan, mulai di dalam ruangan, lahan terbuka, sampai penanaman denagn sistem hidroponik. Setiap lingkungan tumbuh tersebut tentunya memiliki kareteristik yang berbeda-beda. Karenanya, cara penanaman maupun perawatannya tidaklah sama.

A. Penanaman di Pot

Penanaman sanseveiria di dalam pot biasanya ditujukan untuk penghias ruangan(indoor plant). Meskipun demikian, tidak sedkit juga sansevieria dalam pot ditempatkan di luar ruangan, misalnya di beranda rumah.

a. Pemilihan Media Tanam

Pada dasarnya sansevieria membutuhkan media tanam yang porous, bertekstur kasar, dan mengandung sedikit bahan organik. Hal ini sangat penting mengingat tanaman sansevieria tidak menghendaki kondisi media yang terlalu lembap. Media tanam yang porous menjamin tersedianya oksigen bagi akar tanaman. Porositas yang tinggi juga menunjukkan drainase yang baik. Dengan demikian, media tidak akan menyimpan air terlalu banyak. Kandungan air yang tinggi pada media tanam bisa menyebabkan akar membusuk

Keasaman(pH) media tanam yang ideal untuk sansevieria adalah 5,5-7,5. Meskipun demikian tanaman ini bisa bertoleransi pada rentang pH 4,5-8,5. Pada kondisi asam, penyerapan hara nitrat dan fosfor akan terhambat. Kondisi asam juga mendorong bebasnya besi dan almunium yang jutru merupakan racun bagi tanaman. Selain itu, media tanam yang terlalu asam merupakan tempat yang ideal bagi pertumbuhan pathogen. Akibatnya, tanaman menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur seprti busuk rimpang dan busuk daun.

Jika pH terlalu rendah, media memerlukan penambahan kalsium karbonat(CaCO3) atau kapur. Dalam hal ini, unsur yang berperan dalam menaikan pH adalah kalsium. Sebaliknya, jika media terlalu basa, kita bsia menambahkan sulfur untuk menurunkan nilai pH. Selain itu, sulfur juga termasuk salah satu unsur yang dibutuhkan tanaman meskipun dalam jumlah sedikit.

Jenis media tanam yang biasa digunakan di antaranya tanah, pasir, pupuk organik, bahan organik, dan bantuan.

1. Tanah adalah jenis media yang lazim digunakan untuk tanaman. Sebaiknya tanah untuk sansevieria bukan jenis tanah liat karena porositasnya kecil. Jenis tanah berporositas tinggi diantaranya adalah tanah merah(latosol). Selain itu, penggunaan tanah sebagai media tanam sansevieria dapat menyediakan beberapa unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman.
2. Pasirsangat bagus digunakan sebagai media tanam sansevieria, terutama yang ditempatkan dalam ruangan. Selain porositasnya tinggi, pasir mempunyai kapasitas tukar kation yang rendah sehingga sangat lambat dalam melepaskan unsur hara. Jenis pasir yang umum digunakan adalah pasir malang.
3. Bahan Organik Sumber bahan organik bisa berupa sekam mentah, sekam bakar, cocopeat,d an cacahan akar pakis. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang tidak banyak, bahan ini berfungsi untuk memperbaiki tingkat aerasi media tanam. Di samping itu, penggunaan arang sekam dapat menyediakan unsur kalium bagi tanaman.
4. Arang paling baik untuk campuran media tanam sansevieria adalah arang batok kelapa. Arang ini memiliki tekstur yang lebih halus dan tidak mudah lapuk sehingga bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.
5. Pupuk Organik bisa berupa pupuk kandang, misalnya kotoran kambing dan kotoran sapi. Pupuk kandang yang akan digunakan harus yang sduah matang. Bahan ini mengandung unsur N, P, K, yang berguna bagi tanaman.
6. Batuan umumnya digunakan untuk melapisi permukaan media tanaman besih. Batuan yang umum digunakan adalah zeolit, kerikil, dan batu kali. Batuan ini sebernanya juga bisa digantikan denagn pecahan bata merah. Selain sebagai elelmen dekoratif, batuan ini bisa menjaga kelembapan dan menstabilkan keasaman media tanam karean mengandung kalsium. Selain itu, batuan di permukaan media bisa menghambat pertumbuhan gulma. Pecahan bata merah bahkan bsia mengikat air sehingga juga sangat cocok untuk penanaman sistem hidroponik.

