Arsip Kategori: Alokasia

Membuat Daun Alocasia Lebih Memesona

Alocasia merupakan salah satu jenis tanaman liar yang tumbuh di hutan. Sama seperti keluarga Araceae lainnya, keelokan Alocasia terpancar dari keindahan daun-daunnya. Sepintas, daun Alocasia memang mirip dengan Caladium, Colocasia, dan Xantoshoma . Yang membedakan adalah posisi munculnya perbungaan, daunnya lebih tebal dan kokoh, urat daunnya lebih menonjol dengan warna mencolok, serta beberapa spesies daunnya dilapisi beludru dan berbulu.

Dari segi warna, umumnya daun Alocasia berwarna hijau. Tidak seperti Caladium yang lebih berwarna-warni. Hanya ada beberapa spesies Alocasia yang permukaan bawah daunnya berwarna merah marun. Sedangkan dari ukuran, daun Alocasia juga lebih besar dari Caladium .

Berdasarkan hal itu pula, tak heran jika Alocasia menjadi salah satu tanaman hias daun yang eksotis. Keindahannya bukan hanya terpancar dari bentuk daunnya, tetapi juga dari corak tulang daunnya yang menonjol dan kaya variasi.

Namun, Alocasia harus mendapatkan perlakuan ‘istimewa’. Selain akan mendapatkan keindahan yang maksimal dan pertumbuhan yang sempurna, daya jual dan harga tanaman ini pun nantinya akan meningkat.

Berikut ini beberapa tip yang bisa dipraktikkan untuk mempercantik daun Alocasia Anda.

•  Agar batang Alocasia tidak lunglai.
  Tindakan yang harus dilakukan pertama kali adalah menempatkannya di lingkungan yang sesuai dengan sifat tumbuhnya. Panas sangat berpengaruh terhadap kekuatan batang. Alocasia yang cukup mendapat paparan cahaya matahari akan memiliki batang yang kokoh dibandingkan dengan Alocasia yang kekurangan cahaya matahari.

   Sedangkan jika ada tangkai daun yang lunglai, pasang penyangga berupa bambu, plastik, atau besi.

•  Memunculkan warna daun.
   Warna daun Alocasia yang diletakkan di tempat gelap atau ditanam terlalu dalam tidak sebagus Alocasia yang diletakkan di tempat yang pencahayaannya memadai. Biasanya, warna-warna yang muncul cenderung kusam. Karena itu, unsur pencahayaan perlu mendapat perhatian serius para penggemar Alocasia .

   Media tanam yang kandungan keasamannya tinggi juga dapat memicu warna daun menjadi gelap. Dengan demikian, aplikasi media tanam yang tepat untuk Alocasia dapat memengaruhi warna yang dihasilkan. Langkah praktis untuk mempercantik warna daun bisa dilakukan dengan mengelap daunnya secara rutin menggunakan cairan leaf-shine yang telah dicampur air. Jika cairan leaf-shine sulit didapat, gunakan susu bubuk atau santan kelapa, hasilnya pun tak kalah kinclong.

   Bersihkan juga secara teratur, gulma yang “numpang” tumbuh di media tanam agar tak mengganggu keindahannya.

•  Agar daun rimbun dan kompak.
   Agar daun Alocasia tumbuh rimbun, pilih Alocasia yang batangnya telah bertunas. Semakin banyak tunasnya, daunnya akan semakin rimbun.

   Selain itu, Anda juga dapat memotong daun-daun yang telah tumbuh, terutama daun-daun yang telah tua, kering, atau posisinya tidak enak dilihat. Misalnya, daun yang jatuh terkulai atau tumbuh melebar. Sebab, pemotongan daun juga mampu memacu pertumbuhan tunas baru, sehingga Alocasia tampak lebih rimbun.

