Model Bisnis Tanaman Hias

Jual tanaman hias tidak selalu di kakilima atau punya lapak. Banyak model dan caranya. Bahkan dengan menjadi hunter dan makelar pun oke. Pilih saja sesuai kondisi keuangan, kesehatan dan cita-cita Anda sejak kecil. Tentu saja, semua pilihan ada plus-minusnya. Tapi siapa tahu, tulisan ini bisa menerbitkan gagasan baru.

1. Sewa dan buka gerai tanaman hias.
Ini cara paling konvensional. Jual tanaman hias dengan cara menyewa lapak di tempat terbuka.

Kalau Anda punya nyali dan mau sedikit nekad, bisa gunakan lahan kosong milik pengembang yang tidak difungsikan atau lahan kosong milik siapa saja. Cuma konsekuensinya, Anda harus siap-siap dikejar petugas Trantib dan berurusan dengan para preman. Jelas, cara ini tidak dianjurkan.

Yang paling baik, sewa saja secara resmi lapak-lapak di sentra-sentra tanaman hias yang juga resmi. Di Jabodetabek misalnya ada di Ragunan, Jakarta Selatan; Flona Alam Sutera, Serpong Tangerang dan Pusat Tanaman Hias BSD City di Kompleks Taman Tekno.

Sistem sewa biasanya dihitung per bulan atau per tahun di luar beaya kebersihan dan keamanan. Hitungan untuk tahun 2007, rata-rata per tahun antara Rp. 5 sampai 10 juta untuk setiap kapling. Kalau lahan sudah habis di tempat resmi tadi, Anda bisa ‘membeli hak pakai’ pada penyewa lama secara bisik-bisik. Dengan catatan, penyewa lama sudah bosan, tentu saja. Harga beli ‘hak pakai’ juga bervariasi antara Rp. 20 juta sampai Rp. 100 juta per kapling.

Menyewa lapak di sentra penjualan tanaman hias resmi, selain tidak dikejar-kejar petugas Trantib, Anda juga tidak perlu repot-repot promosi. Karena sentra tanaman itu sendiri sudah mampu mengumpulkan pengunjung. Paling tidak, kalau Anda belum punya pelanggan, kalau nasib baik, ada pelanggan tetangga kesasar masuk ke gerai Anda. Yang perlu Anda lakukan tinggal memajang tanaman-tanaman yang bagus, memasang karyawan yang ramah dan membuat gerai Anda menyenangkan.

2. Sewa stand dan buka pameran.
Pameran Tanaman Hias merupakan ajang promosi dan ajang penjualan yang bagus. Pihak penyelenggara melakukan banyak promosi untuk mengudang konsumen datang. Kalau Anda sewa stand dan buka pameran di situ, bukan mustahil gerai Anda dikunjungi orang, dan tanaman Anda dibeli orang.

Sekadar informasi, di Jabodetabek, sewa stand saat ini berkisar antara Rp. 750rb sampai Rp. 3 jt, untuk ukuran gerai 3 x 5 meter, selama pameran berlangsung antara 7 sampai 10 hari.

Di Jakarta ada beberapa event pameran tanaman yang berskala nasional, seperti Pameran Flora Fauna di Lapangan Banteng setiap bulan Agustus, atau pameran-pameran tanaman hias yang diselenggarakan Majalah Trubus. Tapi banyak juga pameran-pameran serupa yang diselenggarakan oleh Pemda, Supermal, atau event organizer, di banyak tempat. Kalau Anda berminat, silakan saja hubungi penyelenggaranya.

Yang perlu Anda lakukan, selain menyiapkan tanaman hias andalan adalah mencetak kartu nama untuk disebar. Jangan lupa cetak nomor telepon Anda jelas-jelas, agar setelah pameran usai, tanaman Anda tetap dibeli orang.

3. Open House.
Open house atau buka nursery di rumah sendiri paling enak. Anda bisa setiap hari menongkrongi, memantau, dan menerima pembeli. Kalau bisnis Anda laku, Anda boleh bilang pada keluarga di rumah yang ikut menyaksikan, bahwa jadi pedagang tanaman hias tidak hina. Cara ini gampang dilakukan bila Anda punya pekarangan atau lahan yang memenuhi persyaratan. Tapi bagi yang tidak punya lahan, bisa bikin dak.

Enaknya, para tetangga yang lewat dan melihat, atau handaitaulan yang kebetulan mampir bisa menjadi pengiklan bisnis Anda. Syukur-syukur mereka juga ikut tergerak untuk membelinya, bukan malah memintanya secara gratis. Jika yang terakhir ini terjadi, jangan sekali-kali Anda mengabulkannya. Lebih baik Anda menjual kepada mereka dengan harga miring atau rugi, daripada memberinya cuma-cuma. Jangan sampai yang kemudian menjadi berita dari mulut ke mulut adalah bahwa tempat Anda adalah tempat yang tepat di mana orang bisa mendapatkan tanaman secara gratisan. Dengan menjual murah atau rugi, sedikitnya, yang akan menjadi berita adalah tempat Anda tempat menjual tanaman dengan harga murah.

Keuntungan lain dengan memilih cara ini, Anda tentu saja tidak perlu buang beaya untuk menyewa lapak. Juga, kalau sedang tidak ada pembeli, Anda bisa menikmati keindahan setiap hari. Kerugiannya: istri, mertua, anak atau cucu Anda bisa terganggu ruang geraknya. Anda juga harus mulai bersiap-siap memiliki rumah seperti hutan belantara. Cara ini juga bisa dilakukan secara luwes. Misalnya, kalau Anda masih ngantor, atau punya usaha lain, Anda bisa hanya open house pada hari Sabtu dan Minggu saja.

4. Nitip teman yang menjual tanaman atau pada penjual tanaman yang Anda kenal.
Ini cara paling aman, terutama jika Anda tergolong hobiis pembosan. Jadi kalau ada tanaman yang Anda anggap sudah menjemukan, Anda bisa mereka untuk memasarkannya. Cara nitip teman juga pas jika Anda tergolong pemalu, atau masih malu-malu menjadi pedagang tanaman hias.

