Penyewaan Tanaman Hias, Bisnis yang Menggiurkan

Liputan6.com, Jakarta: Kesibukan tinggi masyarakat perkotaan nyatanya membuka berbagai kesempatan usaha. Di antaranya, bisnis penyewaan tanaman hias untuk perkantoran yang hingga saat ini adalah bisnis yang menjanjikan. Namun, pengelolaan bisnis ini sebenarnya tak sesederhana yang dibayangkan orang. Tanaman, yang dipilih tak hanya indah, sejuk dipandang mata, dan juga minim perawatan, juga harus tersedia berbagai ukuran. Untuk hiasan meja hingga yang besar untuk penghias pintu utama gedung. Ini seperti yang dilakukan Maria Nurani yang menjalankan bisnis ini sejak 2003.

Maria menuturkan, usahanya ini berawal dari hobinya memelihara tanaman hias. Seiring itu, Maria mengaku menerima pesanan untuk merangkai bunga, menjual tanaman, dan bunga hingga pada akhirnya memberanikan diri untuk merambah ke usaha penyewaan tanaman hias.

Dalam menjalankan bisnisnya, Maria menjelaskan ada berbagai sistem. Ada sistem rental untuk kantor dan hotel yang biasanya pakai kontrak minimal tiga bulan dengan minimal 10 tanaman. Perumahan juga sekarang banyak yang rental tanaman, terutama untuk ekspatriat. Selama kontrak itu, mereka akan mengganti tanaman dua pekan sekali. “Tanaman yang lama ditarik, kita ganti yang baru,” ujar Maria.

Maria menambahkan, harga sewa tanaman yang ditawarkan juga cukup beragam. Mulai harga sewa per tanaman dari Rp 30 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Koleksi tanaman hias dan bunga yang ditawarkan juga cukup beragam. Di antaranya Brumelia, Drasena, Palem Bambu, Pandan Bali, dan Angrek.

Andreas Oei adalah sosok lain yang menjalankan bisnis ini sejak 10 tahun silam. Dibantu 20 orang karyawan, Andreas mampu memberikan benefit yang maksimal kepada 300 pelanggannya. Pasalnya, sejak awal bisnisnya menerapkan strategi khusus dalam pemilihan jenis tanaman agar memberikan benefit yang maksimal. Begitu juga dengan harga sewa dan sistem pemeliharaan, Andreas mengaku, memberikan masa pemulihan bagi tanaman setiap dua pekan sekali, yaitu dicuci dan penggantian media tanam.

Eksistensi usaha yang dijalankan Maria dan Andreas sesungguhnya tak lepas dari kiat-kiat usaha yang mereka tempuh. Di antaranya, harus menepati waktu pengiriman, memiliki keragaman jenis tanaman serta tanggap dalam merespons keluhan pelanggan. Sebagai sarana pelanggan berinteraksi, para pengusaha penyewaan taman ini juga memiliki website khusus yang bisa diakses tiap waktu. Pada masa mendatang, mereka optimistis secara konsisten menambah jumlah koleksi tanamannya sehingga mampu memenuhi setiap pesanan yang datang.(ORS/Tim Usaha Anda)

http://www.liputan6.com/lainlain/?id=119148

Bisnis tanaman hias tak lagi dianggap sebelah mata

Bisnis tanaman hias tak lagi dianggap sebelah mata. Para hobiis bisa merogoh kocek ratusan juta hingga miliaran untuk sebuah tanaman.

Rifyanto,salah satu pedagang di pameran Flora Fauna Jakarta 2007, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tak ragu untuk menjual sebuah tanaman jenis anthurium seharga Rp20 juta. Dia bahkan memiliki jenis lain yang mencapai Rp1,4 miliar.

Apabila dilihat dari bentuknya, sulit mempercayai tanaman itu berharga miliaran. Alih-alih memperlihatkan bunga yang cantik,anthurium hanya didominasi daun-daun lebar seperti bakau atau sayuran sawi. Bagi hobiis,dedaunan itulah yang melambangkan kegagahan dengan garis-garis bertekstur tegas.Tidak hanya daun, tunas anthurium adalah lumbung emas.

Bayangkan, harga sebuah tunas bisa mencapai Rp500 ribu. Apa sebenarnya yang membuat tanaman ini mahal? Menurut Dani, penjual anthurium di Flora Fauna Jakarta 2007, tanaman tersebut termasuk langka. Apalagi, anthurium juga susah dibudidayakan.

”Meski tak membutuhkan perawatan rumit, tanaman ini tidak bisa dibudidaya melalui kultur jaringan.Bibitnya pun masih sulit didapat. Sebagian masih didatangkan dari Solo,” katanya. Sebagian penjual lainnya berpendapat karena ulah kolektor serta pebisnis tanaman hias.

”Harganya melonjak karena tanaman ini banyak dicari orang. Pedagang berduit biasanya membeli dalam jumlah borongan, sehingga stok dipasaran sedikit. Mereka kemudian menjual koleksinya itu dengan harga yang sangat mahal,” ucapnya. Faktor lain pendongkrak harga tanaman ini adalah pameran. Saat penjual mengikuti pameran, mereka akan menaikkan harga tanaman hingga menarik perhatian pengunjung.

Harga yang ditawarkan para penjual memang fantastis. Semua tanaman anthurium dari jenis jenmanii ataupun hookeri dijual di atas Rp1,5 juta.Banyak juga yang menembus angka Rp20 juta. Tahun ini boleh jadi tahunnya anthurium. Tapi ini bukan yang pertama. Pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa jenis tanaman lain tak kalah populer.Dan tentu saja,harganya juga selangit.Sebut saja aglaonema dan adenium.

Di Indonesia, aglaonema lebih dikenal dengan sebutan sri rejeki atau chinese evergreen. Genus aglaonema terdiri dari 30 spesies. Aglaonema memiliki tingkatan harga yang bervariasi. Mulai Rp1.500 per daun untuk jenis donacarmen, hingga Rp5 juta per daun (jenis Tiara). Setiap tanaman bisa berupa bibit dengan satu atau dua daun, hingga yang berdaun cukup banyak.

Tiara, misalnya, sempat membuat sensasi dengan harga jual mencapai nilai Rp5 juta per daun. Hingga kini, aglaonema kreasi Gregorius Hambali ini masih diminati oleh para hobiis dan kolektor tanaman karena warnanya yang indah. Satu tanaman dengan tujuh tunas muda yang dipisahkan menjadi bibit bisa terjual hingga Rp30 juta. Sejak kemunculannya, tiara telah menaikan harga aglaonema lain.

Seiring dengan terkenalnya aglaonema, demam adenium juga mulai merebak. Tanaman yang dikenal dengan sebutan kamboja jepang ini menarik perhatian karena bunga dan bonggolnya yang mampu membesar seperti bonsai. Bagian akar tanaman itu juga termasuk bagian yang disukai.Bagian akar ini dapat menggembung dan berbentuk unik.

Mulai dari tangan, telapak kaki, hingga paha. Harganya pun semakin mahal. Harga tanaman dengan bonggol yang sudah jadi beserta rimbunnya bunga bisa mencapai jutaan rupiah. Di sebuah pameran adenium dalam sebuah pot dengan akar menggelembung dan bunga rapat ditawarkan Rp.30 juta. (wahyu/CR-13/CR-08)

Sumber: Koran Sindo