Bebagai macam media tersebut umumnya digunakan dalam bentuk campuran. Komposisi campuran bahan-bahan tersebutr berbeda-beda, tergantung pada ketersediaan bahan dan kondisi lingkungan. Berikut komposisi dari campuran media tanam yang digunakan

Tabel 1. Komposisi campuran media tanam

Jenis
Pasir
Tanah
Bahan Plastik
Pupuk Plastik
Arang
Komposisi A
1
-
1
1
-
Komposisi B
2
1
1
1
-
Komposisi C
3
-
1
1
-
Komposisi D
2
2
-
1
-
Komposisi E
2
2
-
1
0.5

a. Pemilihan Pot

Terdapat beberapa jenis pot yang bisa digunakan untuk menanam sansevieria. Kita bisa memilih pot yang terbuat dari tanah, keramik, semen, maupun pot yang bahan dasarnya plastik. Ukuran pot pun bervariasi. Kita bisa memilih jenis dan ukuran pot berdasarkan pertimbangan berikut.

 

 

1 Pilih pot yang sesuai dengan tempat peletakan pot dan yang terlihat serasi dengan jensi sansevieria yang ditanam
2. Pot yang terbuat dari tanah liat dan semen bersifat porus sehingga air bisa menguap dari permukaannya. Konsekuensinya, kandungan air media cepat habis sehingga perlu penyiraman lebih sering. Namun, tanah liat bersifat mudah ditembus(permeable) oleh udara, sehingga ketersediaan oksigen bagi akar tanaman lebih terjamin
3. Pot dari keramik atau plasitk bersifat tidak meloloskan air, sehingga kelembapan media akan bertahan dalam waktu lebih lama

http://duniaflora.com/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=5&infoid=22

RAGAM SANSEVIERIA

A.Asal Keragaman Sansevieria
Pada penamaan sansevieria biasanya dicantumkan nama species, kemudian diikuti dengan nama varietas atau kultivarnya. Nama varietas atau varian ditulis dengan menyertakan tulisan “var.”, sedangkan kutivar biasanya ditulis dalam tanda petik (‘… ‘). Nama kultivar bisa berasal dari nama daerah, julukan tertentu, atau berdasarkan nama orang yang berhasil menghasilkan kultivar tersebut. Misalnya, Sansevieria trifasciata ‘lorentii’.

Sansevieria trifasciata ‘lorentii‘ –> genus –> Spesies –> Kultivar

Hingga saat ini, sedikitnya telah ditemukan sekitar 60 spesies sansevieria dengan 800 varietas dan kultivar. Kultivar sansevieria bisa terbentuk secara alami maupun dengan rekayasa manusia. Jumlah kultivar yang ada hingga saat ini akan terus bertambah mengingat semakin banyak dilakukannya proses hibridasi dan mutasi. Tidak mustahil pula sudah ditemukan lagi spoesies baru di alam

a.
Hibridisasi merupakan proses perkawinan silang antar kultivar atau subspesies, antar spesies, antargenus, atau anatarfamili. Keturunan yang dihasilkan disebut hybrid atau hibrida. Sifat hibrida berbeda dengan tanaman induk, bahkan bisa menjadi spesies atau kultivar baru. Hibridisasi bisa terjadi secara alami maupun buatan. Hibridisasi alami bisa terjadi denagn bantuan angin atau serangga. Sementara itu, hibridisasi buatan dilakukan oleh para breeder atau pemulia tanaman.
b.

Mutasi Sansevieria sangat mudah mengalami mutasi. Pasalnya, tanaman ini memiliki gen yang tidak stabil. Terutama pada sansevieria trifasciata. Pada sansevieria, mutasi sering disebut dengan ‘chimera’. Perubahan yang terjadi menyangkut warna daun, corak warna daun, atau bnetuk daun. Anakan tanaman yang mengalami mutasi, sama halnya dengan hibrida, bisa menjadi kultivar atau spesies baru. Mutasi pada sansevieria bisa bersifat sementara, bisa juga permanen.

