Tips Bisnis Tanaman Hias

Penyewaan Tanaman Hias, Bisnis yang Menggiurkan

Posted on

Liputan6.com, Jakarta: Kesibukan tinggi masyarakat perkotaan nyatanya membuka berbagai kesempatan usaha. Di antaranya, bisnis penyewaan tanaman hias untuk perkantoran yang hingga saat ini adalah bisnis yang menjanjikan. Namun, pengelolaan bisnis ini sebenarnya tak sesederhana yang dibayangkan orang. Tanaman, yang dipilih tak hanya indah, sejuk dipandang mata, dan juga minim perawatan, juga harus tersedia berbagai ukuran. Untuk hiasan meja hingga yang besar untuk penghias pintu utama gedung. Ini seperti yang dilakukan Maria Nurani yang menjalankan bisnis ini sejak 2003.

Maria menuturkan, usahanya ini berawal dari hobinya memelihara tanaman hias. Seiring itu, Maria mengaku menerima pesanan untuk merangkai bunga, menjual tanaman, dan bunga hingga pada akhirnya memberanikan diri untuk merambah ke usaha penyewaan tanaman hias.

Dalam menjalankan bisnisnya, Maria menjelaskan ada berbagai sistem. Ada sistem rental untuk kantor dan hotel yang biasanya pakai kontrak minimal tiga bulan dengan minimal 10 tanaman. Perumahan juga sekarang banyak yang rental tanaman, terutama untuk ekspatriat. Selama kontrak itu, mereka akan mengganti tanaman dua pekan sekali. “Tanaman yang lama ditarik, kita ganti yang baru,” ujar Maria.

Maria menambahkan, harga sewa tanaman yang ditawarkan juga cukup beragam. Mulai harga sewa per tanaman dari Rp 30 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Koleksi tanaman hias dan bunga yang ditawarkan juga cukup beragam. Di antaranya Brumelia, Drasena, Palem Bambu, Pandan Bali, dan Angrek.

Andreas Oei adalah sosok lain yang menjalankan bisnis ini sejak 10 tahun silam. Dibantu 20 orang karyawan, Andreas mampu memberikan benefit yang maksimal kepada 300 pelanggannya. Pasalnya, sejak awal bisnisnya menerapkan strategi khusus dalam pemilihan jenis tanaman agar memberikan benefit yang maksimal. Begitu juga dengan harga sewa dan sistem pemeliharaan, Andreas mengaku, memberikan masa pemulihan bagi tanaman setiap dua pekan sekali, yaitu dicuci dan penggantian media tanam.

Eksistensi usaha yang dijalankan Maria dan Andreas sesungguhnya tak lepas dari kiat-kiat usaha yang mereka tempuh. Di antaranya, harus menepati waktu pengiriman, memiliki keragaman jenis tanaman serta tanggap dalam merespons keluhan pelanggan. Sebagai sarana pelanggan berinteraksi, para pengusaha penyewaan taman ini juga memiliki website khusus yang bisa diakses tiap waktu. Pada masa mendatang, mereka optimistis secara konsisten menambah jumlah koleksi tanamannya sehingga mampu memenuhi setiap pesanan yang datang.(ORS/Tim Usaha Anda)

http://www.liputan6.com/lainlain/?id=119148

Bisnis tanaman hias tak lagi dianggap sebelah mata

Posted on

Bisnis tanaman hias tak lagi dianggap sebelah mata. Para hobiis bisa merogoh kocek ratusan juta hingga miliaran untuk sebuah tanaman.

Rifyanto,salah satu pedagang di pameran Flora Fauna Jakarta 2007, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tak ragu untuk menjual sebuah tanaman jenis anthurium seharga Rp20 juta. Dia bahkan memiliki jenis lain yang mencapai Rp1,4 miliar.

Apabila dilihat dari bentuknya, sulit mempercayai tanaman itu berharga miliaran. Alih-alih memperlihatkan bunga yang cantik,anthurium hanya didominasi daun-daun lebar seperti bakau atau sayuran sawi. Bagi hobiis,dedaunan itulah yang melambangkan kegagahan dengan garis-garis bertekstur tegas.Tidak hanya daun, tunas anthurium adalah lumbung emas.

Bayangkan, harga sebuah tunas bisa mencapai Rp500 ribu. Apa sebenarnya yang membuat tanaman ini mahal? Menurut Dani, penjual anthurium di Flora Fauna Jakarta 2007, tanaman tersebut termasuk langka. Apalagi, anthurium juga susah dibudidayakan.

”Meski tak membutuhkan perawatan rumit, tanaman ini tidak bisa dibudidaya melalui kultur jaringan.Bibitnya pun masih sulit didapat. Sebagian masih didatangkan dari Solo,” katanya. Sebagian penjual lainnya berpendapat karena ulah kolektor serta pebisnis tanaman hias.

”Harganya melonjak karena tanaman ini banyak dicari orang. Pedagang berduit biasanya membeli dalam jumlah borongan, sehingga stok dipasaran sedikit. Mereka kemudian menjual koleksinya itu dengan harga yang sangat mahal,” ucapnya. Faktor lain pendongkrak harga tanaman ini adalah pameran. Saat penjual mengikuti pameran, mereka akan menaikkan harga tanaman hingga menarik perhatian pengunjung.

Harga yang ditawarkan para penjual memang fantastis. Semua tanaman anthurium dari jenis jenmanii ataupun hookeri dijual di atas Rp1,5 juta.Banyak juga yang menembus angka Rp20 juta. Tahun ini boleh jadi tahunnya anthurium. Tapi ini bukan yang pertama. Pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa jenis tanaman lain tak kalah populer.Dan tentu saja,harganya juga selangit.Sebut saja aglaonema dan adenium.

Di Indonesia, aglaonema lebih dikenal dengan sebutan sri rejeki atau chinese evergreen. Genus aglaonema terdiri dari 30 spesies. Aglaonema memiliki tingkatan harga yang bervariasi. Mulai Rp1.500 per daun untuk jenis donacarmen, hingga Rp5 juta per daun (jenis Tiara). Setiap tanaman bisa berupa bibit dengan satu atau dua daun, hingga yang berdaun cukup banyak.

Tiara, misalnya, sempat membuat sensasi dengan harga jual mencapai nilai Rp5 juta per daun. Hingga kini, aglaonema kreasi Gregorius Hambali ini masih diminati oleh para hobiis dan kolektor tanaman karena warnanya yang indah. Satu tanaman dengan tujuh tunas muda yang dipisahkan menjadi bibit bisa terjual hingga Rp30 juta. Sejak kemunculannya, tiara telah menaikan harga aglaonema lain.

Seiring dengan terkenalnya aglaonema, demam adenium juga mulai merebak. Tanaman yang dikenal dengan sebutan kamboja jepang ini menarik perhatian karena bunga dan bonggolnya yang mampu membesar seperti bonsai. Bagian akar tanaman itu juga termasuk bagian yang disukai.Bagian akar ini dapat menggembung dan berbentuk unik.