Tip mempercantik daun Alocasia ini dapat Anda simak lebih jauh dalam buku Mempercantik Daun Alocasia yang ditulis oleh Redaksi AgroMedia Pustaka. Selain mengenalkan aneka jenis Alocasia , buku ini juga menyajikan tata cara merawat Alocasia , menanggulangi hama dan penyakit pada Alocasia , perbanyakan Alocasia , serta prediksi mengenai tren Alocasia .

MERAWAT ALOKASIA: Kuncinya Pada Media Tanam

Daerah berbeda, media lain pula. Tergantung suhu dan kelembapan. Membuat alokasia bikin penasaran.
AKHIR-AKHIR INI, FAMILI ARACEAE SEDANG NAIK DAUN. MULAI DARI AGLAONEMA, anthurium, keladi hias hingga philodendron. Berganti-ganti mereka mendominasi percaturan tanaman hias Indonesia.
Klik untuk melihat foto lainnya…
Mengapa famili Araceae menjadi tren? Jika ditelisik lebih jauh, Indonesia memang gudangnya Araceae. Ba-nyak spesies unik bahkan beberapa ada yang endemik. Salah satu famili Araceae adalah alokasia. Walaupun belum menjadi tren, namun beberapa kolektor telah mengoleksinya.

Adalah Waiter Agustin, salah seorang kolektor aneka jenis alokasia di Junrejo, Batu, Malang, Jawa Timur. Saya tertarik dengan bentuk dan warna daunnya yang macam-macam. Juga kalau diperhatikan, corak tangkai daun bermacam-macam, terangnya. Bentuk dasar daun mirip famili Araceae lain, yaitu berbentuk hati. Modifikasi selanjutnya, ada yang membulat seperti telinga, dan meruncing menyerupai anak panah.

Perihal warna, ragamnya juga banyak. Antara lain, ada yang berwarna perak dinamai alokasia silver. Yang hitam bergaris disebut alokasia black velved.
Hal itu juga yang membuat Frankie Handoyo – kolektor anggrek, melirik alokasia. Terkadang daunnya bagus, tetapi begitu dipelihara sungguhan malah busuk lalu tak berdaun, akunya.

Nah, bagaimana sebenarnya cara merawat alokasia?

SUKA HUMUS BAMBU
Bila dilihat dari kerabatnya, alokasia menyukai tempat teduh. Jika diukur kebutuhan cahaya, hanya membutuhkan 400 foot candles. Atau kira-kira cahaya di bawah naungan net 60%. Di habitat aslinya, alokasia tumbuh di bawah naungan pohon besar dan lembap. Sedangkan suhu idealnya sekitar 20-25 °C. Jadi cukup sejuk. Sebagai gambaran, suhu siang hari di Jakarta normal-nya sekitar 30 – 32 °C.

Tetapi ‘teori’ itu tidak selamanya bisa diterapkan di setiap tempat. Makanya, beberapa hobiis merasa kesulitan menumbuhkan alokasia. Saya pernah mendapat alokasia dari Kalimantan, dibalut tanah padat tumbuh bagus. Begitu dipindahkan ke media yang bagus, malah mati, aku Frankie.

Padahal seharusnya, alokasia tumbuh bagus di media berhumus. Di habitat aslinya, alokasia tumbuh di seresah daun. Akarnya yang lunak mudah menembus pada media semacam itu.
Frankie menyimpulkan, media paling bagus menggunakan kompos daun bambu. Kemudian dicampur dengan tanah lempung. Lebih bagus lagi, jika tanah itu berasal dari lokasi asal alokasia. Disarankan untuk tidak diberi pasir malang. Kendati dapat membuat porus, namun agaknya tidak disukai alokasia.

Sementara Walter menggunakan media lebih sederhana. Hanya campuran kompos, tanah, dan sekam men-ah. Dengan media ini, alokasianya tumbuh bagus. Barangkali ini disebabkan karena lokasi. Di Batu yang berhawa sejuk dan lembap cukup dengan media semacam itu.
Selanjutnya untuk penyiraman, jangan terlalu sering. Yang jelas alokasia tidak suka basah tetapi suka lembap. Jika udara terasa kering, siram di sekitar pot agar lembap.