1. Mutasi Sementara
Tanaman yang mengalami mutasi sementara akan kembali seperti asalnya jika mendapat perlakuan tertentu. Mutasi ini diantaranya disebabkan oleh beberapa hal berikut.

-
Perbanyakan sansevieria melalui stek daun.
contohnya, hasil stek daun sansevieria ‘hahnii’ bisa jadi sansevieria ‘golden ‘hahnii’. Namun, setek daun ‘sansevieria golden ‘hahnii’ akan menjadi sansevieria ‘hahnii’ kembali.
-
Perubahan perlakuan pearawatan.
Misalnya, pemberian pupuk organik cair secara berlebihan dapat menyebabkan perubahan bentuk daun sementara. Setalah pemberain pupuk dihentikan, sansevieria tersebut akan kembali ke bentuk semula.

Jangan Pisahkan Anakan Albino dari Induknya

Pada beberapa kasus, tanaman yang bermutasi akan menghasilkan tunas anakan yang seluruh daunnya berwarna kuning atau keputih-putihan. Sansevieria seperti ini tentu sangat menarik. Namun, ada hal penting yang harus diperhatikan ketika menemukan anakan yang sama sekali tidak memiliki hijau daun seperti ini. Anakan ini tidak boleh dipisahkan dari induknya. Pasalnya, anakan albino ini tidak bisa berfotosintesis sendiri dan hanya mengandalkan kehidupan dari induknya. Jika dipisahkan, dalam waktu 1-2 bulan dipastikan tanaman akan mati. Peringatan ini juga penting untuk Anda yang akan membeli sansevieria. Jangan sampai Anda membeli sansevieria albino tanpa induknya, karena dipastikan tidak akan bertahan lama.

2. Mutasi Permanen
Dampak perubahan pada sansevieria yang mengalami mutasi permanen bersifat tetap. Mutasi permanen diantaranya dapat diupayakan dengan perlakuan berikut.

-
Penyinaran dengan sinar ultarviolet, sinar X, atau sinar gamma.Penyinaran ini dilakukan untuk mengubah susunan kromosom dalam gen tanaman. Misalnya dengan cara memotong rantai kromosom, menambah komponen kromosom, atau mengurangi komponen kromosom. Ketika susunan kromosom tanaman berubah, maka selsecara keseluruhan akan berubah. Perubahan ini diturunkan kepada anakan yang dihasilkan dari pemisahan rimpang, setek pucuk, atau setek rimpang. Namun, mutasi ini tidak dijamin diturunkan kepada anakan yang berasal dari hasil setek daun atau persilangan.
-
Pemberian kolkisin(colchicines).
Kolkisin merupakan hasil ekstrasi dari umbi dan biji tanaman autumncrocus (colchicum autmnale) yang berasal dari Eropa. Senyawa bsa denagn rumus kimia C22H25O6N ini merupakan senyawa alkoid yang mudah larut dalam air. Kolkisin bekerja dengan cara mencegah pembelahan kromosom saat terjadi pembelahan sel. Dengan demikian, jumlah kromosom dalam sel menjadi berlipat. Pada sansevieria, ada beberapa teknik pemberian kolkisin yang sering dilakukan. Di antaranya, dengan menyemprot ke titik tumbuh secara berulang, merendam biji, atau merendam daun yang akan disetek denagn konsentarasi yang berbeda-beda. Namun perlu diingat, penggunaan kolkisin harus dilakukan secara hati-hati, karena berbahaya jika mengenai tangan kita.

http://duniaflora.com/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=5&infoid=20

MENGENAL SANSEVIERIA

Pada zaman dahulu, orang memanfatkan daun sansevieria sebagai penghasil serat, yakni untuk membuat tali anyaman, jangkar kapal dan kain. Namun sejak awal abad ke-19, sansevieria dianggap sebagai komoditas tanaman hias yang penting di dunia. Bentuk dan corak daunnya yang indah dan sangat beragam ternyata mampu memikat hati para penggemar tanaman hias.

