CALADIUM: INDAHNYA DAUN KELADI PINGGIR KALI

Tanaman hias dalam ruangan, warna daun eksotis dan harganya terjangkau, itulah caladium, salah satu ikon tanaman hias yang kini muncul dengan varian baru berupa daun tumpuk membentuk angka 8 yang disebut-sebut sebagai pembawa hoki. Mampukah jadi jagoan?
 Tanaman hias dalam ruangan, warna daun eksotis dan harganya terjangkau, itulah caladium, salah satu ikon tanaman hias yang kini muncul dengan varian baru berupa daun tumpuk membentuk angka 8 yang disebut-sebut sebagai pembawa hoki.

Kebanyakan orang Indonesia mengenal caladium sebagai keladi atau talas. Tanaman ini merupakan tanaman yang menawarkan aneka corak daun yang begitu menawan. Meskipun di Indonesia seringkali ada anggapan bahwa caladium sebagai tanaman pinggir sungai, sesungguhnya tanaman ini memiliki pesona tersendiri. Banyak kultivar dari negeri Thailand ataupun Amerika Serikat (Florida) yang akan membuat orang terkesima melihatnya.

Tanaman hias caladium banyak sekali variannya. Pada 1932 saja sudah ada 160 jenis yang terdaftar dalam buku yang dipublikasikan Arjan Prasob Satetajit. Setiap tahun para penyilang caladium menghasilkan jenis-jenis baru. Pada 2007, jumlahnya pasti sudah berlipat-lipat.

Pesona Caladium terletak di daunnya. Lembaran daun caladium memiliki banyak corak dengan warna yang kontras dan menyolok. Ada yang berwarna hijau, hijau kemerahan, merah, hingga berwarna merah kecoklatan. Keindahan caladium juga ditunjang oleh bentuk serta ukuran daun yang bervariasi.

Namun, sayangnya tanaman ini banyak dikenal sebagai tanaman yang sulit menghasilkan daun dalam jumlah banyak secara serempak. Bahkan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan cara penanganan yang tidak benar bisa mengakibatkan caladium mengalami mogok tubuh.

Dormansi = Mogok Tumbuh?

Masa tidur atau mogok tumbuh seperti itu sering juga disebut sebagai dorman. Di habitat asalnya, caladium sering melakukan dormansi sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Semisal, suhu dan lama penyinaran yang tidak sesuai atau kekurangan zat hara dan air.

Dalam keadaan lingkungan yang menguntungkan, caladium tumbuh secara normal dan menimbun cadangan makanan dalam umbi. Jadi, organ di dalam tanah tersebut selain berfungsi sebagai alat perkembangbiakan juga bermanfaat sebagai gudang penimbun cadangan makanan. Semakin besar ukuran umbi, maka caladium bisa memiliki waktu tidur yang semakin lama pula.
Dengan adanya dormansi, banyak pehobi tanaman hias mengira bahwa caladium yang dimiliki telah mati. Maka tak heran jika pehobi tersebut lantas membongkar lalu membuang tanaman kesayangannya. Padahal, tanaman tersebut sebenarnya masih hidup, hanya saja ia tidak mengeluarkan daun ke permukaan tanah.

Membudidayakan caladium, sebaiknya tempatkan di tempat yang teduh dan terhindar matahari menyengat dan guyuran hujan deras. Usahakan di tempatkan di lingkungan dengan kelembaban tinggi. Pada kondisi tertentu seperti dipelihara di rumah plastik atau sungkup sangat dianjurkan.

Untuk media tanam, caladium membutuhkan media yang tetap basah tapi tidak becek apalagi air tergenang. Selain itu, media tanaman harus terbebas dari bibit penyakit seperti jamur, caranya harus melalui sterilisasi.
(Sumber: adinfoserpong.blogspot.com)

 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s