Mulai dari tangan, telapak kaki, hingga paha. Harganya pun semakin mahal. Harga tanaman dengan bonggol yang sudah jadi beserta rimbunnya bunga bisa mencapai jutaan rupiah. Di sebuah pameran adenium dalam sebuah pot dengan akar menggelembung dan bunga rapat ditawarkan Rp.30 juta. (wahyu/CR-13/CR-08)

Sumber: Koran Sindo

Aspeni Keluarkan Direktori Tanaman Hias

Posted on Updated on

Untuk format buku akan mengambil contoh seperti halnya buku telepon, sehingga mempermudah pencarian. Iklan juga akan masuk di dalamnya. Untuk terbitan pertama akan dicetak sekitar 500 buah,” kata Retna.
Distribusi akan diberikan gratis, karena biaya oprasional dan cetak diambilkan dari iklan dan donasi penggemar flora. Untuk lokasinya, direktori ini akan ada di lokasi-lokasi yang dibutuhkan, seperti perpustakaan, dinas-dinas, komunitas tanaman hias, dan para pengusaha.
 
Penuhi Permintaan Petani dan Eksportir
Penghobi tanaman hias sering bingung, kemana mereka akan menjual koleksinya. Begitu juga dengan para buyer dari luar negeri yang sering keliru dan bertanya kemana mereka mencari tanaman hias. Dari situ, jelas para pebisnis dan penghobi bingung, karena tak ada daftar khusus mengenai kebutuhan yang mereka cari.
Direktori adalah satu solusi tepat yang memberikan semua kebutuhan tentang tanaman hias, baik untuk menjual maupun membeli yang segera dirilis oleh Asosiasi Pengusaha dan Petani Flora Indonesia (Aspeni) Jatim. Di situ, akan diberikan tentang daftar pedagang tanaman hias yang dipisahkan berdasarkan jenis dan lokasi.
Sekretaris Aspeni Jatim dan Ketua Tim Direktori – Ir Dwie Retna Suryaningsih, mengaku sejak dulu Jatim cukup menonjol sebagai sumber budidaya tanaman hias. Para pelaku industri yang ada di dalamnya, baik pengusaha, pedagang maupun petaninya, dinilai mempunyai kualitas dan kuantitas memadai. Bahkan nilai estetika dan seni juga banyak hadir pada produk yang ditawarkan.
“Kita bahkan sudah mampu melakukan ekspor dan itu membuktikan kualitas tanaman tak kalah dengan produksi negara lain,” imbuh Retna.
Hanya dalam realisasinya di lapangan, ternyata banyak kebingungan yang muncul dari berbagai organisasi flora saat pembeli dari luar negeri datang. Sebab, tak ada daftar khusus yang memuat keberadaan produk tanaman hias bisa dibeli. Akibatnya, banyak pesanan tak bisa dipenuhi, terutama dari jumlah yang diinginkan.
“Kami akhirnya sepakat untuk menerbitkan direktori sebagai panduan. Buku ini bisa jadi yang pertama di Indonesia, selain yang sudah dikeluarkan oleh Dinas Pertanian pusat, tapi sifatnya masih sangat umum,” ujar Retna. “Keputusan ini dilakukan dari beberapa pertemuan yang cukup a lot, terutama untuk menentukan klasifikasi tanaman dan pelaku di dalamnya,” lanjutnya.
Direktori yang tebalnya direncanakan sekitar 100 halaman ini akan menggunakan kertas ukuran A5. Komposisinya diisi 50% database tanaman hias, termasuk nama, alamat, dan spesialisasi dari grower atau petani. Sementara 25% diisi oleh pedagang, 10% dari pengusaha sarana dan produksi. Sisanya terdiri dari jasa-jasa lain terkait.
“Jumlah itu belum pasti, karena data yang masuk masih harus diverifikasi. Untuk format buku akan mengambil contoh seperti halnya buku telepon, sehingga mempermudah pencarian. Iklan juga akan masuk di dalamnya. Untuk terbitan pertama akan dicetak sekitar 500 buah,” kata Retna.
Distribusi akan diberikan gratis, karena biaya oprasional dan cetak diambilkan dari iklan dan donasi penggemar flora. Untuk lokasinya, direktori ini akan ada di lokasi-lokasi yang dibutuhkan, seperti perpustakaan, dinas-dinas, komunitas tanaman hias, dan para pengusaha. Target jangka pendek yang diinginkan adalah pembentukan jaringan dari pelaku tanaman hias.
Sebab, saat ini sebagian besar pedagang dan petani tanaman hias berasal dari sektor UKM (Usaha Kecil Menengah) yang kesulitan mengembangkan pasar, sehingga dari buku ini diharapkan bisa jadi satu panduan untuk melakukan pengembangan usaha.
Toga Sirait, Ketua Gabungan Pedagang Tanaman Hias Kayoon Surabaya, menyambut positif dengan keluarnya direktori tentang tanaman hias. Sebab, saat ini pendataan dari Dinas Pertanian masih menitik-beratkan pada pertanian tanaman pangan. Sedangkan di sektor florikultura masih sedikit.
“Kapasitas kami sudah termasuk dalam UKM yang berpotensi dan mampu ekspor. Munculnya direktori ini akan mempermudah pengusaha untuk melakukan strategi bisnis dan mapping,” ungkap Toga. [wo2k]

Dari : tabloidgallery.wordpress.com

MENDIRIKAN NURSERY ?

Posted on

Seseorang dari Kalimantan mengirim sebuah email yang terasa aneh bagi saya, beliau bercerita bahwa usahanya dibidang kontraktor mengalami pailit dan rasanya sulit sekali untuk bangkit dan berhasil dibidang yang sama. Beliau mengatakan bahwa di Indonesia khususnya Kalimantan sekarang ini mulai ramai dunia tanaman hias, dan beliau merasa bahwa bisnis ini menjanjikan dan menguntungkan ( Anthurium ternyata sangat menggoda siapapun… ). Beliau bertanya bagaimana cara mendirikan nursery ? apa yang harus dilakukan dan di persiapkan ? Sedangkan saya sama sekali tidak tahu ilmu di bidang tanaman…

Email tersebut sudah saya balas, dan setelah saya berpikir kenapa tidak saya posting di blog ini ? Mungkin bisa bermanfaat bagi pengunjung lain yang juga mencintai atau hobby tanaman hias. Ini hanya pemikiran saja, kalau mungkin terasa menggurui saya mohon maaf, dan pasti masih banyak kekurangan pada pemikiran saya.