AWAS CENDAWAN
Pupuk buatan tidak mutlak diperlu-kan. Paling-paling hanya pupuk daun diberikan dua minggu sekali. Selama humus atau kompos masih tersedia di dalam media, pemupukan tidak perlu dilakukan.

Yang perlu diwaspadai adalah hama dan penyakit. Di Jakarta, hama kutu putih (millibug) kerap menyerang. Menempel di balik dedaunan yang menyebabkan daun menguning lalu mati. Jika ditemukan hama ini, lekas ambil dengan tangan. Jika banyak, perlakuan insektisida diperlukan.

Selain hama, penyakit cendawan merupakan musuh utama. Tiba-tiba daun membusuk dan cepat sekali menjalar. Yang paling gawat jika menyerang umbi. Gejalanya tidak dikenali. Jika daun sudah kuning, ternyata umbinya sudah rusak berat. Untuk menghindarinya, jangan sampai me-nyiram berlebihan. Satu lagi, jika memisahkan anakan yang menimbulkan luka, olesi luka itu dengan fungisida. Dengan demikian cendawan ogah menyerang. *

TIPS: MENCEGAH DORMAN
Beberapa spesies alokasia kerap mengalami dorman. Tiba-tiba tanaman mengering, lalu lenyap dari permukaan tanah. Kalau digali umbinya masih segar, berarti tanaman itu belum mati, hanya dormansi. Tentu saja ini mengecewakan para hobiis. Cara mencegahnya?

Kalau media masih banyak mengandung humus, dormansi tidak terjadi, kata Frankie. Karena dormansi merupakan mekanisme tanaman untuk bertahan hidup dari kondisi minimal hara. Makanya, setiap 6 bulan sekali media harus diganti. Tidak perlu repotting, asal humusnya tetap tersedia.

http://www.indonesiaindonesia.com

SENTHE WULUNG : ALOKASIA JAWA

Tanaman berdaun lebar ini mudah sekali tumbuh di penjuru bumi pertiwi. Kabarnya, tahun depan senthe bakal menjadi primadona baru, menggantikan posisi Anthurium. Masyarakat pedesaan percaya daun senthe bisa menghalau teluh, atau wulung.
 
Kalangan pehobi tanaman sudah mulai mereke-reka, kira-kira tanaman apa yang akan menggantikan posisi Anthurium sebagai primadona. Banyak yang meramalkan, senthe adalah salah satu jenis tanaman yang potensial menduduki posisi prestisius tersebut.Salah satu jenis senthe yang dikabarkan akan naik harkatnya adalah senthe hitam, alias senthe wulung (Alocasia plumbea). “Pasalnya, di pasaran tanaman ini mulai jarang dijual, tapi banyak dicari orang. Kayaknya pedagang sedang “menumpuk” senthe dan bakal dikeluarkan tahun depan,” duga Tintin Ryanti dari Monagique Nursery.

Benarkah senthe hitam akan booming tahun depan? Banyak orang yang meragukannya. “Tanaman ini pertumbuhannya sangat gampang dan mudah dicari. Jadi, enggak mungkinlah dicari orang kemudian harganya jadi mahal,” tutur pemilik nursery lain.

Benar. Senthe memang merupakan tumbuhan liar yang biasanya hidup di pinggiran sungai, persawahan, rawa, empang ataupun tegalan yang lembap. Karena tumbuh liar dan banyak, senthe kerap diabaikan. Itu sebabnya banyak yang meremehkan senthe bakal melangit harganya di tahun depan.

Apapun, senthe yang masuk ke dalam keluarga Alokasia ini banyak jenisnya. Selain senthe hitam, ada senthe berdaun lebar berwarna hijau yang kerap dijadikan payung oleh masyarakat pedesaan di saat hujan, yang biasa disebut talas hutan (Alocasia macrorhiza). Ada juga yang menyebutnya Java Black Alocasiase. “Bahkan ada yang variegata (bintik putih di daun),” ujar Hadi Warsita dari Fay Nursery.

