Kesalahan-Kesalahan Pemeliharaan Anthurium

Dalam perawatan anthurium sebenarnya tidak membutuhkan langkah-langkah khusus yang sulit dilakukan, tetapi masih banyak para hobiis terutama pemula masih mengeluh bahwa Anthuriumnya mengalami gangguan penyakit hama atau jamur, daun kerdil dan pucat, terjadi kebusukan akar dan batang, tunas daun tumbuh abnormal, tangkai memanjang tidak seperti anthurium lain yang sejenis, tongkol tidak bisa jadi, dan masih banyak lagi.
Pada umumnya, berbagai gangguan tersebut di sebabkan beberapa kesalahan sebagai berikut :

1. Terlalu sering disiram
Para penghobi biasanya terlalu sayang pada tanamannya dan melakukan penyiraman terlalu sering karena takut Anthuriumnya mengalami kekeringan. Memang pada bagian atas media terlihat cepat kering tetapi mereka tidak mengecek kelembaban media dibagian dalam. Hal ini bisa di antisipasi dengan menggunakan media tanam seporous mungkin dan melubangi sisi pot untuk kebutuhan udara pada akar. Anthurium hanya membutuhkan kelembaban yang terjaga, bukan media yang basah terus menerus. Anthurium bisa menyerap makanan melalui udara karena itu berikan media yang tidak terlalu padat untuk menjaga susunan udara pada media tetap terjaga. Sebelum menyiram anda bisa mencelupkan jari anda pada media, apabila terasa masih lembab sebaiknya penyiraman ditunda dulu.

2. Takut memotong bagian tanaman yang sakit
Jika mengalami gangguan seperti daun timbul bercak yang cukup parah, para penghobi merasa sayang untuk memotong bagian yang sakit. Mereka melakukan pengobatan berharap daun yang sudah rusak ( kuning,kering ) kembali menjadi hijau. Perlu diperhatikan jika kerusakan sudah parah sebaiknya langsung di potong saja, karena penyebaran penyakit sangat cepat terutama jenis jenmanii. Anthurium yang sakit akan mengakibatkan pertumbuhan yang lambat, jadi lebih baik anda tidak ragu untuk memotong bagian yang sakit tetapi tunas baru bisa tumbuh lebih cepat.

3. Takut untuk mengecek kesehatan akar
Seringkali hobiis takut membongkar media untuk mengecek kesehatan akar Anthurium, mereka terlambat membongkar media dan kebusukan akar sudah parah, pada tingkat parah kebusukan akar bisa dilihat dengan pertumbuhan yang berhenti dan daun lama mulai menguning. Akar yang sehat sangat penting bagi optimalnya pertumbuhan Anthurium, apabila akar terlalu sedikit dan masih dalam penyembuhan nutrisi akan digunakan untuk tumbuhnya akar dulu, sehingga pertumbuhan tunas akan berhenti sampai akar tumbuh cukup banyak. Jadi lakukan pengecekan akar secara berkala dan jangan takut kalau Anthurium akan stress apabila dibongkar medianya, yang penting menjaga akar tidak putus ketika media di bongkar.

4. Ragu untuk melakukan repotting
Ukuran pot harus selalu disesuaikan dengan besar tanaman, umumnya para hobiis membiarkan Anthurium tumbuh besar tetapi pot tidak diganti. Yang terjadi akar tidak bisa tumbuh bebas dan saling membelit satu sama lain karena pertumbuhan akar sudah menyentuh batas tepi pot, hal ini menyebabkan Anthurium terganggu pertumbuhannya terutama pada ukuran induk yang menghambat pertumbuhan tongkol. Lakukan repotting ketika akar sudah menyentuh tepi pot, hati-hati jangan sampai teralu banyak akar yang putus, ganti media tanam lama dengan yang baru dan sterilkan terlebih dahulu.

5. Ingin yang serba praktis
Anthurium berharga mahal tentu saja hanya dimiliki oleh kalangan berduit yang tentu saja menjalani kesibukan dalam rutinitas sehari-hari. Umumnya mereka hanya memberikan pupuk kimia yang praktis dalam kemasan dan meninggalkan pemakaian pupuk organik. Dan biasanya karena ingin Anthurium cepat tumbuh besar mereka memberi pupuk kimia terlalu banyak/over dosis. Pupuk organik juga dibutuhkan untuk lebih cemerlangnya tampilan daun Anthurium ataupun produktivitas tongkolnya, dan terjadinya over dosis pada pemberian pupuk kimia sangat fatal akibatnya. Tetaplah memakai pupuk organik dan pergunakan pupuk kimia sesuai dosis yang dianjurkan.