Beberapa hal yang harus di perhatikan dalam persiapan mendirikan nursery sbb :

1. Mencintai Tanaman
Menurut saya, inilah faktor yang paling penting ! Mengapa? Dengan anda mencintai tanaman otomatis anda lebih bisa memahami keindahan, daya tarik, dan karakter tanaman tersebut, anda juga akan lebih peka jika tanaman anda mengalami gangguan atau penyakit. Anda tidak punya latar belakang ilmu tanaman? Kenapa bingung? Seperti yang pernah saya sampaikan prinsip dasar berwirausaha “Kalau ingin makan sate kambing, tidak perlu beli kambingnya kan?” Ya, anda bisa bertanya, survey, mencari informasi dll, atau kalau anda ingin cepat carilah orang yang punya latar belakang pendidikan di bidang budidaya tanaman, rangkul dia menjadi rekan bisnis anda atau mungkin pegawai di nursery anda? Atau tempat konsultasi sewaktu-waktu ( freelance? ) Masih banyak langkah yang bisa ditempuh.

2. Kemampuan Manajerial dan Market Analist
Sebuah Nursery tak berbeda dengan perusahaan profesional di bidang lain, ada langkah pengembangan menyangkut manajemen, pemasaran, cabang, promo, iklan dan masih banyak lagi. Disinilah kemampuan manajerial diperlukan karena banyak faktor yang harus dilakukan dalam pengembangan nursery, Analisa pasar dengan sendirinya bisa diasah dengan proses jam terbang dan pengalaman, kapan harus menjual, kapan harus menahan, apa yang harus dipersiapkan untuk naik turunnya trend suatu tanaman dan sebagainya.

3. Lahan yang cukup untuk Green House
Anda harus punya lahan yang cukup luas untuk mendirikan green house, letak dan lingkungan juga harus diperhatikan karena Greenhouse yang ideal memerlukan Suhu, Kelembaban, Sirkulasi udara dan tentunya lebih baik kalau tempat anda strategis dan jauh dari sumber polusi yang merugikan tanaman.

4. Jangan takut dengan Kompetitor yang lebih besar
Menjual tanaman hias tentu lain dengan anda menjual sembako, tanaman satu dengan yang lain tidak mungkin sama persis pasti punya keindahan dan kelebihan tersendiri, Kalau masalah persaingan harga dan pelayanan konsumen, bisa dipelajari dari berbagai usaha jual beli yang lain karena prinsipnya sama. Yang penting raihlah kepercayaan dan kepuasan konsumen.

5. Memperkuat Jaringan
Jaringan disini yang dimaksud adalah komunitas, paguyuban,organisasi atau wadah yang lain yang tentu saja sangat penting sekali untuk tukar informasi, promosi, saling bantu dalam hal penyediaan barang, dan masih banyak lagi. Kompetitor tidak selamanya menjadi “musuh” yang merugikan. Ingat, sesuatu akan kelihatan bagus kalau ada sesuatu yang lain dibandingkan dan terlihat lebih jelek ! Selama persaingan sehat dan sportif mengapa tidak?

6. Mental dan Ketekunan
Mungkin hal ini tidak perlu saya uraikan panjang lebar karena pasti anda sudah tahu. Ya, jangan pernah takut rugi dan tetap tenang ketika pasar tidak menguntungkan buat anda.

Semoga bisa dijadikan masukan bagi para pencinta tanaman hias dan ingin mengembangkan diri di bisnis ini, Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dan hal yang kurang berkenan.
http://dk-breakthrough.blogspot.com/2008/01/mendirikan-nursery.html

TANAMAN HIAS SUDAH MENJADI GAYA HIDUP KELAS MENENGAH KE ATAS?

Posted on

Berkat aglo dan anthurium, gengsi tanaman hias dan penjualnya kini semakin mentereng. Konsumen juga tumbuh dari kelas menengah ke atas. Sayangnya, masih dinodai oleh nafsu investasi dan spekulasi. So what?

 

 
 
Dunia tanaman hias di Indonesia sungguh bergairah, ini tercermin dari kegiatan pameran yang begitu sering sampai di kota-kota kecil seperti Bantul, Muntilan, Tomohon. Pameran, fiesta, expo atau parade tanaman hias makin kerap digelar di bangunan mal di kota besar. Ajang tanaman hias juga mengambil tempat di kampus dan sekolah. Sejauh ini yang paling baik adalah acara tahunan Flora Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta.

Tanaman hias sudah menjadi ciri dari gaya hidup masyarakat kelas menengah dan atas. Di kota-kota besar, warga yang tinggal di perumahan maupun apartemen, dan bekerja di gedung perkantoran punya pemandangan hijau di sekitarnya yang dipancarkan oleh tropical green leaf , tanaman hias tropis. Tanaman hias adalah ornamen kehidupan sehari-hari manusia. Ia menjadi peneduh temperatur alam maupun jiwa. Menjadi peredam kebisingan, penghalang angin, pelengkap arsitektur, kreasi seni, menjadi hantaran. Di Amerika, gardening adalah kegiatan waktu luang paling populer.

Di banyak negara, ribuan jenis pepohonan, besar dan kecil, tanaman hias, bunga-bunga, sampai pun pada rumput yang bergoyang, menjadi andalan bisnis besar pariwisata yang dikemas dengan beragam tema. Ada botanical gardens, historic gardens, national parks . Atau tulip festivals, rainforests walk dan lain-lain. Singapura yang berhutan beton, toh bisa menjual tropical forest , Belanda yang “negeri secuil”, punya Keukenhof yang dicintai dunia.

Di Indonesia (imbasnya bisa sampai ke Thailand) belakangan ini, para juragan bunga dan tanaman pot, serta kolektor tanaman eksotis, tengah terserang mabuk asmara. Bukan oleh makin berkobarnya gairah cinta puspa, hobi atau koleksi, tapi oleh nafsu investasi dan spekulasi, untuk meraup gain melalui pencitraan, branding , adu gengsi, desas-desus, dan kalau perlu pengelabuan. Mendadak mewabah “demam anthurium”. Mendadak orang bisa beli mobil berkat anthurium. Mendadak pengusaha mengubah nurserinya, yang tadinya anggrek, ke anthurium. Ini sebenarnya bagian dari permainan pemburu rente dan pemegang uang panas, yang tiada passion samasekali terhadap tanaman.

Kita jangan terkesima oleh dadakan seperti itu, yang memang konsekuensi dari trend-setting yang bisa dibikin-bikin setiap musim, kendati untuk anthurium agak liar juntrungannya. Namun ada baiknya kita mengambil hikmah dari test-case si raja daun ini, yakni selera akan tanaman hias semakin meluas, dan dengan nilai yang semakin membubung pula. Dengan itu pula kita menarik agribisnis ini dengan derap yang lebih konsisten, strategis, berlanjut. Sebenarnya, tanpa disadari strategi “desa kepung kota” telah terbangun di sini. Petani atau pekebun bergiat di desa-desa dan secara berkala masuk ke kota dan menduduki alun-alun atau balairung, memamerkan hasil bumi mereka.

