Pilihan Nyaman Buat Karotong

Tiga pasang tangan kekar terlihat susah payah mengangkat pot berdiameter 50 cm berisi puring polkadot. Pot dengan Codiaeum variegatum setinggi 1 m itu ajek meski digeser ke kiri dan kanan. Musababnya, si empunya tanaman menggunakan media berupa campuran tanah merah dan pupuk kandang. ‘Media itu bagus, tapi terlalu berat untuk tanaman dalam pot,’ kata Fredy Wiyanto, pekebun di Tangerang.

Media tanah merah memang banyak dipakai pekebun puring. Menurut Ir Arie Wijayani Purwanto MS, tanah merah dipilih karena puring dianggap tanaman bandel. ‘Di tanah merah lapisan bawah (seperti di pemakaman, red) pun dapat tumbuh,’ kata dosen Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian UPN Yogyakarta itu. Puring pun mampu beradaptasi di tanah liat hingga berpasir. Tanah liat mengikat air dengan kuat, tapi sulit dilewati air. Sebaliknya tanah berpasir kurang mengikat air, tapi mudah dilewati air.

Lantaran bandel, banyak kolektor dan pekebun meniru media tumbuh puring di alam untuk penanaman di pot tanpa modifikasi sama sekali. Lazimnya mereka membuat campuran 50-80% tanah merah dan sisanya pupuk kandang atau kompos. ‘Padahal kondisi mikro di pot dengan di lahan berbeda,’ kata Fredy. Di pot jumlah air, hara, dan udara serbaterbatas. Karena itu dibutuhkan media porous, artinya mudah memegang air sekaligus gampang dilewati air. Bila media terlalu kuat mengikat air, daerah perakaran becek sehingga akar gampang busuk. Sebaliknya bila terlalu mudah dilewati air, daerah perakaran kering.

Media terlalu basah atau kering berisiko kematian bagi puring muda yang baru dipindahkan. Setahun silam, seorang eksportir di Tangerang gagal menanam croton impor karena menganggap enteng media. Dari 1.000 tanaman yang diimpor hanya setengahnya selamat. Media tanah pun punya kelemahan: berat. Padahal sebagai potplant tanaman harus mudah dipindah, digeser, dan diputar. Yang disebut terakhir agar arah tumbuh daun merata ke segala arah. ‘Media ringan penting agar perawatan mudah,’ kata Arie.

Porous dan ringan

Pengalaman pekebun sukses bisa jadi rujukan memilih media tepat untuk puring. Fredy memilih media campuran cocochip alias potongan sabut kelapa, humus bambu, dan tanah merah dengan komposisi 60:15:25. Tanah merah tetap digunakan karena berperan mengikat akar. ‘Bila media tak mengikat akar, tanaman gampang roboh,’ ujarnya. Komposisi media itu mirip dengan yang dipakai pekebun di Bangkruey, Thailand. Di sana cocochip memang populer sebagai campuran utama media tanam. Agar tanin pada cocochip hilang, pastikan sebelum dipakai direndam air selama seminggu, lalu dikeringkan.

Menurut Prof Dr Dedik Budianta, pakar ilmu tanah di Jurusan Tanah Universitas Sriwijaya, cocochip mempunyai sifat khas. Ia bahan organik berbahan sabut kelapa yang mudah mengikat air. Namun, karena dibentuk berupa potongan maka cocochip mudah dilewati air. Itu karena permukaan antarpotongan saling bersentuhan membentuk pori makro. Ruang itu diisi oleh udara dan menjadi saluran keluarnya air. Berbeda dengan cocopeat yang berbahan sabut kelapa tapi berbentuk serbuk. Cocopeat kuat memegang air tapi sulit dilewati air sehingga rawan menggenang.

Di Yogyakarta, Linda Irawati memilih campuran media lain yang juga ringan. Pemilik nurseri Camelia itu menggunakan campuran humus bambu dengan pupuk kandang. Perbandingannya 5:1. Humus bambu merupakan serasah daun bambu yang telah melapuk dan banyak ditemukan di lantai kebun bambu. ‘Bentuk fisiknya sudah seperti tanah,’ kata Linda. Agar air mudah keluar dari pot, Linda membuat lubang di dasar dan pinggir pot lebih banyak. Dengan campuran itu kura dan oscar koleksi Linda tumbuh subur.

Menurut Dedik, humus bambu kaya hara makro dan mikro yang siap dipasok ke tanaman saat dibutuhkan. ‘Humus memiliki sifat mengikat hara agar tak mudah tercuci, tapi dapat diserap tanaman saat dibutuhkan,’ ujar Dedik. Bobot jenis bahan organik pun lebih rendah ketimbang tanah merah sehingga humus bambu lebih ringan. Kini humus bambu populer di kalangan pemain dan kolektor puring di seputaran Yogyakarta dan Jawa Tengah lantaran banyak tersedia.

Berbeda

Menurut Handry Chuhairy, pemilik nurseri Hans Garden, tak ada media mutlak agar puring prima. ‘Prinsipnya porous dan harus banyak tersedia sehingga mudah didapat,’ kata mantan atlet renang itu. Artinya, bahan lain yang sudah lazim seperti arang sekam, pupuk kandang, dan pasir bisa digunakan. Arang sekam matang mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, dan tidak gampang menggumpal. Peran pasir agar campuran media porous.

Bila bahan itu yang dipakai, komposisinya menjadi tanah, arang sekam, pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1. Atau tanah, pasir, dan kompos dengan komposisi 2:1:1. Toh itu pun masih bisa diutak-atik. ‘Pilih yang paling cocok dengan lingkungan mikro di tempat masing-masing,’ kata Handry. Bila lingkungan terlalu kering, tambahkan bahan yang mudah mengikat air. Sebaliknya bila lingkungan basah, berikan media yang mudah dilewati air dan perbanyak lubang pot. (Destika Cahyana/Peliput: Imam Wiguna dan Nesia Artdiyasa)

 

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s