6. Tidak bisa bedakan variegata dan penyakit
Seringkali karena melihat warna daun yang kuning atau putih samar para hobiis mengira bahwa tanamannya mengalami mutasi menjadi variegata. Nah beberapa hari kemudian mereka baru menyadari bahwa itu disebabkan gangguan hama, jamur atau kekurangan unsur yang dibutuhkan. Ini masih sering terjadi terutama pada pemula yang memang belum tahu tentang variegata yang sebenarnya.

7. Lupa untuk menjemur di sinar matahari
Bagi para penghobi yang belum punya green house yang memenuhi syarat dengan naungan shading net, umumnya anthurium diletakkan di teras atau dalam ruangan yang teduh di dalam rumah. Apalagi dengan banyaknya kasus pencurian anthurium mereka takut anthuriumnya hilang dan selalu menempatkan didalam ruangan tanpa memperhatikan kebutuhan sinar matahari untuk fotosintesis. Rajin-rajinlah menjemur Anthurium di pagi hari semakin sering semakin baik, untuk menjaga kesegaran warna dan tumbuh roset sesuai harapan.

8. Terlalu rajin mengkilapkan daun
Karena ingin Anthuriumnya selalu tampil bersih dan indah, para hobiis mengkilapkan daun dengan cairan pengkilap kimia dengan intensitas terlalu sering. Untuk pengelapan sehari-hari sebenarnya cukup menggunakan air bersih ( air mineral kemasan ) atau air biasa yang sudah diendapkan. Pengkilapan dengan cairan khusus cukup dilakukan dua minggu sekali atau sebulan sekali. Jika terlalu sering akan meng

Iklan

BUDIDAYA TANAMAN ANTHURIUM

PENDAHULUAN
Anthurium adalah tanaman hias tropis, memiliki daya tarik tinggi sebagai penghias ruangan, karena bentuk daun dan bunganya yang indah, Anthurium yang berdaun
indah adalah asli Indonesia, sedangkan yang untuk bunga potong berasal dari Eropa.
Di Indonesia tidak kurang terdapat 7 jenis anthurium, yaitu Anthurium cyrstalinum (kuping gajah), Anthurium pedatoradiatum (wali songo), Anthurium andreanum,
Anthurium rafidooa, Anthurium hibridum (lidah gajah), Anthurium makrolobum dan Anthurium scherzerianum.

PERBANYAKAN
Anthurium dapat diperbanyak dengan 2 cara, yaitu generatif (biji) dan vegetatif (stek).
1. Perbanyakan dengan cara generatif (biji)
Tanaman anthurium memiliki 2 macam bunga (Gambar 1) yaitu bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan ditandai oleh adanya benang sari, sedangkan bunga betina ditandai oleh adanya lendir. Biji diperoleh dengan menyilangkan bunga jantan dan bunga betina.
Dengan menggunakan jentik, bunga sari diambil dan dioleskan sampai rata di bagian lendir pada bunga betina. Sekitar 2 bulan kemudian, bunga yang
dihasilkan sudah masak, di dalamnya terdapat banyak biji anthurium. Biji-biji tersebut di kupas, dicuci sampai bersih dan diangin-anginkan, kemudian ditabur
pada medium tanah halus. Persemaian ditempatkan pada kondisi lembab dan
selalu disiram.
2. Perbanyakan dengan cara vegetatif (stek)
Ada 2 cara perbanyakan secara vegetatif, yaitu stek batang dan stek mata tunas.
Cara perbanyakan dengan stek batang adalah memotong bagian atas tanaman (batang) dengan menyertakan 1 – 3 akar, bagian atas tanaman ‘yang telah dipotong kemudian ditanam, pada medium tumbuh yang telah disiapkan (Gambar 2). Sebaliknya perbanyakan dengan mata tunas adalah mengambil satu mata pada cabang, kemudian menanam mata tunas pada medium tumbuh
yang telah disiapkan (Gambar 3). Cara tabur biji dan stek disajikan pada
Gambar 4.