Kini juga semakin banyak kios tanaman hias di pusat-pusat perbelanjaan kota. Kita pun kerap melihat ibu-ibu atau bapak-bapak memarkir sedan di tepi jalan untuk mendatangi lapak dagangan tanaman hias. Pameran dan pengembangan nurseri sudah saling mengisi untuk menanggapi pasar tanaman hias yang makin membesar. Untuk membuat pasar lebih kumandang, pameran harus lebih sering digelar. Baiknya para pemangku kepentingannya duduk bersama menyusun agenda yang terangkai dan merata, dari suatu pameran ke pameran lainnya, dari suatu daerah ke daerah lainnya. Rangkaian itu rapat dan penuh untuk sepanjang tahun.

Juga setiap provinsi, kabupaten atau kota dibangkitkan kebanggaan dan semangat juangnya melalui penetapan bunga atau tanaman khas setempat sebagai floral emblem/ bunga resmi. RI sendiri, bertepatan dengan Hari Lingkungan 5 Juni 1990, mengadopsi sampai tiga bunga sebagai bunga Negara ( state flower ), yakni: Melati (Jasmine-Jasminum sambac), Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), dan Rafflesia (Rafflesia arnoldi). Harap diketahui bunga nasional Amerika Serikat, yakni mawar, ditetapkan melalui undang-undang oleh Kongres.

Anjuran penting lainnya, Indonesia perlu memiliki taman nasional bunga. Kita punya botanical garden , taman safari, taman margasatwa, taman nasional, taman laut, hutan raya. Harus pula dibangun taman raya khusus bunga dan tanaman hias tropis, satu di Indonesia bagian barat, satunya lagi di Indonesia bagian timur.

Daud Sinjal/ Tajuk Agrina 23 November 2007. Judul asli: Tanaman Hias, Ornamen Kehidupan Manusia

Diambil dari langitlangit.com

Ekspor Tanaman Hias

Posted on

Ekspor menjadi andalan devisa negara saat ini. Semua pihak dianjurkan untuk melakukan eskpor, termasuk juga sektor tanaman hias dan produk-produk hortikultura lainnya

Ekspor Tanaman Hias

Ekspor menjadi andalan devisa negara saat ini. Semua pihak dianjurkan untuk melakukan eskpor, termasuk juga sektor tanaman hias dan produk-produk hortikultura lainnya, seperti yang telah dilakukan oleh Grup Bapak Sadino (Kemfarm), Bapak Theo (Saung Mirwan), Ciputri dan Hasfarm. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melakukannya. Apalagi komoditas hortikultura yang banyak menghadapi kendala yang cukup kompleks.

Bapak Benny Tjia dalam pengantarnya di bulletin FFI (No. 8, 2002) mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi dalam melakukan kegiatan ekspor tanaman hias. Pertama, untuk melancarkan dan meningkatkan komoditas ekspor dalam bidang hortikultura dan tanamn hias diperlukan hal-hal yang dapat mendukung usaha tersebut, yaitu dengan bantuan dan tindak lanjut dari instansi pemerintah dan badan lainnya yang berkaitan dengan hal ini. Sebagai contoh, sampai saat ini masalah CITES tidak pernah dituntaskan, demikian juga masalah karantina.

Selain itu, dengan adanya otonomi daerah, pemungutan restribusi dan biaya-biaya lainnya mulai merajalela. Restribusi di pinggir jalan, restribusi masuk bandara, restribusi menurunkan barang-barang, belum lagi dengan adanya peraturan baru pungutan jasa bongkar serta pungutan-pungutan lainnya. Jalan-jalan sekunder yang sangat jarang bahkan tidak diperbaiki menyebabkan semakin tingginya biaya pemeliharaan sarana angkutan.

Diungkapkan juga permasalahan biaya air freight dari Indonesia oleh pihak penerbangan manapun memiliki tarif tertingi di Kawasan Pasifik ini. Maskapai penerbangan pemerintah (Garuda) juga tidak memberikan keringanan untuk membantu eksportir tanaman hias dan komoditas hortikultura lainnya disebabkan kuantitasnya tidak banyak dan mungkin juga ketidakkontinyuan komoditas.

Hal penting lainnya yang disoroti adalah masalah sumber daya manusia. Dapat dikatakan usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia tidak ada.

Memang tampaknya sekali lagi faktor kebijakan pemerintah sangat diperlukan dalam pengembangan tanaman hias dan komoditas hortikultura lainnya. Tanpa adanya usaha-usaha serta tindak lanjut dari pemerintah cita-cita untuk ekspor hanyalah menjadi slogan semata.

(Dikutip dari Bulletin Forum Florikultura Indonesia, No. 8 edisi Januari, Februari, Maret 2002)
Sumber: Bulletin FFI

Semerbak Bisnis Bunga

Posted on

Beberapa tahun belakangan ini, tren tanaman hias berganti-ganti dan orang-orang berduit tak segan mengeluarkan uang miliaran rupiah demi memburu tanaman primadona. Masyarakat umum pun ikut-ikutan menginvestasikan uang yang pas-pasan demi mimpi meraup untung besar. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Cobalah berkunjung ke Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak memasuki kawasan Jaten, yang berbatasan dengan Kota Solo, kita langsung menghirup aroma anturium, tanaman yang jadi tren ini. Ratusan kebun tanaman hias memenuhi kiri-kanan jalan raya. Tiba di kawasan Karangpandan, Tawangmangu, dan Ngargoyoso, kebun bunga makin berjubel di mana-mana. Penduduk membangun kotak-kotak di depan rumah sebagai semacam “etalase” untuk memajang tanaman.

Tren anturium juga merasuki wilayah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, dan meluas lagi sampai Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Papua. Pameran, kontes, dan media hobi kerap menampilkan tanaman ini sebagai primadona. Selain jenmanii, jenis lain juga banyak dicari, seperti black beauty, hokeri, gelombang cinta, dan garuda.

Yang sangat fenomenal, tentulah rekor harga yang gila-gilaan. Awal tahun 2006, indukan anturium jenmanii masih berharga Rp 1.000.000 per pot. Tapi, baru-baru ini, satu pohon anturium jenis jenmanii hasil silangan baru di Kudus, Jawa Tengah, dikabarkan mencapai harga Rp 1,25 miliar. Biji-biji jenmanii yang baru dipanen pun laku Rp 250.000 per buah.

Meski tak seheboh anturium, aglaonema juga sempat booming beberapa tahun lalu. Saat itu, masyarakat juga getol memburu berbagai jenis tanaman dengan daun berbintik-bintik ini, terutama jenis pride sumatera, hot lady, dan widuri. Tren memuncak saat aglaonema harlequin hasil silangan Greg Hambali terjual seharga Rp 660 juta pada lelang terbatas pertengahan tahun 2006.

Sebelum itu, adenium-lah yang jadi raja tanaman hias. Sejak tahun 2002, masyarakat menguber berbagai jenis adenium dengan bunga berwarna-warni, seperti crimson star, arabicum, dan herry potter. Tahun 2005, tanaman asal Afrika ini pernah mencapai rekor harga sekitar Rp 100 juta.