Keuntungannya, rumah Anda nyaman, dan Anda tak perlu mengeluarkan beaya sewa lapak. Jeleknya, kalau tanaman Anda tersia-sia di tempat ‘penitipan’. Bahkan bukan tidak mungkin, orang-orang yang Anda titipi malah men’curi’ tanaman Anda dengan memotong bonggol atau akarnya tanpa Anda ketahui.

5. Menyewa tukang gerobak keliling.
Ini cara paling jitu kalau rumah Anda sempit, dan Anda tidak punya kebun sendiri.

Bikin gerobak dorong, dan panggil para pengangguran yang tinggal di sekitar Anda untuk diajak menjadi pedagang keliling tanaman hias. Suruh mereka masuk ke perumahan-perumahan menjajakan tanaman Anda. Dewasa ini banyak orang senang tanaman hias tapi terlalu sibuk untuk mendatangi nursery. Mereka adalah pasar potensial Anda.

Enaknya, setiap hari Anda menerima setoran dari para penarik gerobak dorong. Kalau setiap gerobak menyetor Anda uang Rp. 1 juta saja sehari, kita sudah bisa bayangkan, betapa indahnya bisnis tanaman hias. Dari sana sekaligus Anda juga bisa mendapat info tanaman apa yang disukai dan mana yang tidak disukai. Yang disukai, segera belanja di tempat penjualan grosir tanaman hias.

Risikonya, kalau penarik gerobak kabur beserta gerobaknya Anda bisa gigit jari. Tapi Anda bisa cegah duluan dengan menyimpan fotokopi KTPnya. Kalau ada apa-apa, tinggal lapor polisi.

6. Jadi Hunter atau Buser
Kalau Anda ingin dapat untung dari berjualan tanaman hias tapi modal cekak atau tidak punya modal sama sekali, cara ini bisa dilakukan. Yaitu dengan menjadi seorang hunter (pemburu) atau buser (buru sergap) tanaman hias. Pada dasarnya hunter maupun buser adalah makelar atau istilah kerennya, brooker. Modalnya, informasi dan sebuah hand phone yang bisa kirim foto melalui MMS (Multimedia Messaging Service). Dengan model bisnis ini, Anda bahkan tidak harus punya tanaman sendiri.

7. Buka kebun khusus sendiri di daerah pinggiran.
Cara ini mungkin termasuk cara paling mahal. Karena kita harus menyewa atau memiliki lahan luas di daerah pinggiran di mana harga atau sewa tanah masih murah. Tapi percayalah, meski di dearah pinggiran sekali pun, kalau koleksi tanaman hias Anda bagus, orang akan tetap memburunya. Bak syair lagu: “Ke gunung kan kudaki, ke laut kan kuseberangi….”

Keuntungannya, Anda bisa memilih konsumen yang datang ke kebun Anda. Kalau Anda sedang capek Anda bisa mengatakan nursery Anda tutup, Anda sedang di luar kota atau alasan-alasan lainnya. Bahkan Anda bisa menyeleksi pembeli Anda. Keuntungan lainnya, kalau orang sudah jauh-jauh datang ke tempat Anda, sudah pasti mereka juga akan berbelanja cukup banyak.

8. Buka kebun, sekaligus buka kedai kopi atau Galeri
Kalau kondisi keuangan memungkinkan, dan lokasi mendukung, selain buka kebun dan jual tanaman, Anda bisa menambah fasilitas lain seperti kafe atau kedai kopi, atau galeri lukisan. Jadi, selain berburu tanaman, pengunjung bisa minum kopi, atau beli lukisan.

Di Bandung ada All About Strawberry. Bapak Ibu beli tanaman strawberry, anak-anak bisa minum juice strawberry. Di Baturaden, Purwokerto ada Puspa Tiara Nursery yang menyediakan bakso dan kopi. Istri beli tanaman, anak-anak makan bakso dan suami bisa ngopi. Semua happy.

9. Menjajakan dengan Sepeda Motor atau Mobil.
Cara bisnis seperti ini boleh dicoba kalau Anda tidak punya lapak. Kita ambil dagangan di tempat kulakan, lalu menjajakan secara keliling dengan sepeda motor, atau mobil. Sasarannya, pedagang-pedagang tanaman hias kaki lima. Atau masuk ke pedagang-pedagang yang sedang buka stand pameran karena terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk kulakan..

Kita bisa jual per lima atau sepuluh pot. Tak usah untung banyak, asal penjualan lancar dan pembayaran bagus, sudah aduhai. Modalnya, cuma tahu tempat kulakan, tahu di mana sasaran kita berada, dan punya sepeda motor atau mobil yang bisa kita pakai. Kalau Anda bisa ngutang dulu di tempat kulakan, lebih asoy. Jadi Anda tak perlu mengeluarkan modal. Tentu saja, Anda harus langsung membayarnya begitu Anda menerima uang.

10. Bikin Website atau Blog
Kalau mau memasarkan tanaman Anda ke pasar lebih luas, Anda bisa bikin website. Di situ Anda bisa pasang foto-foto tanaman di situ, dilengkapi deksripsi dan harganya.

Bikin website tidak mahal. Anda paling cuma harus bayar seorang desainer web, suruh bikin web. Lalu hubungi dan bayar pihak web hosting, agar website Anda bisa disiarkan ke seluruh dunia. Kalau tidak mau repot, buat dan ciptakan blog. Gratis. Anda tidak perlu tahu bahasa html dan memahami aneka script yang rumit. Sudah begitu, Anda bisa kirim dan pasang gambar dengan cuma memencet tombol. Asyiklah.

Keuntungan lain kalau punya website, Anda juga bisa jadi brooker. Tanaman punya teman yang mau dijual difoto, gambarnya pasang di situ. Kalau laku, Anda dapat komisi.

11. Pasang Iklan Baris di Internet
Punya tanaman, tapi tidak punya gerai, atau malu mejeng di pameran, tidak bisa bikin gerobak boro-boro punya website? Gampang saja. Pasang iklan baris di Internet.

Dewasa ini banyak portal-portal tanaman hias yang bersedia memasangkan iklan baris Anda secara gratis. Contohnya, Trubus Online (http://www.trubus-online.com), dan LangitLangit.Com (http://www.langitlangit.com) . Syaratnya cuma satu: Anda tidak gaptek Internet. Kalau cuma tidak punya Internet, gampang, datang saja ke Warnet atau bawa laptop dan bayar voucher sewa hotspot yang banyak dimiliki supermal atau kafe.