PENYIAPAN MEDIUM TUMBUH
Berdasarkan kegunaannya, medium tumbuh dibagi menjadi 2 macam, yaitu medium tumbuh untuk persemaian dan untuk tanaman dewasa. Medium tumbuh terdiri dari campuran humus, pupuk kandang dan pasir kali. Humus
atau tanah hutan dan pupuk kandang yang sudah jadi di ayak dengan ukuran ayakan 1 cm, sedangkan pasir kali di ayak dengan ukuran ayakan 3 mm.
Humus, pupuk kandang dan pasir kali yang telah di ayak, dicampur dengan perbandingan 5 : 5 : 2. Untuk persemaian, medium tumbuh perlu disterilkan dengan cara mengukus selama satu jam.

PENYIAPAN POT
Untuk menanam bunga anthurium, dapat digunakan pot tanah, pot plastik atau pot straso. Pot yang paling baik adalah pot tanah karena memiliki banyak pori-pori yang dapat meresap udara dari luar pot. Apabila digunakan pot yang masih baru, pot perlu direndam dalam air selama 10 menit. Bagian bawah pot diberi pecahan genting/pot yang melengkung, kemudian di atasnya diberi pecahan batu merah setebal 1/4 tinggi pot. Medium tumbuh berupa campuran humus, pupuk kandang dan pasir kali dimasukkan dalam pot(Gambar 5).

PEMELIHARAAN
Setelah tanam, tanaman dipelihara dengan menyiram 1 – 2 kali sehari. Daun yang sudah tua atau rusak karena hama dan penyakit, dipotong agar tanaman tampak bersih dan menarik. Sebaiknya tanaman ini dipelihara di
tempat teduh karena tanaman tidak tahan sinar matahari langsung.

Oleh : – Sariati, asisten Teknisi Litkayasa BPTP Karangploso

PURING: BENTUK DAUNNYA INDAH & VARIATIF

Bentuk dan warna daun Puring yang eksotis, membuat jenis tanaman yang satu ini memiliki prospek ekonomi di masa depan.

Saat ini, perhatian masyarakat pecinta dan kolektor tanaman hias masih tertuju pada Anthurium. Uang puluhan hingga ratusan juta rupiah bukan persoalan untuk mendapatkan jenis tanaman hias tersebut. Maka, tak heran pada calo dan makelar tanaman jenis ini pun tumbuh subur laksana rumput di musim hujan. Lanjutkan membaca PURING: BENTUK DAUNNYA INDAH & VARIATIF

ARTI BONGGOL PADA AGLAONEMA

Kita sering terkecoh, saat membeli aglaonema mahal, ternyata –setelah kita bongkar– tidak punya bonggol, kecuali hanya beberapa helai akar. Bonggol terletak di bawah daun paling bawah, atau di atas tumbuhnya akar.

Orang selalu menyebut bagian dari tanaman aglaonema hanya terdiri dari: akar, batang, daun, dan paling banter bunga, buah atau biji. Padahal ada satu bagian lain yang tak kalah pentingnya, khususnya untuk tanaman aglaonema, yakni bonggol.

Bonggol terletak di bawah daun paling bawah, atau di atas tumbuhnya akar.

Bonggol disebut panjang jika panjangnya sedikitnya 5 cm. Sebaliknya disebut pendek, jika panjangnya hanya 1-2 cm.

Apa yang menyebabkan bonggol menjadi hal yang penting?

Bonggol terdiri dari ruas-ruas. Ruas-ruas itulah yang kelak memunculkan anakan-anakan baru aglaonema. Jika bonggol pendek atau tidak ada sama sekali, otomatis peluang memperoleh anak dari aglaonema menjadi sulit. Bahkan kemungkinan besar Anda akan memperoleh tanaman aglaonema yang kurang sehat, Sebaliknya jika bonggol panjang, yang ditandai dengan banyaknya ruas, kita bisa berharap, aglaonema tersebut akan produktif menghasilkan anakan-anakan baru.

Atau kalau ada waktu, potong bonggol itu sekitar 2 cm, dan tanam, untuk menghasilkan tanaman baru.

Harga aglaonema tidak murah. Karena itu, disarankan, — seperti sudah disinggung pula di bagian lain buku ini– sebaiknya Anda tidak perlu segan-segan apalagi malu meminta penjualnya, untuk mengeluarkan tanaman yang Anda beli dari dalam pot, untuk melihat kondisi bonggolnya.