KELUAR AIR
Lantas, apa, sih, keunikan senthe? Hadi mengatakan, seperti halnya anthurium, keistimewaan senthe terletak pada daunnya. Ia pernah membeli senthe hitam senilai Rp 1,5 juta yang bentuknya seperti ular dengan tinggi 1,5 meter. “Daunnya berkerut di tengah, sangat unik dan cantik. Selain itu daunnya juga melebar dengan batang yang kokoh.”

Keunikan lain, daun senthe bergelombang dan di seluruh permukaannya terdapat tekstur yang indah, ditopang urat daun yang menonjol kokoh. Senthe yang ditanam di tanah, bila terawat dengan baik bisa mencapai tinggi 2 – 4 meter. “Sampai-sampai kita bisa berteduh di bawahnya. Tentu saja prosesnya sangat lama. Disimpan sebagai tanaman hias pun terlihat sangat cantik.”

Senthe milik Tintin lain lagi, termasuk jenis air mata bunda, yang daunnya akan mengeluarkan air di malam hari. Proses pengeluaran air di daun ini disebut gutasi, yang disebabkan oleh perbedaan suhu di dalam dan di luar tanaman. “Jadi kalau terkena sinar lampu daunnya akan mengilap,” cetus Titin.

MUDAH DIPERBANYAK
Sebagaimana sifat tanaman jenis Alokasia pada umumnya, senthe juga bandel. Selain tahan panas juga tidak rewel dalam hal perawatan karena pada dasarnya merupakan tumbuhan liar. “Kondisi udaranya kering tapi tanaman harus lembap. Karena memiliki bonggol bisa menyerap banyak air,” papar Tintin yang menyarankan menyiram cukup sore saja. Akan lebih baik jika dikasih pupuk untuk bonggol.

angan biarkan kutu, ulat, jamur putih, telur semut, binatang kaki seribu, dan belalang memakan senthe. Perhatikan juga media tanam yang terdiri dari sekam bakar, tanah, atau cocopeat. “Senthe sangat mudah dipebanyak, dengan bunga, biji, dan bonggol,” jelas Hadi.

Setelah bonggol dipotong, lalu jemur. “Perlu diperhatikan, jika asalnya sudah di tempat teduh simpan di tepat teduh. Begitu juga sebaliknya. Jadi, dari kecil sudah dibiasakan tempatnya. Biasanya kalau disimpan di tempat panas, daunnya akan lebih tebal. Sementara di tempat teduh lebih tipis,” tandas Hadi.

Sembuhkan Penyakit
1. Senthe biasa juga disebut lompong, kajar-kajar, tanaman talas besar yang banyak tumbuh di pekarangan rumah di Jawa.
2. Selain Alokasia, tanaman yang disebut senthe juga ada yang berasal dari rumpun Caladium.
3. Agar daun senthe terlihat mengilap, oleskan dengan minyak bayi.
4. Setelah melalui proses tertentu, umbi senthe bisa dipakai menyembuhkan kanker otak.

Koleksi: Monagique Nursery, Jl. Way Seputih Komp. Pengairan, Jakarta (021 5637453), Fay Nursery, Griya Depok Asri, Jl. Tole Iskandar, Depok.

Noverita K. Waldan

Dari : tabloidnova.com

ALOKASIA

Urat dan corak daun alokasia berbeda dan unik pada setiap jenisnya. Ada yang berwarna keperakan, berbentuk daun singkong, tengkorak, kano, atau mirip tokek karena belang-belang. Alokasia eksotis cocok dipakai sebagai tanaman indoor alias dalam ruang.

Terdapat sekitar 70 spesies alokasia yang tumbuh di Asia dan Amerika Selatan. Beberapa jenis alokasia contohnya Loterbachiana metallica dari Papua, A. Caprea atau keladi tengkorak, Black Velvet, A. Chaii dari Malaysia, Nebula elaine dari Kalimantan, serta alokasia perak dari Serawak. Beberapa hutan Indonesia dikenal sebagai habitat asli alokasia. Salah satu alokasia asli Indonesia adalah Alokasia suhirmaniana.