Itu sekadar contoh. Sebetulnya kalau kreatif masih banyak cara lagi bisa dilakukan.***

(Dikutip dari buku JURUS SUKSES BISNIS TANAMAN HIAS, karangan Kurniawan Junaedhie, PT Agro Media Pustaka)

BISNIS BARU! BROKER TANAMAN HIAS


Satu tahun terakhir ini, ada trend menarik di masyarakat dalam cara mendapatkan penghasilan. Booming tanaman hias rupanya telah merasuk sampai ke desa-desa. Alhasil profesi sebagai broker tanaman hias jadi idola, dengan alasan tidak perlu modal uang banyak, kerjaannya menyenangkan (keliling-keliling) dan hasilnya besar.

Broker (perantara) tanaman hias merupakan jembatan penghubung antara juragan tanaman hias (bos) dengan petani (penjual). Tugasnya mencari tanaman sampai pelosok-pelosok terus melaporkan sama bos. Bila harga setuju bos akan membeli tanaman tersebut lewat kita, untungnya tergantung nego kita sama petani.

Mari kita mulai menjelajahi profesi broker tanaman hias ini.

Modal yang diperlukan :

  1. Alat komunikasi, biasanya berupa telpon rumah atau hape. Lebih disarankan Hape karena dapat dibawa kemana-mana, sehingga saat kita tahu ada tanaman bagus dengan harga miring, kita bisa langsung tawarkan ke bos kita saat itu juga. Ada nilai plusnya kalau hape yang kita pake berkamera, jadi kalau kita ragu akan kualitas tanaman yang kita dapatkan, kita bisa konsultasi dulu sama bos kita lewat jepretan foto.

  2. Ini yang paling penting. Relasi. Untuk jadi broker kita mesti punya bos yang siap nampung tanaman hasil temuan kita. Untuk awal-awal bisa saja kita minta bantuan broker yang sudah jadi, istilahnya kita jadi perantara kedua, sambil belajar. Jika kita sudah dipercaya sama bos kita, itu jadi awal yang baik. Jangan ragu untuk sedikit menghabiskan pulsa demi hubungan baik dengan si bos.

  1. Pengetahuan tentang tanaman hias. Ini menjadi sangat penting, karena kita yang jadi ujung tombak di lapangan saat kita berhasil menemukan tanaman. Hal ini bisa dilatih dengan banyak mengunjungi nursery-nursery, atau melihat-lihat pameran yang ada. Jangan lupa juga untuk rajin membaca artikel-artikel tanaman hias, bahkan disarankan untuk rajin membeli tabloid khusus tanaman hias. Untuk hal ini, pemula lebih baik untuk mendalami satu macam / jenis tanaman hias terlebih dahulu. Saya sarankan untuk menekuni benar-benar jenis anthurium. Yang perlu dipelajari terlebih dahulu kayaknya jenis gelombang cinta dan jenmanii. Ini jenis yang paling popular, dan banyak diburu para kolektor.

  2. Banyak cari pengalaman, coba-coba dulu gak pa2, jangan takut untuk tanya-tanya.

OK yach, selamat mencoba!

http://c-o-r-n-e-r.blogspot.com/2007/09/bisnis-baru-broker-tanaman-hias.html

Daun Ungu, Pembasmi Ambeien

DON temen atau daun ungu (Graptophyllum pictum Griff) kerap dimanfaatkan masyarakat Bali dalam pembuatan banten. Misalnya, untuk membuat banten pesucian, sakaruna, perangkatan, sam-sam, sesarik dan sejumlah banten lainnya. Namun, jarang yang tahu, daun ungu juga bisa dimanfaatkan untuk obat. Flora dari jenis tumbuhan perdu ini memiliki kandungan kimia seperti alkohol, pektin dan asam formiat yang cukup berkhasiat untuk pengobatan. Untuk obat ambeien misalnya, daun ungu terbilang cukup mujarab. Caranya, ambil 3-7 lembar daun ungu dan adas pulawaras. Rebus dengan tiga gelas air sampai mendidih. Setelah itu airnya disaring dan diminum sekali setiap pagi hari secara teratur. Bagi Anda yang mengalami masalah buang air seni tidak lancar, daun ungu juga bisa membantu. Ambil 1-2 genggam daun ungu serta adas pulawaras. Semua bahan itu ditumbuk sampai benar-benar halus. Hasil tumbukan itu dioleskan pada bagian perut seperti layaknya param. Haid yang tidak lancar juga bisa diatasi oleh daun ungu ini. Caranya, daun ungu dikeringkan dan ambil sekitar tiga sendok. Daun ungu itu kemudian direbus dengan tiga gelas air sampai mendidih hingga tinggal satu gelas saja. Setelah itu disaring dan diminum tiga hari menjelang datang bulan. Bukan hanya itu, reumatik atau encok juga bisa disembuhkan dengan daun yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama demung, tulak dan wungu ini. Cara pengolahannya pun sangat sederhana. 1-2 genggam daun ungu ditumbuk sampai halus dan oleskan pada bagian yang sakit sebagai param. Anda mengalami sakit bisul yang sangat menyiksa? Cobalah menggunakan daun ungu sebagai obat. Ambil dua lembar daun ungu dan minyak kelapa secukupnya. Daun ungu itu kemudian dioleasi minyak kelapa dan panggang di atas api. Dalam keadaan hangat, tempelkan daun ungu itu pada bagian yang sakit. Begitulah beberapa khasiat daun ungu untuk kesehatan Anda. Akan tetapi, sebelum meracik daun ungu sebagai obat, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan orang yang memang menguasai bidang pengobatan tradisional. Dengan begitu, kekeliruan dalam pengobatan bisa dihindari. Yang paling penting, daun ungu ini patut Anda tanam di taman di pekarangan rumah. Pasalnya, tanaman ini memiliki fungsi ganda, baik sebegai tanaman banten atau pun tanaman obat. Daun ungu memiliki batang tegak dengan tinggi hanya mencapai tiga meter. Biasanya tumbuh liar di pedesaan atau ditanam sebagai tanaman hias. Daun ungu cocok tumbuh di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1250 meter di atas permukaan laut. Teks dan Foto: I Made Sujaya

Euphorbia Anda Mogok Berbunga?