Kenapa bisnis tanaman hias diwarnai harga yang gila-gilaan? Situasi itu terjadi karena stok tanaman hias tertentu memang yang terbatas, padahal kebutuhan pasar tinggi. Tetapi, itu juga bisa dipengaruhi spekulasi para pemain baru yang terjun dalam bisnis ini.

Tips Belanja Tanaman Hias Online

Posted on

Dunia maya memang mempesona. Tinggal “klik”, Anda sudah dapat berjuta informasi. Parahnya, kecanggihan teknologi internet ini juga banyak dimanfaatkan sebagai ladang bisnis, tak terkecuali bisnis tanaman hias on line. Namun Anda jangan terkecoh, karena banyak penipuan di bisnis ini.

Bisnis tanaman hias di Tanah Air memang sedang booming. Banyak nurseri bermunculan, mulai dari pedesaan hingga perkotaan. Ditambah, berbagai even tanaman hias marak digelar di berbagai daerah, membuat masyarakat akhirnya ‘terkontaminasi’ dengan hobi tanaman hias.

Bahkan kecanggihan teknologi pun dimanfaatkan oleh beberapa pelaku bisnis tanaman hias untuk menawarkan barang dagangannya secara on line. Dengan janji bla, bla, dan bla, akhirnya bisnis ini pun mencuat ke permukaan menyaingi bisnis nurseri. Bila diamati di beberapa website bisnis tanaman hias on line, koleksi tanaman hias yang ditawarkan pun bervariasi. Ada anthurium seharga ratusan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah, mulai bibitan, anakan hingga indukan. Ada adenium, sansevieria, euphorbia, anggrek, bonsai, pachypodium, stroberi, durian, dan masih banyak lagi.

Pebisnis on line balekembang.blogspot.com, Gusniar alias Bebenbegaul, mengatakan bisnis on line banyak untungnya. Salah satunya adalah bisnis on line tak perlu sewa tempat untuk membangun nurseri, untuk pembayaran websitenya hanya mengeluarkan sekitar Rp 1 juta setiap bulannya, dan tak perlu tempat luas untuk menata tanaman hias.

Beben mengaku, sudah tiga tahun lalu menekuni bisnis ini. Selama ini, konsumen yang sering ia tangani kebanyakan datang dari Banjarmasin, Lombok, Aceh, Palembang, Bekasi, dan Bandung.

“Kami melayani pemesanan secara grosir dan eceran. Hanya kesulitan kami adalah ketika ada konsumen yang komplain, karena pengiriman barang terlambat datang ke kotanya,” ujar Beben. “Pengiriman kan lewat jasa kurir atau distribusi. Jadi, kita tak tahu kendala yang janjinya on time, tapi ternyata molor dari hari yang ditentukan. Klaim dari konsumen masalah keterlambatan di luar jangkauan kita, karena menyangkut kondisi tanaman di tempat konsumen,” lanjutnya.

Komplain itu menurutnya wajar, karena biaya pengiriman barang ditanggung pembeli. Apabila ada konsumen yang memesan barangnya hanya satu jenis, ia pun tetap melayani, selama harga yang ditawarkan disetujui pembeli. Namun pembeli sebelumnya diberi pengertian bila sampai di lokasi barangnya ada kerusakan, itu karena biasanya ada spek khusus, namanya kirim jauh, barang darinya bagus, tapi kalau di kargonya dibanting-banting, maka pembeli tak boleh komplain. Jadi, tentunya konsumen sudah tahu resikonya.

“Bila dihitung-hitung, bisnis on line dengan nurseri keuntungannya hampir sama. On line kan hanya mempermudah sarana komunikasi dengan konsumen atau calon konsumen,” kata Beben.

Hindari Penipuan

Fenomena maraknya bisnis ini, membuat beberapa orang berpikir jahat, dengan membuat website palsu untuk menipu konsumen. Beben punya trik khusus untuk mengantisipasi hal ini, yaitu cek keberadaan nurserinya, agar kita tahu seperti apa kondisi nurseri dan produk tanamannya.

Sementara Ahita Teguh Susilo dari petanibunga.com mengatakan, konsumen sebaiknya jangan mudah terpesona dengan kehebatan atau kecanggihan websitenya. Itu bisa mengecoh. Lokasi penjual juga tak kalah penting. Jangan hanya karena harga barang yang ditawarkan murah atau penjualnya ramah, Anda melupakan domisilinya.

Website bagus, tak identik dengan bisa dipercaya. Siapa pun bisa membuat website bagus. Paling membuat aman, jika si penjual tanaman ada di internet itu atau dia punya situs sendiri, seperti http://www, bla, bla.com. Bukan menggunakan situs gratisan, seperti geocities. Sebab, bukan tak mungkin dia tiba-tiba bisa kabur meninggalkan situsnya atau kalaupun tidak, situs itu sendiri bisa saja tiba-tiba hilang (meninggalkan pemiliknya beserta kita), karena diblokir.

Nama, alamat, dan nomer telepon si penjual harus jelas. Nomor ponsel saja masih bisa mengecoh, apalagi jika dia menggunakan ponsel pra bayar. Bayangkan bila baik disengaja maupun tidak, dia tak bisa lagi dihubungi hanya karena katanya dia telah mengganti nomor ponselnya. Paling ideal, dia mencatumkan nomer telepon rumah, kantor atau paling sedikit nomer fax yang tak mudah digonta-ganti nomernya.

Dia harus mudah dihubungi. Sedikitnya dia memiliki beberapa nomer telepon yang bisa dihubungi atau ada alamat email. Syukur-syukur dia juga punya alamat Yahoo Messenger (YM) yang selalu on line. Jika ragu, Anda bisa menelepon atau berkirim SMS dulu. Dari itu, sedikitnya Anda bisa tahu sikap salesmanship dan kadar profesionalitasnya sebelum Anda menyimpulkan dia bisa dipercaya.

Tak kalah penting, si penjual harus memiliki kebun, nurseri, showroom/shop atau sedikitnya punya komoditi yang ditawarkan. Adalah buang waktu saja bila kita berurusan dengan makelar atau calo-calo tanaman. Mereka umumnya petualang. Bagaimana cara mengetahuinya? Anda bisa menyuruh rekan atau kenalan Anda di kota si penjual untuk menyelidikinya.

Lokasi penjual tak kalah penting. Jangan hanya karena harga barang yang ditawarkan murah atau penjualnya ramah, Anda melupakan domisilinya. Kalau si penjual tinggal di pelosok yang jauh dari bandara atau dari pusat keberadaan jasa ekspedisi, bisa dipastikan, tanaman yang bakal Anda terima akan runyam. Jelas tanaman dapat diramalkan akan lama di perjalanan, karena tanaman harus singgah beberapa kali transit. [ary]

Buat Banyak Link

Strategi membuat banyak website untuk memperbanyak pasar dilakukan oleh Teguh sejak tahun 2003. Awalnya ia membuat toekangkeboen.com. Selanjutnya tahun 2005, dibuat toekangboenga.com untuk penjualan adenium dan melepas toekangkeboen.com pada rekan. Sementara untuk produk lainnya, seperti aglaonema, anthurium, dan philodendron dibuka – daoenbagoes.com. Sementara untuk pupuk dikembangkan web baru, yaitu tokopupuk.com.