Alokasia suhirmaniana diperkirakan akan menjadi tren mendatang. Dra. Yuzammi, M.Sc, pembudidaya Alokasia suhirmaniana dari Kebun Raya Bogor (KRB) ini menemukan tanaman tersebut di hutan Sulawesi.

Alokasia temuannya ini mempunyai daun yang sangat khas. “Bentuknya seperti keladi hias, di bagian bawah warna daun ungu kehitaman, sedangkan di bagian atas hijau tua dengan tulang daun berwarna keperakan. Ini adalah jenis baru dan berbeda dengan yang lain,” papar Ami yang memberi nama alokasianya berdasarkan nama mantan Kepala Kebun Raya Indonesia, Dr. Ir. Suhirman, yang banyak memberi dukungan kepada para peneliti untuk meneliti tumbuhan keluarga Araceae dan mempublikasikan temuan spesies alokasia baru asli Indonesia di forum internasional.

Saat ini, alokasia yang menyukai tempat teduh ini menjadi tanaman yang banyak diincar para pehobi. “Ada yang dihargai per daun, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1,5 jutaan,” jelas Ny. Bambang dari Kesuma Flora.

Perkembangbiakan alokasia dari umbi-umbi kecil seperti bawang yang akan menjadi anak. Begitu tumbuh daun dia akan memisahkan diri dari induknya. Perbanyakan dengan setek yaitu memotong batang tepat di bawah daun yang paling tua. Kemudian membenamkan batang yang terpotong ke dalam air. Beberapa hari akar akan muncul.

TIBA-TIBA MATI
Menurut Ami, alokasia termasuk tanaman yang tidak rewel dan tahan banting. “Tidak seperti anggrek, ya, dimana butuh kesabaran tinggi saat merawatnya. Sedangkan alokasia yang penting syarat hidupnya terpenuhi seperti tanah harus porous dan tidak boleh terlalu padat. ”

Seperti tanaman lain, alokasia mengalami masa dorman, yaitu tiba-tiba tanaman mengering, lalu lenyap dari permukaan tanah. Untuk mengatasinya, sebaiknya setiap 6 bulan sekali media harus diganti. “Media yang bagus memegang peranan penting dalam setiap tanaman,” tutur Ny. Bambang.

Penyebab dorman macam-macam, antara lain, media tanam memakai tanah hingga akar sulit menembus. Kondisi media pun harus basah jangan kering.

Medianya yang biasa dipakai pakis, kompos daun bambu, kotoran sapi dengan perbandingan 1:1:1. Tak harus ditanam di pot, alokasia bisa tumbuh dengan baik di halaman karena aslinya memang tumbuh di hutan.

“Hanya saja hati-hati dengan penyakit seperti sarang laba-laba (millibug) atau kabut tipis. Sebaiknya daun dicuci atau dilap bersih dengan detergen. Tapi kalau sudah masuk ke dalam daun harus segera dibuang semua. Karena lama-lama daunnya akan berwarna kuning. Bisa juga disemprot dengan cairan pembasmi.”

TIDUR SINGKAT
1. Pada masa dorman atau “tidur”, umbi alokasia tetap membesar meskipun daun tidak mau keluar.
2. Dorman bisa terjadi sampai satu tahun. Tapi begitu “bangun” tanaman akan mengeluarkan banyak daun.
3. Saat terjadi dorman, diamkan saja tanaman, jangan dikorek-korek karena akan menimbulkan kebusukan.
4. Kurangi penyiraman, lembapkan di tempat lembap. Siram seminggu sekali tidak busuk umbinya.
5. Jika perawatan bagus, tanaman tidak akan mengalami dorman. Biasanya karena kebanyakan penyiraman sedangkan panasnya kurang.