Seringkali para hobiis tanaman hias bingung, mengapa tanaman euphorbianya malas berbunga, padahal sudah dirawat dengan benar, memberikan pemupukan untuk bunga secara tepat, penyiraman rutin, dan penyemprotan pestisida juga secara rutin. Hasilnya?…tanaman tumbuh rimbun, cabang-cabangnya tumbuh tiada henti, kondisi tanaman sangat sehat, tetapi mengapa tidak mau berbunga juga? Jawabannya adalah, mungkin tanaman euphorbia anda tersebut diletakkan di tempat dimana setiap malam tempat tersebut terang oleh cahaya lampu (misalnya di teras rumah), atau bisa saja tanaman terkena penerangan lampu jalan dimalam hari. Sebagai perbandingan, jarak lampu neon 20 watt, 10-15 meter dari tanaman euphorbia, itu sudah cukup mempengaruhi sehingga bunga tidak mau muncul. Pindahkan tanaman euphorbia anda ke tempat yang malam hari gelap tidak ada cahaya lampu, tetapi di siang hari terkena cahaya matahari. Tunggu 1 bulan, tanaman akan segera berbunga. (Ir Slamet Budiarto)

Sansevieria Tampil Eksotis di Atas Batu

Andi Solviano Fajar kerap terlihat mendatangkan bongkahan batu bahan patung ke kebunnya. Pemain tanaman hias kawakan di Karanganyar, Jawa Tengah, itu beralih profesi? Tidak. Ia membutuhkan batu-batu itu untuk hunian lidah mertua.

Pada 1990-an Andi memanfaatkan batu-batu itu untuk kreasi bonsai dan suiseki. Lalu ketika adenium tren pada 2000-an ia juga menggunakan batu sebagai ornamennya. Kini giliran lidah mertua yang dipadukan dengan batu agar terlihat lebih cantik.

Saat Trubus bertandang ke kebunnya di Desa Krician, Kabupaten Karanganyar, tampak S. trifasciata ‘bantel’s sensation’ berdiri anggun di tengah-tengah sebongkah batu berwarna cokelat muda berdiametar 15 cm. S. trifasciata hahnii ‘jade’ pun ‘ditumbuhkan’ di atas batu dan ditempatkan dalam pot keramik bermedia pasir malang dan arang sekam.
Calcedone

Batu dipilih Andi untuk media tumbuh sansevieria agar terlihat alami layaknya kebiasaan hidup beberapa jenis sansevieria yang epifit di batu atau batang tanaman. Kesan alami itu jauh lebih menonjol daripada ditanam dalam pot. Batu yang digunakan jenis calcedone. ‘Itu jenis batuan alam dengan tingkat kekerasan 3-4 scalemol,’ ungkap Bambang Tri Kusmandono Raharjo, pematung di Tulungagung yang sering memasok batu untuk Andi. Itu penting, karena jika tekstur batu terlalu keras sulit dilubangi. Terlalu rapuh pun tidak baik lantaran gampang pecah dan tak tahan lama.

Selain kekerasannya pas, calcedone juga dipilih lantaran corak dan warna abstraknya menawan. Pantas, jenis batuan itu biasa dipakai sebagai bahan patung, perhiasan, sampai furniture. Marmer dan onyx, dua varian calcedone yang banyak dijumpai di alam. Kusmandono menyebutkan daerah Kuningan, Jawa Barat, Nganjuk, Jawa Tengah, dan pesisir antara Tulungagung sampai Wonosari jadi gudang batuan itu.

‘Untuk tanaman, biasanya saya carikan batu utuh, bukan berbentuk bongkahan yang diambil dari gunung,’ kata pria yang bermain suiseki sejak 1990. Itu agar terkesan alami, bukan pahatan. Ukurannya bervariasi, mulai dari hanya sekepalan tangan, sampai sebongkah dengan lebar lebih dari 30 cm.

Andi tak mengerjakan sendiri, pembuatan lubang untuk memasukkan akar tanaman diserahkan pada Kusmandono. Musababnya, selain butuh bor khusus, juga perlu ketelitian. Setiap batu dibuat satu atau lebih lubang tanam, tergantung ukuran. Lubang itu tembus dari satu sisi ke sisi lain. Maksudnya, agar akar bisa keluar dan mengisap nutrisi yang ada di media dalam pot. ‘Batu hanya sebagai pijakan saja,’ kata Andi.

Jika batu yang digunakan besar-akar sansevieria tidak tembus ke sisi lubang bawah-harus diisikan media tanam. Dengan begitu akar lama kelamaan tumbuh memanjang dan mampu mencapai media dalam pot. Oleh karena itu media dalam potlah yang menentukan tumbuh subur tidaknya tanaman, bukan batu.

Media yang biasa digunakan Andi adalah campuran arang sekam dan pasir malang. ‘Sebelum akar menjangkau media, tanaman tetap disiram dengan menyiramkan air perlahan-lahan ke dalam lubang,’ imbuh ayah satu anak itu. Itu rupanya yang membuat sansevieria dalam batu milik Andi tetap bongsor.
Kerdil

Nun di Malang, Jawa Timur, Agus Gembong Kartiko-hobiis sansevieria di Malang- melakukan hal serupa. Hanya saja jenis batu dan cara tanamnya berbeda. Pria yang gemar mengenakan kaos putih

dan celana hitam itu memilih batuan vulkanik asal Blitar, Jawa Timur. Tekstur batuan ini remah, sehingga perlu hati-hati saat melubanginya. Namun, justru karena remah itulah ia mampu menyerap air dan menyimpannya untuk keperluan tanaman. Makanya, Gembong tidak meletakkan batu itu di atas media seperti yang dilakukan Andi.

Lubang tidak ditembuskan hingga bagian bawah, tapi cukup sedalam 5 cm- tergantung ukuran batu dan rimpang. Paling hanya dibuat lubang kecil di bagian bawah sebagai jalan keluarnya air yang berlebihan. Media yang tersedia hanya terbatas pada yang diisikan ke lubang tanam. Konsekuensinya, tanaman tumbuh lambat. ‘Tapi justru itulah yang diinginkan,’ tutur Gembong.