(Dikutip dari buku Panduan Praktis Perawatan Aglaonema, karangan Kurniawan Junaedhie, penerbit PT Agromedia Pustaka, 2006)

Sirih Merah

Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fito-kimia yakni alkoloid, saponin, ta-nin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyem-buhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat. Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mi-litus, hepatitis, batu ginjal, me-nurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, ra-dang liver, radang prostat, radang mata,  keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak di-gunakan pada klinik herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat di-sembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat moderen. 

Tanaman sirih mempunyai banyak spesies dan memiliki jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai yang tumbuh berselang seling dari batangnya.

Sirih merah (Piper crocatum) adalah salah satu tanaman obat potensial yang sejak lama telah di-ketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, disamping itu juga memiliki nilai-nilai spritual yang tinggi. Sirih merah termasuk dalam satu elemen penting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat  khususnya di Jogyakarta. Tanaman ini termasuk di dalam famili Pipe-raceae dengan penampakan daun yang berwarna merah keperakkan dan mengkilap saat kena cahaya.

Sirih merah tumbuh merambat di pagar atau pohon. Ciri khas tanaman ini adalah berbatang bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian ujung daun meruncing. Permukaan daun meng-kilap dan tidak merata. Yang mem-bedakan dengan sirih hijau adalah selain daunnya berwarna merah keperakan, bila daunnya disobek maka akan berlendir serta aromanya lebih wangi.

Ramuan sirih merah telah lama dimanfaatkan oleh lingkungan kra-ton Jogyakarta sebagai tanaman obat yang beguna untuk ngadi saliro. Pada tahun 1990-an sirih merah di-fungsikan sebagai tanaman hias oleh para hobis, karena penampilannya yang menarik. Permukaan daunnya merah keperakan dan mengkilap. Pada tahun-tahun terakhir ini ramai dibicarakan dan dimanfaatkan se-bagai tanaman obat. Dari beberapa pengalaman, diketahui sirih merah memiliki khasiat obat untuk berbagai penyakit. Dengan ramuan sirih merah telah banyak masyarakat yang tersembuhkan dari berbagai pe-nyakit. Oleh karena itu banyak orang yang ingin membudidayakannya.

Aspek budidaya

Sirih merah dapat diperbanyak secara vegetatif dengan penyetekan atau pencangkokan karena tanaman ini tidak berbunga. Penyetekan dapat dilakukan dengan menggunakan sulur dengan panjang 20 – 30 cm. Sulur sebaiknya dipilih yang telah mengeluarkan akar dan mempunyai  2 – 3 daun atau 2 – 3 buku. Untuk mengurangi penguapan, daun di ku-rangi sebagian atau buang seluruh-nya. Sulur diambil dari tanaman yang sehat dan telah berumur lebih dari setahun. Cara perbanyakan dengan dengan setek dapat dilakukan dengan me-nyediakan media tanam berupa pasir, tanah dan kompos dengan perban-dingan 1 : 1 : 1. media tersebut di-masukkan ke dalam polibeg berdi ameter 10 cm yang bagian bawah-nya sudah dilubangin. Setek yang telah dipotong-potong direndam dalam air bersih selama lebih kurang 15 menit. Setek ditanam pada poli-beg yang telah berisi media tanam. Letakkan setek ditempat yang teduh dengan penyinaran matahari lebih kurang 60%.

Perbanyakan dengan cara pen-cangkokan dilakukan dengan me-milih cabang yang cukup tua kira-kira 15 cm dari batang pokoknya, kemudian cabang tersebut diikat atau dibalut ijuk atau sabut kelapa yang dapat menghisap air. Pencangkokan tidak perlu mengupas kulit batang. Cangkok diusahakan selalu basah agar akarnya cepat tumbuh dan ber-kembang. Cangkok dapat dipotong dan ditanaman di polibeg apabila akar yang muncul sudah banyak. Untuk tempat menjalar dibuat ajir dari batang kayu atau bambu. Penyiraman dilakukan satu sampai dua kali dalam sehari tergantung cuaca.

Penanaman di lapangan dilaku-kan pada awal musim hujan dan sebagai tiang panjat dapat digunakan tanaman dadap dan kelor. Jarak tanam dapat digunakan 1 x 1 m, 1 x 1,5 m tergantung kondisi lahan.

Sirih merah dapat beradaptasi de-ngan baik di setiap jenis tanah dan tidak terlalu sulit dalam pemelihara-annya. Selama ini umumnya sirih merah tumbuh tanpa pemupukan. Yang penting selama pertumbuhan-nya di lapangan adalah pengairan yang baik dan cahaya matahari yang diterima sebesar 60 – 75%.

