Limbah Tahu Disulap Jadi Pupuk

Tak semua limbah merugikan manusia. Limbah cair pembuatan tahu, misalnya, bisa disulap menjadi pupuk organik cair yang kaya manfaat. Hal ini sudah dibuktikan oleh sejumlah petani di wilayah kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo.

Zainuddin, seorang petani asal Desa Randupitu Gending adalah salah satu contoh sukses pemanfaatan pupul limbah tahu cair itu. “Alhamdulillah, selain harganya murah hasil pertaniannya juga bisa lebih baik,” ujarnya.

Zainuddin mengaku sudah setahun setengah memanfaatkan limbah tahu menjadi pupuk organik cair. “Sejak awal 2007 saya sudah memulai memanfaatkannya. Sampai saat ini terus berkembang,” ujarnya.

Selain Zainuddin, kepala desa Randupitu Edi Sumarwito juga mengecap keberhasilan yang sama. “Biasanya limbah merugikan manusia. Tapi yang satu ini tidak. Bisa diolah menjadi pupuk dan menyuburkan tanaman,” katanya.

Sebagai pengganti pupuk urea, pupuk cair dari limbah tahu sangat dibutuhkan tanaman. Hampir 15 hari sekali Zainuddin dan Edi memupuk lahan pertanian mereka. Kalau biasanya mereka menghabiskan satu kuintal urea untuk sekali pemupukan, sejak ada pupuk limbah tahu itu jumlah kebutuhannya berkurang separo.

Kondisi seperti itu tentu saja bisa menguntungkan petani. “Limbah tahu bisa didapatkan gratis. Pupuknya bisa dibuat sendiri,” jelas Zainuddin.

Zainuddin tak memanfaatkan pupuk limbah itu sendirian. Jika ada petani yang membutuhkan, ia tak segan menjual pupul limbah buatannya. “Lumayan. Satu liter bisa laku Rp 4.000. Dalam sebulan, 100 liter pupuk organik bisa habis saya pakai sendiri dan dijual kepada petani lain,” terangnya.

Meski tidak bisa dibilang mahal, bukan berarti Zainuddin tak mengeluarkan modal. Untuk menyulap limbah tahu menjadi pupuk cair organik ia harus mengeluarkan ongkos dan tenaga.

Untuk membuat pupuk organik cair yang bermanfaat Zainuddin harus memahami formulanya. Tak boleh sembarangan. Ada takaran ideal untuk membuatnya. Kepada Radar Bromo Zainuddin menjelaskan proses pembuatan pupuk limbah itu. “Untuk 60 liter limbah tahu, saya menambahkan 2 Kg daun serai, 5 Kh temulawak, 20 liter air kelapa, 1 liter alkohol, dan 2 liter bahan mikroorganisme,” jelasnya.

Setelah dicampur berbagai bahan itu, calon pupuk organik cair itu diperam selama minimal 15 hari. “Semakin lama semakin baik,” katanya.

Untuk memudahkan petani memanfaatkan limbah tahu menjadi pupuk, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo telah membuat MoU dengan pabrik tahu. Isinya, meminta pemilik pabrik tahu tak memungut biaya apapun bila ada petani mengambil limbah pabrik mereka. “Program ini sudah kami rancang sejak 2006 lalu,” ujar Isdarwanto Kabid Tata Lingkungan dan Kelembagaan Badan Lingkungan Hidup.

Teknologi pemanfaatan limbah tahu itu sebenarnya tidak terbatas pada limbah tahu saja. Air tajin sisa menanak nasi juga bisa dimanfaatkan untuk hal yang sama. “Teknologi ini kami dapatkan dari hasil ngelmu di LIPI. Selain itu juga melalui bimbingan dari salah seorang petugas pengamat hama dan penyakit Dinas Pertanian Pemprov Jatim,” ujar Yusdi V Fandi, salah seorang staf yang menemani Isdarwanto. (nyo-jawapos)

4 thoughts on “Limbah Tahu Disulap Jadi Pupuk”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s