Menurut pria kelahiran Malang 49 tahun lalu itu, sansevieria yang tetap kerdil justru unik. Buktinya setiap bulan tidak kurang dari 50 pot habis terjual. Harganya pun jelas lebih tinggi, karena tanaman jadi lebih berkarakter. Andi menjual S. trifasciata hahnii dalam batu Rp100.000. Artinya 5 kali lipat dibandingkan yang ditanam dalam pot. Sansevieria terpasung dalam batu bukan kutukan, tapi sentuhan seni untuk tingkatkan pamor lidah mertua. (Nesia Artdiyasa)

Dari : trubus-online.co.id

PERBANYAK AGLAONEMA DENGAN PENGGAL PUCUK

Sosok aglaonema Snow White itu mempesona. Sepuluh daun hijau bertabur bercak putih membuatnya kompak. Namun, dengan pisau tajam, kres… tangan kanan Prapanpong Tangpit memotong batang si putih salju menjadi 2 bagian. Batang yang tumbuh di pot terdiri atas 4 daun; batang terpotong, 6 daun.

Prapanpong Tangpit bukan sedang meluapkan marahnya. Memang begitulah cara dia memperbanyak aglaonema. Di depan rumahnya, di bilangan Khet Thawi Watthana, Bangkok, Thailand, menghampar 3.000 aglaonema. Semuanya diperbanyak dengan pemenggalan pucuk. Dengan teknik potong pucuk, At-sapaannya-menghasilkan minimal 5 anakan per tanaman setahun. Bandingkan dengan cara konvensional, cuma 2-3 anakan per tahun.

Pemotongan pucuk, merangsang induk mengeluarkan tunas baru. ‘Dari satu bonggol keluar 2-3 anakan,’ ujar At. Selang 5- 6 bulan, anakan aglaonema itu dipisahkan dari induk. Setelah dirawat 1-2 bulan atau keluar akar baru, kerabat anthurium itu siap jual. Itu baru anakan dari bonggol, belum dari batang hasil pemotongan. Potongan pucuk menghasilkan sekitar 2-3 anakan dan dapat dipanen setelah berdaun 5-7 helai. Jadi anakan diperoleh dari 2 tanaman, induk dan pucuk yang dipotong.

Sehat
Karena hasilnya spektakuler, sistem potong pucuk pun ditiru pekebun di Indonesia. Sebut saja Ukay Saputra di Jakarta. Pemilik Anisa Flora nurseri itu mengadopsi teknik itu sejak akhir 2005. Penggal pucuk dapat diterapkan untuk semua jenis aglaonema, tak hanya snow white. Itu yang Trubus saksikan di kebun produksi milik Ukay di Sawangan, Depok. Di lahan 3.000 m2, pria setengah baya itu memenggal heng-heng, legacy, venus, dan pride of sumatera.

Nun di Sentul, Bogor, Gunawan Widjaja pun melakukan hal sama. Itu terlihat dari puluhan pot di atas rak setinggi 1 m yang sekilas hanya berisi media tanpa tanaman. Begitu didekati, 2-4 tunas berbentuk jarum muncul ke permukaan. Itulah bonggol-bonggol tanaman induk yang telah dipotong pucuknya. Sedangkan pucuk yang telah dipisahkan, diletakkan di bawah rak.

Agar hasil maksimal, pilih aglaonema dewasa terdiri atas 8-10 daun. Kondisinya sehat: daun segar, kokoh, dan daun muda tak mengecil. Tanaman berakar kuat, putih, gemuk, dan tak busuk. Bila syarat itu terpenuhi, lakukan potong pucuk.

Sebelum pemenggalan, Ukay dan Gunawan memberikan perlakuan khusus. Ukay membenamkan batang aglaonema lebih dalam di pot. Biasanya, panjang batang sri rejeki yang ditanam hanya 5-7 cm yang terendam media. Sebelum dipotong, panjang batang yang tertutup media jadi 8-10 cm. ‘Prinsipnya seperti cangkok, sehingga akar terangsang keluar,’ ujarnya. Selain itu, sri rejeki diberi pupuk lambat urai berkomposisi seimbang setiap 3 atau 6 bulan. Penyemprotan hara mikro setiap satu bulan. Untuk mempercepat akar muncul, Ukay memberikan vitamin B1 seminggu sekali.

Sedangkan Gunawan meningkatkan frekuensi pemupukan 2-3 minggu sebelum pemotongan. Biasanya pemupukan setiap satu minggu dengan pupuk seimbang berkonsentrasi 2 cc/l air. Sebelum dipenggal, ditingkatkan jadi 2 kali seminggu dengan konsentrasi sama. Tujuannya, meningkatkan jumlah makanan di akar sebelum dipotong. Ketika pucuk dipenggal, makanan dari akar tak lagi didistribusikan ke daun sehingga memacu keluarnya tunas di batang.

Potong
Kini saatnya aglaonema dipenggal. Korek media hingga terlihat akar. Sebaiknya pucuk yang akan dipotong memiliki 3 akar untuk mencegah kematian. Potong batang sri rejeki itu dengan menyisakan minimal 1 daun pada tanaman induk. Tujuannya, agar kerabat keladi itu masih bisa berfotosintesis untuk menghasilkan makanan. ‘Dengan demikian tunas baru yang muncul berdaun besar,’ ujar Gunawan. Pemotongan tanpa membongkar media. Artinya aglaonema tak perlu dikeluarkan dari pot agar tidak stres.

Olesi aglaonema terpotong dengan antiseptik atau obat penutup luka. Gunawan memberikan campuran bahan-bahan yang biasa dipakai untuk menyirih. Seperti campuran pinang, kapur sirih, dan gambir yang dihaluskan. Oleskan obat itu di atas luka. Setelah kering angin-sekitar 5 menit-tanam sri rejeki bagian atas dalam media campuran pasir malang, humus andam, pakis, dan sekam. Perbandingannya, 5 : 2 : 2 : 1. Siram potongan pucuk, sedangkan induk 3 hari kemudian untuk menghindari busuk batang.

Alternatif lain, rendam pucuk aglonema dalam larutan hormon, bakterisida, dan fungisida selama 0,5 jam seperti dilakukan Ukay. Lalu tanam sri rejeki itu dalam media campuran sekam bakar, cocopeat, pasir malang, dan dolomit dengan perbandingan 70 : 12,5 : 12,5 : 5. ‘Dolomit berfungsi untuk menetralisir pH,’ kata Ukay. Selanjutnya siram anggota famili Araceae itu dengan air rendaman sebelumnya.

