Arsip Kategori: Tapak Dara

TAPAK DARA, BUNGA CANTIK PENCEGAH KANKER

22
Tapak Dara
Si Cantik Pencegah Kanker
Penulis: Budi Sutomo


Sosoknya mungil dengan bunga aneka warna, indah sebagai penyemarak taman atau ditanam dalam pot. Kini, tapak dara (Catharanthus roseus/ Vinca rosea) semakin popular. Apalagi beragam penelitian ilmiah mengungkapkan tapak dara dapat mengatasi keluhan pada penderita kanker, leukemia dan diabetes.Bunga tapak dara silih berganti bermekaran sepanjang tahun (perennial). Dulu, bunga ini hanya berwarna ungu dan putih, kini tapak dara banyak disilangkan sehingga terbentuk varietas baru dengan warna beragam. Continue reading TAPAK DARA, BUNGA CANTIK PENCEGAH KANKER

Khasiat Ramuan Tapak Dara, Tapak Kuda, dan Tapak Liman

Setidaknya ada tiga tanaman obat yang namanya dimulai dengan kata tapak. Meski begitu, ketiganya berasal dari keluarga yang berbeda dan punya khasiat yang berbeda pula. Digunakan sendiri-sendiri atau dikombinasi dengan tanaman lain, ketiga tanaman yang mudah didapat di berbagai tempat itu bisa menjadi obat yang mujarab. 

Tapak dara, tapak liman, dan tapak kuda digunakan sebagai sarana pemeliharaan kesehatan sejak dulu kala. Namun, karena mempunyai efek yang berbeda pada setiap individu, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli tanaman obat sebelum menggunakan ramuan dari tumbuhan tersebut. Continue reading Khasiat Ramuan Tapak Dara, Tapak Kuda, dan Tapak Liman

KANKER PAYUDARA DAPAT DISEMBUHKAN DENGAN TAPAK DARA

*** Pengobatan dan pencegahan secara medis terhadap penyakit kanker payudara melalui pengangkatan tumor, kemoterapi atau radioterapi, diakui oleh para pakar sering ditemui kendala. Pasalnya, tak seberapa lama seusai pengobatan, kankernya bisa timbul kembali.

Pakar penyakit kanker Walter H Lewis, dalam Medical Botany, menyebutkan, ada beberapa faktor yang berperan dalam tumbuhnya kanker payudara. Antara lain gangguan hormonal (terutama estrogen pada wanita), luka berat, kegagalan dalam perawatan setelah kehamilan, penyakit peradangan tumor jaringan ikat (fibrocytis) dan gangguan virus pada kelenjar susu.

Berkaitan dengan kejadian- kejadian seperti ini, sebagian penderita kanker payudara mengubah cara pengobatan dengan tanaman (herb therapy) dengan bermacam-macam alasan. Cara pengobatan alternatif dengan tanaman ternyata banyak membantu para penderita, sehingga dilakukanlah upaya-upaya penelitian dalam bidang etnobotani maupun farmakologinya, terhadap beberapa tumbuhan yang digunakan.

Penelitian yang mulai dilakukan pada tahun 1938, awalnya dengan obyek penelitian tanaman “colchium autumnale” yang diketahui mengandung alkaloid colchine. Namun sayangnya, konon penelitian terhadap tanaman jenis ini tidak memuaskan para peneliti alias mengecewakan mereka. Maka mereka mengalihkan obyek penelitian pada tanaman “tapak dara” yang menunjukkan adanya tanda-tanda mampunya tumbuhan ini berperan sebagai penyembuh kanker payudara.

Dikenal sebagai tanaman hias

Di Indonesia sendiri tapak dara dikenal sebagai tanaman hias yang menarik karena bunganya yang berwarna indah. Di tiap-tiap daerah nama tapak dara berbeda-beda. Di Jawa, misalnya, orang menyebutnya sebagai kembang tembaga, pakurame, tapak doro, dan bunga serdadu. Di Sumatera orang menyebutnya dengan ruru-ruru dan rumput jalang. Sedangkan masyarakat Sulawesi menyebutnya dengan naula sindapor, sementara masyarakat Maluku menyebutnya usia.

Tapak dara (catharan thusroseus) merupakan tumbuhan terna menahun dari famili apocynaceae (kamboja-kambojaan). Tanaman yang berasal dari Amerika Tengah ini bisa tumbuh dari daerah dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Tapak dara juga dikenal sebagai tanaman yang tidak sulit diperoleh, karena ia dapat diperbanyak dengan cara menanam bijinya, menyetek batangnya atau bisa juga menyetek akarnya.

Dari studi etnobotani di beberapa daerah di negara lain, hasil penelitian tapak dara menggembirakan dalam upaya pengobatan. Elli Lily, Svoboda, Noble dan Beer dari salah satu laboratorium Universitas Western, Ontario yang melakukan ujicoba berkali-kali, ternyata hasilnya dinyatakan positif.

