TANAMAN HIAS SUDAH MENJADI GAYA HIDUP KELAS MENENGAH KE ATAS?

Berkat aglo dan anthurium, gengsi tanaman hias dan penjualnya kini semakin mentereng. Konsumen juga tumbuh dari kelas menengah ke atas. Sayangnya, masih dinodai oleh nafsu investasi dan spekulasi. So what?

 

 
 
Dunia tanaman hias di Indonesia sungguh bergairah, ini tercermin dari kegiatan pameran yang begitu sering sampai di kota-kota kecil seperti Bantul, Muntilan, Tomohon. Pameran, fiesta, expo atau parade tanaman hias makin kerap digelar di bangunan mal di kota besar. Ajang tanaman hias juga mengambil tempat di kampus dan sekolah. Sejauh ini yang paling baik adalah acara tahunan Flora Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta.

Tanaman hias sudah menjadi ciri dari gaya hidup masyarakat kelas menengah dan atas. Di kota-kota besar, warga yang tinggal di perumahan maupun apartemen, dan bekerja di gedung perkantoran punya pemandangan hijau di sekitarnya yang dipancarkan oleh tropical green leaf , tanaman hias tropis. Tanaman hias adalah ornamen kehidupan sehari-hari manusia. Ia menjadi peneduh temperatur alam maupun jiwa. Menjadi peredam kebisingan, penghalang angin, pelengkap arsitektur, kreasi seni, menjadi hantaran. Di Amerika, gardening adalah kegiatan waktu luang paling populer.

Di banyak negara, ribuan jenis pepohonan, besar dan kecil, tanaman hias, bunga-bunga, sampai pun pada rumput yang bergoyang, menjadi andalan bisnis besar pariwisata yang dikemas dengan beragam tema. Ada botanical gardens, historic gardens, national parks . Atau tulip festivals, rainforests walk dan lain-lain. Singapura yang berhutan beton, toh bisa menjual tropical forest , Belanda yang “negeri secuil”, punya Keukenhof yang dicintai dunia.

Di Indonesia (imbasnya bisa sampai ke Thailand) belakangan ini, para juragan bunga dan tanaman pot, serta kolektor tanaman eksotis, tengah terserang mabuk asmara. Bukan oleh makin berkobarnya gairah cinta puspa, hobi atau koleksi, tapi oleh nafsu investasi dan spekulasi, untuk meraup gain melalui pencitraan, branding , adu gengsi, desas-desus, dan kalau perlu pengelabuan. Mendadak mewabah “demam anthurium”. Mendadak orang bisa beli mobil berkat anthurium. Mendadak pengusaha mengubah nurserinya, yang tadinya anggrek, ke anthurium. Ini sebenarnya bagian dari permainan pemburu rente dan pemegang uang panas, yang tiada passion samasekali terhadap tanaman.

Kita jangan terkesima oleh dadakan seperti itu, yang memang konsekuensi dari trend-setting yang bisa dibikin-bikin setiap musim, kendati untuk anthurium agak liar juntrungannya. Namun ada baiknya kita mengambil hikmah dari test-case si raja daun ini, yakni selera akan tanaman hias semakin meluas, dan dengan nilai yang semakin membubung pula. Dengan itu pula kita menarik agribisnis ini dengan derap yang lebih konsisten, strategis, berlanjut. Sebenarnya, tanpa disadari strategi “desa kepung kota” telah terbangun di sini. Petani atau pekebun bergiat di desa-desa dan secara berkala masuk ke kota dan menduduki alun-alun atau balairung, memamerkan hasil bumi mereka.

Kini juga semakin banyak kios tanaman hias di pusat-pusat perbelanjaan kota. Kita pun kerap melihat ibu-ibu atau bapak-bapak memarkir sedan di tepi jalan untuk mendatangi lapak dagangan tanaman hias. Pameran dan pengembangan nurseri sudah saling mengisi untuk menanggapi pasar tanaman hias yang makin membesar. Untuk membuat pasar lebih kumandang, pameran harus lebih sering digelar. Baiknya para pemangku kepentingannya duduk bersama menyusun agenda yang terangkai dan merata, dari suatu pameran ke pameran lainnya, dari suatu daerah ke daerah lainnya. Rangkaian itu rapat dan penuh untuk sepanjang tahun.

Juga setiap provinsi, kabupaten atau kota dibangkitkan kebanggaan dan semangat juangnya melalui penetapan bunga atau tanaman khas setempat sebagai floral emblem/ bunga resmi. RI sendiri, bertepatan dengan Hari Lingkungan 5 Juni 1990, mengadopsi sampai tiga bunga sebagai bunga Negara ( state flower ), yakni: Melati (Jasmine-Jasminum sambac), Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), dan Rafflesia (Rafflesia arnoldi). Harap diketahui bunga nasional Amerika Serikat, yakni mawar, ditetapkan melalui undang-undang oleh Kongres.

Anjuran penting lainnya, Indonesia perlu memiliki taman nasional bunga. Kita punya botanical garden , taman safari, taman margasatwa, taman nasional, taman laut, hutan raya. Harus pula dibangun taman raya khusus bunga dan tanaman hias tropis, satu di Indonesia bagian barat, satunya lagi di Indonesia bagian timur.

Daud Sinjal/ Tajuk Agrina 23 November 2007. Judul asli: Tanaman Hias, Ornamen Kehidupan Manusia

Diambil dari langitlangit.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s