 Penangan pasca panen

Tanaman sirih merah siap untuk dipanen minimal berumur 4 bulan, pada saat ini tanaman telah mem-punyai daun 16 – 20 lembar. Ukuran daunnya sudah optimal dan panjang-nya mencapai 15 – 20 cm. Daun yang akan dipanen harus cukup tua, bersih dan warnanya mengkilap karena pada saat itu kadar bahan aktifnya sudah tinggi. Cara pemetikan di-mulai dari daun tanaman bagian bawah menuju atas.

Setelah dipetik, daun disortir dan direndam dalam air untuk mem-bersikan kotoran dan debu yang me-nempel, kemudian dibilas hingga bersih dan ditiriskan. Selanjutnya daun dirajang dengan pisau yang tajam, bersih dan steril, dengan lebar irisan 1 cm. Hasil rajangan dikering anginkan di atas tampah yang telah dialas kertas sampai kadar airnnya di bawah 12%, selama lebih kurang 3 – 4 hari. Rajangan daun yang telah kering dimasukkan ke dalam kan-tong plastik transparan yang kedap air, bersama-sama dimasukan silika gel untuk penyerap air, kemudian di-tutup rapat. Kemasan diberi label  tanggal pengemasan selanjutnya di-simpan di tempat kering dan bersih. Dengan penyimpanan yang baik simplisia sirih merah dapat bertahan sampai 1 tahun.

Cara penggunaan simplisia sirih merah yaitu dengan merebus se-banyak 3 – 4 potongan rajangan dengan satu gelas air sampai men-didih. Setelah mendidih, rebusan ter-sebut disaring dan didinginkan. Penggunaan sirih merah dapat dilakukan selain dalam bentuk sim-plisia juga dalam bentuk teh, serbuk, dan ekstrak kapsul.

Pembuatan serbuk sirih merah yaitu diambil dari simplisia yang telah kering kemudian digiling dengan menggunakan grinder  men-capai ukuran 40 mesh. Pengemasan dilakukan pada kantong plastik transparan dan diberi label. Sedang-kan ekstrak kapsul dibuat dari hasil serbuk yang di ekstrak dengan menggunakan etanol 70%. Ekstrak kental yang didapat ditambahkan bahan pengisi tepung beras 50% dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 400C, setelah kering dimasukkan ke dalam kapsul.

Kandungan kimia

Tanaman memproduksi berbagai macam bahan kimia untuk tujuan tertentu, yang disebut dengan me-tabolit sekunder. Metabolit sekunder tanaman merupakan bahan yang tidak esensial untuk kepentingan hidup tanaman tersebut, tetapi mem-punyai fungsi untuk berkompetisi dengan makhluk hidup lainnya. Metabolit sekunder yang diproduksi tanaman bermacam-macam seperti alkaloid, terpenoid, isoprenoid, fla-vonoid, cyanogenic, glucoside, glu-cosinolate dan non protein amino acid. Alkaloid merupakan metabolit sekunder yang paling banyak di produksi tanaman. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistim heterosiklik. Nenek moyang kita telah memanfaatkan alkaloid dari tanaman sebagai obat.  Sampai saat ini semakin banyak alkaloid yang ditemukan dan diisolasi untuk obat moderen.

Para ahli pengobatan tradisional telah banyak menggunakan tanaman sirih merah oleh karena mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Dari buku ”A review of natural product and plants as potensial antidiabetic” dilaporkan bahwa senyawa alko-koloid dan flavonoid memiliki ak-tivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah.

Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavi-col, kavibetol, allylprokatekol, kar-vakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, ter-penena, dan fenil propada. Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia bermanfaat inilah, daun sirih merah  memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Eugenol dapat di-gunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat diguna-kan untuk mengobati sakit perut.

Sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi

Sejak jaman nenek moyang kita dahulu tanaman sirih merah telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, di samping itu sirih merah memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Sirih merah diperguna-kan sebagai salah satu bagian pen-ting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat ”ngadi saliro”. Air rebusannya yang mengandung antiseptik digunakan untuk menjaga kesehatan rongga mulut dan me-nyembuhkan penyakit keputihan ser-ta bau tak sedap.