Letakkan pucuk aglaonema yang memiliki ketahanan tinggi, seperti snow white dan pride of sumatera, di bawah jaring peneduh 65% sebanyak 2 lapis. Sementara jenis yang agak ringkih, seperti legacy dan venus, taruh di bawah jaring dan plastik UV agar terhindar dari hujan.

Untuk merangsang tunas pada bonggol bawah, Ukay menyemprotkan campuran auksin dan sitokinin murni satu minggu sekali. Pemberian cukup 2 kali. Selang 1 bulan, 2-3 tunas muncul dan bisa dipisahkan setelah berdaun 5 helai atau 6 bulan kemudian. Aglonema pun siap jual 1 bulan kemudian. Cepat dan banyak bukan? (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Evy Syriefa)

Langkah2 Pemotongan:
1. Siapkan pisau dan alat pengorek
2. Aglonema dalam kondisi sehat terlihat dari akar yang putih dan gendut
3. Korek media untuk melihat akar
4. Potong batang aglaonema dan sisakan minimal satu daun pada bonggol
5. Oleskan obat penutup luka, seperti betadine atau campuran bahan menyirih pada luka pucuk dan induk
6. Tanam pucuk aglaonema di media campuran pasir malang, humus andam, pakis, dan sekam dengan perbandingan 5: 2:2:1
7. Siram aglaonema lalu letakkan di tempat ternaungi
8. Tunas muncul 1 bulan kemudian

(Dikutip dari majalah TRUBUS 440, dari judul asli: “Demi Anakan, Penggal Leher Ratu”)

Repotting atau penggantian media Aglaonema

III. Repotting atau penggantian media dan/atau pot
Repoting atau penggantian media tanam dengan yang baru dikarenakan beberapa hal, diantaranya dengan alasan ukuran pot terlalu kecil atau terlalu besar atau karena memang media tanam sudah mencapai umur 5-6bulan.
Kami biasa mengganti media tanam bisa 5-6bulan sekali atau bahkan bisa 8-10bulan sekali. Tetapi kalau penggemar aglaonema dengan jumlah tanaman yang lebih sedikit mungkin bisa lebih terkontrol dan lebih optimun dilakukan repoting 4-5bulan sekali.
Sebagai sharing, pengguna baode seperti kami, pada saat repoting, media tanam yang lama akan terlihat lebih hancur dikarenakan kemampuan baode akar menguraikan unsur organik di dalam media untuk dijadikan hara. Silahkan dibuktikan.

Adapun urutan repoting cara fai-kao adalah sebagai berikut:
Sudah tentu pertama kali, berdo’a terlebih dahulu kepada Tuhan yang Maha Pencipta Maha Pengatur dan Maha Hidup.
Siapkan material-material yang diperlukan, aglaonema itu sendiri, baode daun atau akar, media baru, pot pengganti (atau tidak diganti) yang lebih pas/proporsional (jangan terlalu besar) dan pupuk slow release yang dipilih.
Siapkan pot dengan styform di bagian bawah secukupnya. Pengganti styform bisa menggunakan pecahan genting atau bata merah atau arang.
Masukkan media ke pot secukupnya, kurang lebih 1/3 atau ¼ pot.
Lepaskan aglao dari pot dengan hati-hati. Pegang batang aglao dekat media diapit jemari, miringkan pot dan lepaskan aglao dari pot. Lepaskan Media yang melekat di bonggol dan akar aglao dengan hati-hati. Atau dengan cara direndam dalam air, sehingga media yang nempel akan lepas sendiri.
Masukkan aglao ke dalam pot tersebut hingga di tengah-tengah, dan taburkan media diatas perakarannya sedikit demi sedikit tetapi belum sampai penuh.
Taburi pupuk slow release yang dipilih, kurang lebih sesendok teh (disesuaikan dengan ukuran tanaman)
Tambahkan media sedikit demi sedikit sampai penuh.
Untuk memadatkan gunakan dengan cara pot samping di pukul-pukul sehingga media turun sendiri dengan gravitasinya. Peringatan! JANGAN memadatkan media dengan cara ditekan-tekan dari atas/permukaan media.
Setelah cukup, siram media dengan air baik, dengan cara disemprot atau dituangi air atau dengan air dari slang keran air langsung sampai basah kuyup, untuk membantu memadatkan dan membagi media ke sela-sela akar.
setelah tiris, semprot media dengan menggunakan larutan baode akar atau daun.
Repoting selesai…

Dari : http://www.fai-kao.com/2008/05/25/tips_perawatan_aglaonema_ala_fai_kao_com

Media Tanam Aglaonema

I. MEDIA TANAM
Pendahuluan
Pertama-tama mari kita tinjau persoalan media tanam. Masalah media tanam bisa dibilang termasuk faktor paling utama, karena merupakan media dimana sang ratu daun akan hidup.

Penggunaan Media yang tepat dan sesuai membuat aglaonema tumbuh lebih subur, lebih sehat dan lebih berkembang sesuai dengan fisiologis tanaman / jenis aslinya. Menurut beberapa literatur, faktor keasaman media tanam sangat mempengaruhi pertumbuhan aglaonema itu sendiri juga mempengaruhi ketahanan terhadap serangan penyakit tanaman, terutama yang disebabkan oleh jamur (fungi) dan bakteri (bactery).

Media tanam yang terlalu asam (indikator faktor keasaman pH yang kurang dari dari 7), akan membuat aglaonema lebih mudah terserang penyakit, karena penyebab sakit tersebut (jamur atau bakteri) lebih mudah tumbuh berkembang di dalam media seperti ini. Adapun salah satu diantara sebab media menjadi asam diantaranya media terlalu lama menahan air, dengan kata lain kondisi media terlalu sering dalam keadaan ”becek” atau bisa juga terdorong oleh air hujan yang kebetulan untuk daerah tertentu dan waktu tertentu yang bisa menyebabkan keasaam tanah meningkat.