“Strategi kami boleh membeli dalam bentuk satuan,” tandas Teguh. “Ternyata tanggapannya baik. Sebab, dengan harga Rp 10 ribu pesanan bisa dilayani. Memang kesulitannya tetap pada kepercayaan konsumen untuk membeli secara on line. Namun pembeli yang semula ragu percaya ketika barang pesanan datang,” tambahnya yang juga mengelola petanibunga.com.

Selain itu, strategi yang diambil dengan memasang harga murah. Artinya, margin keuntungan ditekan seminim mungkin. Contohnya, untuk aglonema yang dibeli Rp 150 ribu akan dijual tak lebih dari Rp 170 ribu. Angka ini memang kecil, karena resikonya barang mati tetap ada yang tentunya menurunkan keuntungan.

 

Operasionalnya sendiri saat ini ia sudah mempersiapkan 2 karyawan khusus menerima pesanan dan 3 ponsel untuk menjawab sms atau telepon yang masuk. Namun sayang hingga saat ini pesanan hanya bisa dilayani selama jam kerja. Padahal idealnya, harus siap 24 jam dan itu sedang ia persiapkan ke depannya.

Pengiriman jadi Masalah Utama

Kendala yang muncul untuk bisnis ini adalah proses pengiriman yang sering mengalami masalah. Salah satunya adalah lama pengiriman, terutama untuk wilayah Timur, seperti Papua. Ke Papua bisa 1 minggu baru sampai. Selain itu, brokrasi karantina juga sedikit banyak mempengaruhi, karena harus ada sampel/contoh yang diambil dan itu tentu mengurangi keuntungan.

Dalam kasus yang sama, beberapa pebisnis on line memilih melakukan kerjasama langsung dengan perusahaan kargo, seperti yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan Kandi dari indonursery.com yang mempunyai kebun di Bogor, sehingga proses pengiriman yang dilakukan jauh lebih mudah. Sebab, sudah ada kerjasama dengan pihak pengiriman.

“Sedangkan untuk pembayaran, kami gunakan transfer rekening bank untuk lebih mudahnya,” imbuh Ahmad.

Tren tanaman yang dipesan bervariasi, tapi selama tahun 2007 dominasi pengiriman ada pada jenis adenium di awal tahun. Selanjutnya masuk pertengahan tahun aglaonema mulai banyak dicari dan di akhir tahun anthurium punya volume yang dominan, terutama untuk jenis jenmanii dan gelombang cinta. [wo2k]

http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/03/15/tips-belanja-tanaman-hias-on-line-2/

Tips Memulai Bisnis dari Hobi

Posted on

Hobi adalah cara tepat untuk memulai bisnis. Mengapa? Karena menggabungkan antara kesenangan, minat dan bakat. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa terbebani saat bekerja atau membangun bisnis. Seolah-olah Anda melakukannya sambil bermain. Bukan itu saja, jika itu adalah hobi, maka pasti Anda sudah tahu seluk-beluknya bahkan sampai detil. Misalnya saja Anda hobi merawat tanaman. Pasti Anda tahu di mana mendapatkan bibit yang baik, tempat membeli pupuk, media dan bahan penunjang lainnya dengan harga murah dan cara perawatan dan budidaya tanaman. Mungkin juga Anda sudah bergabung dengan komunitas hobiis yang sama. Ini mempermudah Anda memperoleh informasi dan relasi.

Lalu, bagaimana untuk memulai bisnis dari hobi ini? Sebenarnya hampir sama dengan memulai suatu bisnis baru. Bedanya, Anda sudah punya basis pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang memadai. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan adalah:

1. Tekuni Hobi Anda
‘Practice makes perfect’ . Jika selama ini Anda melakukan hobi karena untuk mengisi waktu luang atau iseng, mulai kini Anda harus tekun berlatih. Jangan lupa praktik langsung dari semua teori yang sudah Anda pelajari. Dengan terus berlatih, kemampuan Anda akan meningkat dan Anda mampu menghasilkan produk terbaik. Ini tentu akan menaikkan nilai jualnya.

2. Tambah pengetahuan Anda
Tidak cukup jika mengandalkan pengalaman. Anda perlu menambah pengetahuan melalui kursus, seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan hobi. Lewat aktivitas semacam itu, Anda akan memperoleh pengetahuan serta sertifikat yang bisa menaikkan personal branding dan prestise. Ini akan menumbuhkan kepercayaan pelanggan. Tak ada salahnya membaca buku, majalah, internet atau media lain untuk meningkatkan pengetahuan Anda. Dengan mengikuti milis (mailling list) sesuai hobi, Anda bahkan bisa memperoleh tambahan wawasan. Bisa jadi malah ketemu ahlinya langsung. Tentunya ini sangat bermanfaat.

3. Belajar dari Ahlinya
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tidak perlu pengalaman itu Anda alami sendiri. Anda bisa menimba pengalaman dari pelaku bisnis yang telah sukses. Misalnya belajar dari pengusaha tanaman hias yang telah sukses. Atau belajar dari dosen peneliti yang mumpuni. Belajar langsung dengan para pakar dan orang yang sukses menjalankan hobi sesuai yang Anda tekuni, akan meningkatkan kemampuan Anda. Ini adalah cara terbaik untuk menghasilkan sebuah produk yang bagus dan kompetitif baik dari segi kualitas maupun harga. Bahkan Anda bisa mengukur kemampuan dan hasil karya Anda.

4. Pasarkan produk Anda
Jika produk Anda sudah siap, segera pasarkan. Untuk tahap awal, bisa ditawarkan ke komunitas yang Anda ikuti. Atau ke lingkungan terdekat seperti tetangga dan saudara. Keuntungannya, Anda bisa meminta masukan tentang produk Anda, dan memperbaikinya sebelum disebarluaskan. Jika respon mereka bagus, Anda bisa mencoba menawarkan ke toko-toko. Hanya saja, beberapa jenis toko hanya mau menerima barang dari suplier tertentu.
Atau kalau tidak, mereka memberikan syarat tertentu, semisal jumlah minimal item barang, kontinuitas pasokan, potongan harga, dll.
Jika produk Anda unik dan tidak pasaran, lebih baik melakukan pemasaran online. Selain murah, Anda bisa menjangkau konsumen yang tepat.