Sansevieria adalah tumbuhan yang tumbuh menahun (perennial). Meskipun bukan tanaman asli Indonesia, sansevieria ini telah ada sejak puluhan tahun lalu. Pada awalnya, sansevieria yang dikenal secara luas adalah jenis ‘ceylon bowstring hemp’ (sansevieria trifasciata ‘lorentii mein liebling’), yang banyak menghasilkan serat rami. Mengingat kualitas serat yang baik, maka tumbuhan ini dibudidayakan.

Saat ini sansevieria telah berkembang menjadi komoditas yanng sangat penting dalam bisnis tanaman hias dunia. Sejak abad ke-19, sekitar tahun 1920-an tanamn sansevieria sudah menjadi komoditas dagang di Amerika, terutama di Florida. Di sana sansevieria populer sabagai indoor plant. Sekitar 1930-an, demam sansevieria mewabah ke benua Eropa.

 

A. Klasifikasi Tanaman

Sansevieria mempunyai banyak nama. “Lidah mertua (mother-in law tongue)” merupakan julukan yang kerap diberikan pada tanaman tak berdahan ini. Ada juga yang menamainya “tanaman pedang-pedangan” karena bentuk daunnya yang runcing menyerupai pedang. Beberapa yang lain menyebutnya “tanaman ular” (snake plant) karena pada beberapa jenis coraknya menyerupai sisik ular.

Para ahli biologi menjuluki tanaman sansevieria sebagai tanaman perintis karena mampu hidup di tempat yang tidak bisa di tumbuhi tanamn lain. Julukan-julukan lainnya adalah “century plant”, “lucky plant”, “the devil luck”, “judas sward”, dan “african’s devil”. Nama “sansevieria merupakan bahasa latin untuk genus yang terdiri dari beragam spesies.

Dalam ilmu taksonomi yang membagi makhluk hidup ke dalam lima kerajaan (Kingdom), tanaman sansevieria diklasifikasikan ke dalam famili Agavaceae (century plant) yang umumnya mempunyai daun berdaging tebal dan banyak mengandung air.

Klasifikasi sansevieria secara lengkap sebagai berikut.

Level Hirarki
Latin
Indonesia
Kingdom
Plantae
Tumbuhan
Subkingdom
Tracheobionta
Tumbuhan berpembuluh
Superdivisi
Sprematophyta
Tumbuhan berbiji
Divisi
Magnoliopyhta
Tumbuhan berbunga
Kelas
Liliopsida
Monokotil (berbiji tunggal)
Subkelas
Liliidae
-
Ordo
Liliales
-
Famili
Agavaceae
-
Genus
Sansevieria Thunb.
Sansevieria
Spesies
Misa,Sansevieria trifasciata, Sansevieria cylindrica, dan Sansevieria kirkii
-

 

B. Mengenal Bagian-bagian Tanamn Sansevieria

a. Akar

Lazimnya tumbuhan berbiji tunggal (monokotil), akar sansevieria berbentuk serabut. Akar berwarna putih ini tumbuh dari bagian pangkal daun dan menyebar ke segala arah di dalam tanah

b. Rimpang (Rhizoma)

Selain terdapat akar juga terdapat organ yang menyerupai batang, orang menyebut organ ini sebagai rimpang atau rhizoma yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sari-sari makanan hasil fotosintesis. Rimpang juga berperan dalam perkembang biakan.Rimpang menjalar di bawah dan kadang-kadang di atas permukaan tanah. Ujung organ ini merupakan jaringan meristem yang selalu tumbuh memanjang.

c. Daun

Tanaman sansevieria mudah dikenal dari daunnya yang tebal dan banyak mengandung air (fleshy dan succulent) sehingga dengan struktur daun seperti ini membuat sansevieria tahan terhadap kekeringan. Pasalnya, proses penguapan air dan laju transpirasi dapat ditekan. Daun tumbuh di sekeliling batang semu di atas permukaan tanah. Bentuk daun penjang dan meruncing pada bagian ujungnya. Tulang daun sejajar. Pada beberapa jenis terdapat duri.