Media tanam memang banyak ragamnya, tergantung selera, pengalaman pribadi orang-perorang dan juga tergantung iklim tertentu, serta bisa juga karena keawaman penggunaannya. Menurut kami, media tanam yang ada dipasaran termasuk media tanam hasil racikan media racikan dari kami (media tanam fai-kao.com), bukanlah media yang ”mutlak” harus digunakan. Beberapa pengalaman orang-orang tertentu, penggunaan media tanah asli juga bisa membantu juga, dan tidak harus terlalu ”diistimewakan”. Akan tetapi, tujuan atau goal tiap orang memelihara aglaonema tentu banyak ragamnya, ada yang sangat ingin akarnya banyak saja sehingga yang bersangkutan berfikir, masalah anak/tunas dan pertumbuhan akan berjalan alami selama akar tumbuh cukup dan sehat. Ada juga yang ingin mendapatkan anakan atau tunas lebih cepat, ada juga yang menginginkan corak warnanya konsisten, tetapi ada juga yang ingin coraknya berubah lebih merah, atau lebih hijau atau bahkan yang ada yang ingin berubah total yang disebut mutasi dan yang terakhir sebagian orang lain adalah kekhawatiran penggunaan media yang salah karena sang Ratu daun yang mahal harganya (relatif).

Perbedaan pemakaian media untuk tujuan dan pengetahuan yang berbeda-beda merupakan sesuatu yang wajar, oleh karena itu, disini, fai-kao.com bermaksud menyajikan media tanam versi fai-kao.com untuk dijadikan alternatif pilihan untuk digunakan.

Media tanam fai-kao.com
Media tanam yang kami gunakan adalah media tanam hasil racikan sendiri. Di awal-awal pembudidayaan aglaonema, kami telah mencoba beberapa jenis komposisi racikan, dan sampai dimana kami telah menemukan dan sedang menggunakan racikan media tanam sendiri yang terakhir (baca: paling mutakhir).
Media tanam racikan ini kami rancang di awal dengan tidak dimulai dari angka prosentase komposisinya, sehingga kadang kami bingung sendiri, sebenarnya berapa persen (%) komposisinya…? Tetapi setelah di periksa dan diamati, kurang lebih seperti berikut alternatifnya:
Pakis kasar, kualitas prima, tandanya berwarna hitam, getas (kalau dipatahkan mengeluarkan suara “krek!”), porsi kurang lebih 60%
Sekam bakar porsi kurang lebih 15%
Sekam mentah 10% (untuk daerah yang kelembabannya tinggi bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan)
Pasir malang 15%
Jika diperlukan tambahkan sedikit pupuk kandang (kurang lebih 5% dari total volume media yang telah diracik) – tetapi kadang kami tidak menggunakannya. Juga bisa menggunakan humus kering misal berupa angdam kasar, ranting dan daun lamtoro.
Dan jika diperlukan lagi (kadang-kadang kami menggunakannya) ditambahkan Zeolite (merk Zn) kurang lebih 2-3%
Sebelum digunakan, diharuskan dijemur seharian, sedemikian hingga media yang akan diracik benar-benar telah kering kerontang.

Media tanam hasil racikan ini menghasilkan media yang sangat poros, sehingga andaikan disiram dengan jumlah air yang banyak sekalipun bahkan menggunakan kucuran air langsung dari keran juga tidak bermasalah, karena air tersebut akan langsung mengalir keluar di bawah media. Dengan kata lain akan sangat poros.
Keuntungan dari media ini diantara yang kami peroleh berupa kondisi aktual adalah:
Media tidak cepat lembab dan terhindar dari keasaman media yang konon mengundang jamur dan penyakit
Kemampuan media menahan air sangat kecil, sehingga bagi yang senang melakukan siram-siram tanaman, tidak perlu khawatir akan kondisi lembab media, dengan kata lain, mau melakukan penyiraman tiap hari pun tidak masalah
Pergerakan akar-akar baru terfasilitasi dengan mudah, atau dengan kata lain, pergerakan akar baru bisa sangat leluasa bergerak memanjang dan membesar sesuai dengan kondisi tanaman
Pergerakan tunas/calon anak, setelah keluar dari bonggol, bisa bergerak lebih mudah tanpa harus menembus media yang ”memadat”.
Ketika hujan turun, untuk aglao yang disimpan dibawah paranet /shade net dan tanpa plastik UV, tidak usah khawatir, karena air hujan yang membasahi media, akan langsung keluar karena sangat poros medianya.

Kekurangan dari media ini diantaranya:
Bagi pemakai yang “malas” melakukan penyiraman, karena media tanam cepat kering. Solusinya, jangan terlalu jauh jarak waktu penyiraman, dan jika tidak bisa dihindari, tambahan media sekam bakar 10% lagi, atau dengan cocopeat, tetapi dengan porsi yang sangat-sangat sedikit (karena kami tidak menyukai penggunaan cocopeat ini). Tetapi kekurangan ini bukanlah menjadi suatu kekurangan andaikan kita bisa menjaga waktu penyiraman.

Dan andaikan dari para pembaca ada yang berminat untuk memesan media tanam hasil racikan kami sendiri, bisa order, paling tidak 2-3hari sebelumnya, karena kami akan meracik media berdasarkan keperluan, jadi, kami tidak membuat untuk stok dengaan harapan media yang akan diterima oleh peminat adalah media tanam yang benar-benar baru atau “Fresh”. Selain itu, khusus untuk jenis pakis yang kami gunakan, tidak sembarang pakis, tetapi pakis yang “menurut kami” layak dan berkualitas yang akan kami gunakan, sehingga andaikan stok pakis yang yang ada dipasaran tidak ada yang memenuhi kriteria (menurut kami), mungkin stock akan terhambat karena kami tidak biasa “memaksa” meraciknya dengan pakis yang seadanya.

Permasalah dalam berjualan media ini adalah di pengiriman, sehingga bagi pembaca yang berminat silahkan hubungi dede 081385317086 atau dedemeki@centrin.net.id dan diharapkan diambil sendiri (di lokasi kebun di Parung bogor atau di rumah di depok atau di tempak bekerja di pancoran jakarta selatan). Di jual atas pesanan ukuran karung 20kg dengan harga Rp. 30ribu per karung.