5. Jangan lupa: Promosi!
Pemasaran yang baik perlu ditunjang dengan promosi yang baik pula. Jangan malas untuk mempromosikan produk Anda. Promosi bisa dilakukan dengan banyak cara. Jika ingin gratis, bisa lewat situs iklan gratisan. Atau beriklan di milis-milis. Jika ingin promosi secara personal, bisa dengan membagikan sampel kepada calon pembeli kita. Memberi bonus pada jumlah pembelian tertentu juga bagus untuk promosi. Umumnya bila pelanggan puas, mereka akan bercerita kepada orang lain.

Yang perlu dicatat pula, sebelum benar-benar terjun ke bisnis, Anda tetap perlu melakukan riset pasar dan membuat business plan meskipun secara sederhana. Ini untuk menghindari terbuangnya tenaga, waktu dan biaya. Selain itu, Anda jadi tahu dari beberapa hobi yang Anda punya, hobi mana yang bisa dijadikan usaha. Jadi, sudah siapkah hobi Anda dibisniskan?

Salam sukses!

Dessy Danarti, penulis buku “Dari Hobi menjadi Hoki” (Andi, 2005)

Model Bisnis Tanaman Hias

Posted on

Jual tanaman hias tidak selalu di kakilima atau punya lapak. Banyak model dan caranya. Bahkan dengan menjadi hunter dan makelar pun oke. Pilih saja sesuai kondisi keuangan, kesehatan dan cita-cita Anda sejak kecil. Tentu saja, semua pilihan ada plus-minusnya. Tapi siapa tahu, tulisan ini bisa menerbitkan gagasan baru.

1. Sewa dan buka gerai tanaman hias.
Ini cara paling konvensional. Jual tanaman hias dengan cara menyewa lapak di tempat terbuka.

Kalau Anda punya nyali dan mau sedikit nekad, bisa gunakan lahan kosong milik pengembang yang tidak difungsikan atau lahan kosong milik siapa saja. Cuma konsekuensinya, Anda harus siap-siap dikejar petugas Trantib dan berurusan dengan para preman. Jelas, cara ini tidak dianjurkan.

Yang paling baik, sewa saja secara resmi lapak-lapak di sentra-sentra tanaman hias yang juga resmi. Di Jabodetabek misalnya ada di Ragunan, Jakarta Selatan; Flona Alam Sutera, Serpong Tangerang dan Pusat Tanaman Hias BSD City di Kompleks Taman Tekno.

Sistem sewa biasanya dihitung per bulan atau per tahun di luar beaya kebersihan dan keamanan. Hitungan untuk tahun 2007, rata-rata per tahun antara Rp. 5 sampai 10 juta untuk setiap kapling. Kalau lahan sudah habis di tempat resmi tadi, Anda bisa ‘membeli hak pakai’ pada penyewa lama secara bisik-bisik. Dengan catatan, penyewa lama sudah bosan, tentu saja. Harga beli ‘hak pakai’ juga bervariasi antara Rp. 20 juta sampai Rp. 100 juta per kapling.

Menyewa lapak di sentra penjualan tanaman hias resmi, selain tidak dikejar-kejar petugas Trantib, Anda juga tidak perlu repot-repot promosi. Karena sentra tanaman itu sendiri sudah mampu mengumpulkan pengunjung. Paling tidak, kalau Anda belum punya pelanggan, kalau nasib baik, ada pelanggan tetangga kesasar masuk ke gerai Anda. Yang perlu Anda lakukan tinggal memajang tanaman-tanaman yang bagus, memasang karyawan yang ramah dan membuat gerai Anda menyenangkan.

2. Sewa stand dan buka pameran.
Pameran Tanaman Hias merupakan ajang promosi dan ajang penjualan yang bagus. Pihak penyelenggara melakukan banyak promosi untuk mengudang konsumen datang. Kalau Anda sewa stand dan buka pameran di situ, bukan mustahil gerai Anda dikunjungi orang, dan tanaman Anda dibeli orang.

Sekadar informasi, di Jabodetabek, sewa stand saat ini berkisar antara Rp. 750rb sampai Rp. 3 jt, untuk ukuran gerai 3 x 5 meter, selama pameran berlangsung antara 7 sampai 10 hari.

Di Jakarta ada beberapa event pameran tanaman yang berskala nasional, seperti Pameran Flora Fauna di Lapangan Banteng setiap bulan Agustus, atau pameran-pameran tanaman hias yang diselenggarakan Majalah Trubus. Tapi banyak juga pameran-pameran serupa yang diselenggarakan oleh Pemda, Supermal, atau event organizer, di banyak tempat. Kalau Anda berminat, silakan saja hubungi penyelenggaranya.

Yang perlu Anda lakukan, selain menyiapkan tanaman hias andalan adalah mencetak kartu nama untuk disebar. Jangan lupa cetak nomor telepon Anda jelas-jelas, agar setelah pameran usai, tanaman Anda tetap dibeli orang.

3. Open House.
Open house atau buka nursery di rumah sendiri paling enak. Anda bisa setiap hari menongkrongi, memantau, dan menerima pembeli. Kalau bisnis Anda laku, Anda boleh bilang pada keluarga di rumah yang ikut menyaksikan, bahwa jadi pedagang tanaman hias tidak hina. Cara ini gampang dilakukan bila Anda punya pekarangan atau lahan yang memenuhi persyaratan. Tapi bagi yang tidak punya lahan, bisa bikin dak.

Enaknya, para tetangga yang lewat dan melihat, atau handaitaulan yang kebetulan mampir bisa menjadi pengiklan bisnis Anda. Syukur-syukur mereka juga ikut tergerak untuk membelinya, bukan malah memintanya secara gratis. Jika yang terakhir ini terjadi, jangan sekali-kali Anda mengabulkannya. Lebih baik Anda menjual kepada mereka dengan harga miring atau rugi, daripada memberinya cuma-cuma. Jangan sampai yang kemudian menjadi berita dari mulut ke mulut adalah bahwa tempat Anda adalah tempat yang tepat di mana orang bisa mendapatkan tanaman secara gratisan. Dengan menjual murah atau rugi, sedikitnya, yang akan menjadi berita adalah tempat Anda tempat menjual tanaman dengan harga murah.

Keuntungan lain dengan memilih cara ini, Anda tentu saja tidak perlu buang beaya untuk menyewa lapak. Juga, kalau sedang tidak ada pembeli, Anda bisa menikmati keindahan setiap hari. Kerugiannya: istri, mertua, anak atau cucu Anda bisa terganggu ruang geraknya. Anda juga harus mulai bersiap-siap memiliki rumah seperti hutan belantara. Cara ini juga bisa dilakukan secara luwes. Misalnya, kalau Anda masih ngantor, atau punya usaha lain, Anda bisa hanya open house pada hari Sabtu dan Minggu saja.

4. Nitip teman yang menjual tanaman atau pada penjual tanaman yang Anda kenal.
Ini cara paling aman, terutama jika Anda tergolong hobiis pembosan. Jadi kalau ada tanaman yang Anda anggap sudah menjemukan, Anda bisa mereka untuk memasarkannya. Cara nitip teman juga pas jika Anda tergolong pemalu, atau masih malu-malu menjadi pedagang tanaman hias.