Dari hasil ujicoba itu, tapak dara dapat digunakan sebagai bahan pencegah dan penumpas sel kanker. Menurut para peneliti dari Kanada tersebut, beberapa senyawa alkaloid dari ekstrak kasar tapak dara secara drastis mampu menurunkan jumlah sel darah putih, khususnya butir-butir dalam protoplasma (granulum) pada tikus percobaannya. Ekstrak tadi juga sangat menekan aktivitas sumsum tulang pada tikus yang menderita leukemia.

Luar biasa

Dari pengamatan invitro, pengaruh senyawa aktif tapak dara yang melawan sel darah putih ternyata sangat luar biasa. Senyawa tadi juga aktif menghalangi perkembangan sistem sirkulasi tumor. Dengan pengembangan teknologi akhirnya tapak dara berperan penting pada komersialisasi produk vinblastine dan vincristine sebagai senyawa anti kanker secara kemoterapi.

Sutarno dan Radjiman dalam Medicinal and Poisonous Pants I (1999) melaporkan, selain vinblastine dan vincristine, tapak dara juga mengandung alkoloid turunan, seperti vendicine dan vinorelbine. Dua senyawa pertama merupakan senyawa antimitoties yang kerjanya terikat pada kelenjar dan saraf, dengan mencegah pembelahan sel kumparan. Kedua sel ini menghalangi pembelahan inti sel-sel normal yang berkembang menjadi sel-sel kanker. Dengan melalui proses induksi sel kanker ini dapat berkembang biak sehingga dapat meluas ke jaringan di sekitarnya dalam bentuk benjolan (metafase).

Vinblestine digunakan sebagai bahan pengobatan penyakit leukemia, sedangkan vincristine digunakan sebagai bahan pengobatan leukemia akut, pembengkakan limpa, kanker cabang tenggorokan (broncial cancer), perkembangan tumor ganas pada ginjal (nephroblastomas) kanker payudara (interaducta carcinoma) dan berbagai jenis tumor ganas yang awalnya menyerang urat saraf maupun otot (rhabdomysarcoma).

Vindecine adalah senyawa semi sintetis jadian dari vinblastine yang digunakan pada pengobatan akibat bertambahnya sel darah putih pada kelenjar getah bening (acut lympathic leukemia), khususnya pada anak-anak. Selain itu juga digunakan dalam pengobatan pembengkakan setiap kelenjar getah bening (lymphomas) yang biasanya sulit disembuhkan. Bisa juga dipakai oleh penderita tumor pigmen yang kulitnya mengalami bercak-bercak hitam (melanomas).

Sutarno dan Radjiman juga melaporkan besarnya kandungan alkaloid total di dalam daun tapak dara, yaitu berkisar antara 0,70 persen hingga 0,82 persen. Untuk memperoleh 50 miligram vincristine dibutuhkan satu ton daun kering tapak dara. Sedangkan pada seluruh bagian tanaman antara 0,2-1 persen.

Beberapa senyawa utama bisa dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit lain, misalnya leurisine dan vindoline yang dipakai sebagai bahan pengganti insuline, karena berpengaruh pada penurunan kadar gula darah (hipogleukemia) penderita diabetes.

Tapak dara, buah adas dan pulasari

Dalam upaya penyembuhan kanker payudara, tapak dara memerlukan jenis tumbuhan lain seperti buah adas dan kulit kayu pulasari. Bahkan takarannya pun perlu diatur, yaitu 22 lembar tapak dara, buah adas dan kulit kayu pulasari secukupnya. Cara membuat ramuannya dengan mencuci terlebih dulu ketiga bahan tersebut hingga bersih, kemudian direbus dalam air sebanyak tiga gelas. Tambahkan gula merah secukupnya dan biarkan air mendidih hingga tinggal setengahnya. Setelah dingin, saringlah dengan saringan teh. Minumlah ramuan ini tiga kali sehari (pagi, siang, malam), masing-masing setengah gelas.

Drs Samiran dari Laboratorium Fitokimia, Balitbang Botani (Herbarium) LIPI Bogor, memiliki catatan menarik. Seorang guru SDN di Bogor bernama Ibu Sri (49 tahun), terbebas dari rongrongan penyakit kanker payudaranya yang telah diderita selama dua tahun. Ibu Sri sembuh total setelah meminum ramuan tapak dara yang dicampur buah adas dan kulit kayu pulasari selama hampir dua bulan.

Adas dan pulasari merupakan jenis tanaman yang mengandung senyawa anethol dan kumarin. Kedua senyawa alkaloid itu digunakan untuk memperbaiki rasa dan pewangi oleh industri obat, jamu, bumbu, tapal gigi, dll. Sedangkan senyawa kumarin berkhasiat sebagai obat sariawan, penguat lambung dan kejang lambung.(emon).

Sumber : http://www.bkkbn.go.id