d. Bunga

Bunga sansevieria terdapat dalam malai yang tumbuh tegak dari pangkal batang. Bunga sansevieria termasuk bunga berumah dua, putik dan serbuk sari tidak berada dalam satu kuntum bunga. Bunga yang memiliki putik disebut bunga betina, sedangkan yang memiliki serbuk sari disebut bunga jantan. Bunga ini mengeluarkan aroma wangi, terutama pada malam hari.

e. Biji

Biji dihasilkan dari pembuahan serbuk sari pada kepala putik. Biji memilki peran penting dalam perkembangbiakan tanaman. Biji sansevieria berkeping tunggal seperti tumbuhan monokotil lainnya. Bagian paling luar dari biji berupa kulit tebal yang berfungsi sebagai lapisan pelindung. Di sebalah dalm kulit terdapat embrio yang merupakan bakal calon tanaman.

 

C. Lingkungan Tumbuh Sansevieria

a. Suhu Lingkungan

Di habitat aslinya, sansevieria terbiasa dengan perbedaan suhu yang ekstrem. Pada siang hari suhunya sangat tinggi, bisa mencapai 55?C. Sebaliknya pada malam hari suhu turun hingga di bawah 10?C. Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman ini adalah 24-29?C pada siang hari dan 18-21?C pada malam hari.

Suhu udara sangat erat kaitannya dengan laju penguapan dari jaringan tumbuhan ke udara. Semakin tinggi suhu udara, maka laju transpirasi akan semakin tinggi. Jika suhu berada di bawah batas toleransi, kegiatan metabolisme tumbuhan akan terganggu atau malah terhenti.

b. Curah Hujan dan Kelembapan Udara

Daerah gurun yang merupakan asal sansevieria umumnya curah hujan rendah dengan jumlah bulan hujan sangat singkat. Curah hujan biasanya tidak lebih dari 250mm/tahun. Ditambah dengan suhu siang hari yang sangat panas menyebabkan daerah ini sangat kering. Pasalnya, penguapan lebih tinggi daripada curah hujan. Hal inilah yang menyebabkan tanaman ini tahan hidup di lingkungan dengan kelembapan yang sangat rendah.

c. Cahaya

Semua tumbuhan hijau membutuhkan cahaya matahari untuk mensintesis makanan. Sansevieria membutuhkan cahaya matahari yang cukup (1.000-10.000 fc) untuk menjamin pertumbuhan yang baik. Meskipun di habitat aslinya tumbuhan ini hidup dengan cahaya matahari yang berlimpah, sansevieria mempunyai toleransi yang tinggi terhadap lingkungan yang kekurangan cahaya. Tanaman ini akan melambat pertumbuhannya jika diletakkan di ruangan dengan pencahayaan kurang dari 15fc.

Ada dua jenis sansevieria berdasarkan kebutuhannya terhadap cahaya matahari. Pertama, jenis sansevieria yang membutuhkan cahaya matahari penuh atau full sun. Misalanya, Sansevieria cylindrica, Sansevieria liberica, Sansevieria trifaciata. Kedua, jenis sansevieria yang menghendaki cahaya matahari yang tidak langsung atau tipe shade. Tanaman ini tumbuh baik di tempat yang ternaungi. Sansevieria yang masuk dalam katagori ini umumnya berdaun kuning, misalnya Sansevieria hyacinthoides dan jenis ‘hahnii’.

d. Kondisi Tanah

Tanah gunrun sangat porus. Butirannya banyak mengandung pori-pori udara dan mudah sekali meloloskan air. Umumnya, tanah di lingkungan tersebut didominasi oleh tanah pasir dengan campuran jenis lain. Oleh karena itu, akar tanaman sansevieria sangat membutuhkan tanah yang tidak terlalu lembab dan beraerasi baik.