Keuntungannya, rumah Anda nyaman, dan Anda tak perlu mengeluarkan beaya sewa lapak. Jeleknya, kalau tanaman Anda tersia-sia di tempat ‘penitipan’. Bahkan bukan tidak mungkin, orang-orang yang Anda titipi malah men’curi’ tanaman Anda dengan memotong bonggol atau akarnya tanpa Anda ketahui.

5. Menyewa tukang gerobak keliling.
Ini cara paling jitu kalau rumah Anda sempit, dan Anda tidak punya kebun sendiri.

Bikin gerobak dorong, dan panggil para pengangguran yang tinggal di sekitar Anda untuk diajak menjadi pedagang keliling tanaman hias. Suruh mereka masuk ke perumahan-perumahan menjajakan tanaman Anda. Dewasa ini banyak orang senang tanaman hias tapi terlalu sibuk untuk mendatangi nursery. Mereka adalah pasar potensial Anda.

Enaknya, setiap hari Anda menerima setoran dari para penarik gerobak dorong. Kalau setiap gerobak menyetor Anda uang Rp. 1 juta saja sehari, kita sudah bisa bayangkan, betapa indahnya bisnis tanaman hias. Dari sana sekaligus Anda juga bisa mendapat info tanaman apa yang disukai dan mana yang tidak disukai. Yang disukai, segera belanja di tempat penjualan grosir tanaman hias.

Risikonya, kalau penarik gerobak kabur beserta gerobaknya Anda bisa gigit jari. Tapi Anda bisa cegah duluan dengan menyimpan fotokopi KTPnya. Kalau ada apa-apa, tinggal lapor polisi.

6. Jadi Hunter atau Buser
Kalau Anda ingin dapat untung dari berjualan tanaman hias tapi modal cekak atau tidak punya modal sama sekali, cara ini bisa dilakukan. Yaitu dengan menjadi seorang hunter (pemburu) atau buser (buru sergap) tanaman hias. Pada dasarnya hunter maupun buser adalah makelar atau istilah kerennya, brooker. Modalnya, informasi dan sebuah hand phone yang bisa kirim foto melalui MMS (Multimedia Messaging Service). Dengan model bisnis ini, Anda bahkan tidak harus punya tanaman sendiri.

7. Buka kebun khusus sendiri di daerah pinggiran.
Cara ini mungkin termasuk cara paling mahal. Karena kita harus menyewa atau memiliki lahan luas di daerah pinggiran di mana harga atau sewa tanah masih murah. Tapi percayalah, meski di dearah pinggiran sekali pun, kalau koleksi tanaman hias Anda bagus, orang akan tetap memburunya. Bak syair lagu: “Ke gunung kan kudaki, ke laut kan kuseberangi….”

Keuntungannya, Anda bisa memilih konsumen yang datang ke kebun Anda. Kalau Anda sedang capek Anda bisa mengatakan nursery Anda tutup, Anda sedang di luar kota atau alasan-alasan lainnya. Bahkan Anda bisa menyeleksi pembeli Anda. Keuntungan lainnya, kalau orang sudah jauh-jauh datang ke tempat Anda, sudah pasti mereka juga akan berbelanja cukup banyak.

8. Buka kebun, sekaligus buka kedai kopi atau Galeri
Kalau kondisi keuangan memungkinkan, dan lokasi mendukung, selain buka kebun dan jual tanaman, Anda bisa menambah fasilitas lain seperti kafe atau kedai kopi, atau galeri lukisan. Jadi, selain berburu tanaman, pengunjung bisa minum kopi, atau beli lukisan.

Di Bandung ada All About Strawberry. Bapak Ibu beli tanaman strawberry, anak-anak bisa minum juice strawberry. Di Baturaden, Purwokerto ada Puspa Tiara Nursery yang menyediakan bakso dan kopi. Istri beli tanaman, anak-anak makan bakso dan suami bisa ngopi. Semua happy.

9. Menjajakan dengan Sepeda Motor atau Mobil.
Cara bisnis seperti ini boleh dicoba kalau Anda tidak punya lapak. Kita ambil dagangan di tempat kulakan, lalu menjajakan secara keliling dengan sepeda motor, atau mobil. Sasarannya, pedagang-pedagang tanaman hias kaki lima. Atau masuk ke pedagang-pedagang yang sedang buka stand pameran karena terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk kulakan..

Kita bisa jual per lima atau sepuluh pot. Tak usah untung banyak, asal penjualan lancar dan pembayaran bagus, sudah aduhai. Modalnya, cuma tahu tempat kulakan, tahu di mana sasaran kita berada, dan punya sepeda motor atau mobil yang bisa kita pakai. Kalau Anda bisa ngutang dulu di tempat kulakan, lebih asoy. Jadi Anda tak perlu mengeluarkan modal. Tentu saja, Anda harus langsung membayarnya begitu Anda menerima uang.

10. Bikin Website atau Blog
Kalau mau memasarkan tanaman Anda ke pasar lebih luas, Anda bisa bikin website. Di situ Anda bisa pasang foto-foto tanaman di situ, dilengkapi deksripsi dan harganya.

Bikin website tidak mahal. Anda paling cuma harus bayar seorang desainer web, suruh bikin web. Lalu hubungi dan bayar pihak web hosting, agar website Anda bisa disiarkan ke seluruh dunia. Kalau tidak mau repot, buat dan ciptakan blog. Gratis. Anda tidak perlu tahu bahasa html dan memahami aneka script yang rumit. Sudah begitu, Anda bisa kirim dan pasang gambar dengan cuma memencet tombol. Asyiklah.

Keuntungan lain kalau punya website, Anda juga bisa jadi brooker. Tanaman punya teman yang mau dijual difoto, gambarnya pasang di situ. Kalau laku, Anda dapat komisi.

11. Pasang Iklan Baris di Internet
Punya tanaman, tapi tidak punya gerai, atau malu mejeng di pameran, tidak bisa bikin gerobak boro-boro punya website? Gampang saja. Pasang iklan baris di Internet.

Dewasa ini banyak portal-portal tanaman hias yang bersedia memasangkan iklan baris Anda secara gratis. Contohnya, Trubus Online (http://www.trubus-online.com), dan LangitLangit.Com (http://www.langitlangit.com) . Syaratnya cuma satu: Anda tidak gaptek Internet. Kalau cuma tidak punya Internet, gampang, datang saja ke Warnet atau bawa laptop dan bayar voucher sewa hotspot yang banyak dimiliki supermal atau kafe.

Itu sekadar contoh. Sebetulnya kalau kreatif masih banyak cara lagi bisa dilakukan.***

(Dikutip dari buku JURUS SUKSES BISNIS TANAMAN HIAS, karangan Kurniawan Junaedhie, PT Agro Media Pustaka)