Prinsi kami yang berkenaan dengan media tanam aglaonema adalah, Kami menyadari bahwa media racikan ini memang bukanlah media tanam aglaonema nomor 1(satu) di dunia dan tidak memiliki jaminan tertentu, tetapi selama kami berkecimpung dengan aglaonema, dengan beberapa kali menggunakan media tanam baik yang telah ada di pasaran maupun yang telah kami racik sebelumnya (trial and error), kami merasakan media yang terakhir ini, yang telah memberikan keyakinan kepada kami untuk mendapatkan aglaonema yang lebih sehat, tumbuh subur, corak dipertahankan, perakaran tidak terhambat serta sedikit banyaknya telah memberikan hasi berupa “produksi” (baca: perbanyakan) agalonema.

Dari : http://www.fai-kao.com/2008/05/25/tips_perawatan_aglaonema_ala_fai_kao_com

Philodendron Tahan Lama dalam Ruangan

Sepot green congo di pojok ruang tamu terlihat segar, daun hijau mengkilap dan tak berkeriput. Padahal, philodendron itu sudah 1 minggu tak mendapat sinar matahari. Sang empunya hanya menyiram setiap 2-3 hari sekali.

Philodendron memang salah satu tanaman favorit penghias ruangan. Itu karena daya tahannya lebih tinggi dibandingkan tanaman hias lain, terutama dalam ruang bercahaya rendah dan ber-AC. Ketahanan tanaman berbeda untuk masing-masing jenis. Penelitian yang dilakukan di Universitas Illinois, Amerika Serikat, menunjukkan P. bipinnatifidum tahan 2 minggu tanpa mengalami perubahan kualitas dalam ruangan bertemperatur 13-16°C. P. erubense tahan pada suhu 22°C dalam durasi yang sama, sedangkan P. oxycardium tahan dalam kondisi gelap di ruangan bertemperatur 22°C.

Menurut Ir Hari Harjanto, perancang taman di Depok, selain tahan lama di dalam ruangan, philodendron menjadi pilihan menarik lantaran memiliki banyak variasi warna. Sebut saja black cardinal yang berwarna ungu; lemonade, hijau muda; dan sun light, jingga. Bentuk daun pun beragam mulai dari yang mirip hati, lanset, lanset berlekuk, hingga jari-jari.
Pupuk

Selain itu, ‘Pertumbuhannya lambat,’ kata Hari. Dengan begitu penampilan taman tak cepat berubah. Menurut Lanny Lingga, praktisi tanaman hias di Cisarua, Bogor, philodendron aman lantaran tak beracun karena kandungan kristal kalsium oksalatnya paling rendah di antara anggota keluarga Araceae. Kalsium oksalat menyebabkan iritasi kulit dan mata bila terkena percikan getah, serta penyakit kulit dermatitis pada orang yang kulitnya peka.

Yang paling penting, philodendron mudah dirawat. ‘Cukup dengan memberikan pupuk lambat urai yang dicampur media setiap 3-6 bulan, tanaman tampil sehat,’ ujar Sri Subekti, SP, staf lapangan bagian budidaya di nurseri Wijaya, Sentul, Bogor. Pupuk yang diberikan mengandung unsur N, P, dan K seimbang.

Kebutuhan hara tanaman di dalam ruangan rendah. Jadi, berikan pupuk berdosis rendah, 1/2 dari anjuran, agar fisiologi tanaman terkonsentrasi untuk mempertahankan kadar air dalam jaringan. Pupuk berlebih menyebabkan philodendron menyerap unsur N tinggi sehingga tanaman cepat layu.
Media

Dalam ruang ber-AC, philodendron mudah kering. Untuk mencegah hal tersebut gunakan media yang cukup mengikat air seperti cocopeat, humus, kompos, kaliandra, dan cocochip. Media dapat digunakan secara tunggal maupun campuran. ‘Yang penting mengikat air dan porous,’ kata Hari.

Penyiraman dilakukan setiap 2-3 hari sekali atau disesuaikan dengan kelembapan media. Untuk mendeteksi, masukkan jari ke dalam media tanam. Jika satu inci jari tangan terasa lembap, media tanam belum perlu disiram. Sebaliknya bila jari tangan kering, lakukan penyiraman.

Cara lain yang lebih praktis untuk menjaga kelembapan media dengan menggunakan sistem sumbu seperti yang dilakukan Lanny. Prinsip kerjanya seperti kompor minyak. Sumbu kain diletakkan di media secara vertikal mulai dari permukaan hingga menjulur ke dasar pot. Letakkan tatakan berisi air di bawah pot. Gaya kapilaritas akan menaikkan air dari tatakan ke media. Pastikan tatakan selalu berisi air. Dengan begitu media selalu dalam keadaan lembap tanpa penyiraman.
Segar

Agar kesegaran philodendron lebih lama, berikan perlakuan khusus sebelum anggota famili Araceae itu dimasukkan ke dalam ruangan. Semprotkan pupuk daun yang mengandung kalium ke seluruh bagian tanaman satu minggu sebelumnya. Kalium berfungsi memperkuat jaringan tanaman sehingga tahan terhadap perubahan kelembapan.

Bila menggunakan pupuk akar, lakukan pemupukan 2 minggu sebelumnya dengan dosis 300 g kalium nitrat untuk setiap kubik media. Itu karena pupuk akar lebih lambat terserap oleh tanaman dibandingkan pupuk daun. Pupuk daun bereaksi 2-3 hari setelah aplikasi, sedangkan pupuk akar sekitar 6 hari. Ketika tanaman sudah diletakkan di dalam ruangan, jangan beri perlakuan apa pun kecuali siraman air murni.

Untuk penyegaran, philodendron dikeluarkan 1-2 minggu sekali. Oleh karena itu, ‘Sebaiknya punya 3 tanaman untuk ganti-ganti,’ kata Hari. Keluar-masuk tanaman bisa diprogram tergantung dari daya tahan masing-masing philodendron. Contohnya, philo eceng mampu bertahan hingga 2 minggu, sementara philo ‘marble’ hanya seminggu.

Untuk mengembalikan kesegaran, letakkan philodendron di teras rumah atau tempat teduh sementara waktu. Berikan pupuk seimbang 1/2 dosis yang dianjurkan 2 kali seminggu. Selang 2 minggu philodendron siap menghias ruangan kembali. (Rosy Nur Apriyanti)

Dari : trubus-online.co.id