 

D. Kegunaan Sansevieria

a. Bahan Serat

Salah satu nama yang diberikan kepada sansevieria adalah “bowstringhemp” yang berarti serat yang digunakan untuk mengikat. Hal ini beralasan, karena daun tumbuhan ini dahulunya sering dijadikan sebagai pengikat. Serat daunnya panjang, mengkilap, kuat, elastistis dan tidak merapuh meskipun terkena air. Karena keunggulan sifat-sifat serat daun sansevieria digunakan sebagai bahan baku pakaian. Beberapa negara seperti Cina, dan Selandia Baru membudidayakan sansevieria sebagai bahan baku serat pada industri tekstil. Jenis yang biasa ditanam untuk keperluan ini di antaranya Sansevieria cylindrica ‘aethiopica’, Sansevieria kirkii ‘perinii’, Sansevieria trifasciata ‘lorentii mein liebling’, dan Sansevieria zeylanica.

b. Obat Tradisional

Di daerah Afrika, sansevieria telah lama digunakan oleh penduduk lokal sebagai penghalau racun akibat gigitan ular dan serangga. Di beberapa daerah Asia, getah tumbuhan ini digunakan sebagai cairan antiseptik dan daunnya digunakan untuk membalut luka pada tindakan P3K.

Bagi penderita diabetes, daun tanaman ini bisa menjadi obat alternatif. Jenis yang digunakan adalah Sansevieria trifasciata ‘lorenttii’. Cara penggunaaanya, beberapa lembar daun dipotong-potong dan direbus dengan tiga gelas air hingga mendidih dan tersisa satu gelas. Sisa air ini kemudian diminum kepada penderita. Dengan cara yang sama, ramuan ini juga sering digunakan oleh penderita ambeien.

c. Antipolusi

Di dalam tiap helai daun sansevieria terdapat senyawa aktif pregnane glykoside, yaitu zat yang mampu menguraikan zat beracun menjadi senyawa asam organik, gula, dan beberapa senyawa asam amino. Beberapa senyawa beracun yang bisa diuraikan oleh tanaman ini diantaranya kloroform, benzen, xilen, formaldehid, dan triklorotilen. Kloroform adalah senyawa beracun yang menyerang sistem saraf manusia, jantung, hati, paru-paru, dan ginjal, melalui sistem pernafasan dan sirkulasi darah.

Kemampuan sansevieria untuk meymenyerap racun membuatnya akrab dalam penghijauan lingkungan. Di jalur hijau, tanaman ini dimanfaatkan untuk menyerap racun asap buangan kendaraan dari knalpot. Sementara itu sebagai tanaman hias indoor, sansevieria bisa menangani sick building syndrome, yaitu keadaan ruangan yang tidak sehat akibat tingginya konsentrasi gas karbondioksida, zat nikotin dari asap rokok, dan penggunaaanAC dalam ruangan. Satu tanaman sansevieria trifasciata ‘lorentii’ dewasa berdaun 4-5 helai dapat menyegarkan kembali udara dalam ruangan seluas 20m2.

Dengan kemampuan ini pula, ibu rumah tangga yang sering beraktivitas di dapur bisa memetik manfaat dari tanaman sansevieria. Peletakan sansevieria di dapur dapat menyegarkan udara dengan menyerap gas karbondioksida dan monoksida sisa pembakaran dari kompor.

http://duniaflora.com/mod.php?mod=informasi&op=viewinfo&intypeid=5&infoid=21

CARA ATASI MUSUH BESAR SANSEVIERIA

Pada dasarnya tidak terlalu banyak hama dan penyakit yang menyerang sansevieria. Namun demikian beberapa hama dan patogen penyebab penyakit sering mengganggu pertumbuhan tanaman ini. Hama pada sansevieria umumnya dari jenis serangga yang merusak tanaman. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah jamur dan bakteri.

Hama
Siput

Siput yang telanjang atau yang berumah akan menyerang bagian daun, bahkan akar tanaman. Gejalanya mudah dikenali, karena tampak adanya bekas gigitan pada daun dan kotoran yang berserakan di sekitar tanaman. Siput aktif menyerang sansevieria pada malam hari. “Pada umumnya, pemberantasan hama ini bisa dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengambil dan membuang siput yang umumnya berada di bagian bawah daun. Akan tetapi, bila serangannya cukup hebat, dapat digunakan melusida Metaphar atau Moluskil dengan dosis sesuai anjuran,” ujar Syaichul.

Thrips
Selain siput, hama jenis thrips juga sering menyebabkan kerusakan yang parah. Hama jenis ini menghisap cairan tanaman, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Di Indoensia, thrips yang menyerang biasanya dari jenis Herciotrips Feronalis. Hama ini biasanya akan menyerang pada musim kemarau. Thrips dapat diberantas dengan Kelthane, Tracer, atau Supracide dengan dosis sesuai anjuran.

Penyakit
Penyakit yang menyerang sansevieria umumnya merupakan gangguan yang diakibatkan oleh adanya patogen atau jasad renik yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Busuk lunak (becterial stem rot)
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Erwinia Carotovora yang menyerang daun atau akar tanaman, terutama menginfeksi melalui luka yang menganga. Daun atau akar yang terserang tampak berwarna kecoklat-coklatan dan terasa lunak bila dipegang, berlendir, serta berbau tidak enak, dan lama kelamaan akan berubah seperti bubur.

Penyakit ini muncul apabila kondisi tanaman lembab akibat hujan yang terus menerus dan kurang cahaya. Patogen ini cepat menyebar melalui perantara air, serangga, tangan, alat pertanian, ataupun pakaian pekerja.

Cara mengatasi serangan patogen ini adalah dengan memangkas bagian yang terkena serangan dan mengolesinya dengan Na-hipoklorit (Clorox), serta membakar bagian yang terkena serangan. Sementara, untuk mencegah serangan bagian lainnya digunakan bakterisida Agrept sesuai dosis anjuran.

Busuk akar
Busuk akar disebabkan oleh jamur Aspergillus niger. Jamur ini muncul apabila kondisi media tumbuh terlalu basah. Apabila jamur ini telah menyerang, satu-satunya cara agar serangan tidak meluas adalah sebagai berikut :

Angkat tanaman dan potong akar yang busuk. Akan terlihat kumpulan spora jamur yang berwarna coklat kehitam-hitaman.

Cuci perakaran sampai bersih dan rendam sebentar dalam larutan fungisida (misalnya : Aliette dengan dosis sesuai anjuran dan labelnya).

Tanaman dalam media baru.
Bakar media yang lama, karena telah tercemar spora jamur.

Bercak daun
Gejala serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium Moniliforme ini khas sekali, yaitu munculnya warna ungu kemerah-merahan pada daun yang terserang. Selanjutnya, bercak kemerah-merahan akan melebar dan membentuk luka. Pemupukan nitrogen yang terlalu tinggi akan memacu serangan fusarium ini.

Untuk mencegah meluasnya serangan, lakukan langkah-langkah berikut :

Mula-mula, keluarkan tanaman dari pot dan buang bagian yang sakit.

Selanjutnya, tanam dalam media baru dan semprot dengan fungisida misalnya: Benlate, Dithane, atau Antracol dengan dosis sesuai label.

Cara pengendalian Hama & Penyakit Sansevieria

Pengendalian mekanis
Pengendalian secara mekanis dilakukan apabila serangan hama masih dalam jumlah terbatas. Misalnya, siput dapat diambil dengan tangan dan dibunuh. Demikian juga dengan kutu yang terdapat pada bagian daun dapat didorong dengan kuku dan dibunuh. Semut-semut yang tidak terlalu banyak pun dapat diambil secara manual dengan tangan.

Sanitasi
Menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu cara untuk menangkal serangan hama dan penyakit. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman merupakan tempat persembunyian yang disukai hama dan patogen penyebab penyakit. Dengan membersihkan kebun secara rutin, hama tidak mempunyai kesempatan untuk bersembunyi. Selain itu, kebun yang bersih akan sedap dipandang dan merupakan lingkungan kerja yang baik.

Kultur teknis
Pemeliharaan tanaman yang baik dapat meningkatkan kesehatan tanaman. Penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta penggantian media tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Secara tidak langsung, kultur teknis yang baik dapat memantau keberadaan hama dan penyakit secara dini.

Pengendalian Kimiawi
Apabila serangan hama dan penyakit telah berada di ambang batas atau mencapai 10%, pengendalian secara kimiawi merupakan pilihan. Akan tetapi, pemakaian bahan kimia secara berlebihan akan membawa dampak negatif bagi lingkungan. Untuk itulah penggunaanya harus terkontrol. [adi]

(Sumber: Tabloid Galery, http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/09/18/bolpho-pyllom/)