Penelitian terhadap tanaman sirih merah sampai saat ini masih sangat kurang terutama dalam pengembang-an sebagai bahan baku untuk bio-farmaka. Selama ini pemanfaatan sirih merah di masyarakat hanya ber-dasarkan pengalaman yang dilaku-kan secara turun temurun dari orang tua kepada anak atau saudara ter-dekat secara lisan. Di Jawa, ter-utama di Kraton Jogyakarta,  tanam-an sirih merah telah dikonsumsi sejak dahulu untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Bedasarkan pengalaman suku Jawa tanaman sirih merah mempunyai manfaat me-nyembukan penyakit ambeien, ke-putihan dan obat kumur, alkaloid di dalam sirih merah inilah yang berfungsi sebagai anti mikroba.

Selain bersifat antiseptik sirih merah juga bisa dipakai mengobati penyakit diabetes, dengan meminum air rebusan sirih merah setiap hari akan menurunkan kadar gula darah sampai pada tingkat yang normal. Kanker merupakan penyakit yang cukup banyak diderita orang dan sangat mematikan, dapat disembuh-kan dengan menggunakan serbuk atau rebusan dari daun sirih merah. Beberapa pengalaman di masyarakat menunjukkan bahwa sirih merah dapat menurunkan penyakit darah tinggi, selain itu juga dapat menyem-buhkan penyakit hepatitis.

Sirih merah dalam bentuk teh herbal bisa mengobati asam urat, kencing manis, maag dan kelelahan, ini telah dilakukan oleh klinik herbal senter yang ada di Jogyakarta, di mana pasiennya yang berobat sem-buh dari diabetes karena meng-konsumsi teh herbal sirih merah. Sirih merah juga sebagai obat luar dapat memperhalus kulit.

Secara empiris diketahui tanaman sirih merah dapat menyembuhkan penyakit batu ginjal, kolesterol, asam urat, serangan jantung, stroke, radang prostat, radang mata, masuk angin dan nyeri sendi.

Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik, pada dosis tersebut mampu me-nurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3%. Lebih tinggi penu-runannya dibandingkan dengan pem-berian obat anti diabetes militus komersial Daonil 3,22 mml/kg yang hanya menurunkan 27% glukosa darah tikus. Hasil uji praklinis pada tikus, dapat di pakai sebagai acuan penggunaan pada orang yang men-derita kencing manis. Saat ini sudah cukup banyak klinik herbal center yang menggunakan sirih merah sebagai ramuan atau terapi yang berkhasiat dan manjur untuk pe-nyembuhan berbagai jenis penyakit

 Penutup

Tanaman sirih merah mempunyai banyak manfaat dalam pengobatan tradisional, mempunyai potensi me-nyembukan berbagai jenis penyakit. Banyak pengalaman bahwa meng-gunakan sirih merah dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul dapat menyembuhkan penya-kit diabetes militus, hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, men-cegah stroke, asam urat, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit.  Tanaman sirih merah dapat dapat beradaptasi dengan baik di setiap jenis tanah sehingga mudah dikembangkan dalam skala besar (Sumber: Feri Manoi, Warta Puslitbangbun Vol.13 No. 2, Agustus 2007).

Buah Naga

WASPADA Online
BUAH naga (Dragon Fruit) mungkin masih awam didengar di telinga masyarakat, karena pada tahun 2001 buah ini hanya ada di Israel, Australia, Thailand dan Vietnam, tetapi sekarang sudah mulai merambah pasaran Indonesia.

Buah ini sekarang mulai tersedia di toko buah dan pasar swalayan dan sejumlah perkebunan melirik komoditas ini lantaran budidayanya mudah dan prospek ke depan cerah dibanding buah lainnya.

Saat ini Thailand dan Vietnam merupakan pemasok buah terbesar dunia, tetapi permintaan yang dapat dipenuhi masih kurang dari 50 persen.

Pasar lokal saat ini dibanjiri produk ekspor berdasarkan catatan dari eksportir buah di Indonesia, buah naga ini masuk ke tanah air mencapai antara 200 400 ton/tahun asal Thailand dan Vietnam.

“Buah naga yang masuk ke Indonesia bahkan hampir setiap tahunnya mengalami peningkatan, akan tetapi buah naga lokal tetap diminati oleh pasar, selain itu prospek pasar ekspor pun dianggap cukup menggiurkan,” kata Djoko Raino Sigit,M.Si yang sekarang juga merintis mengembangkan tanaman buah naga di Malang, Jawa Timur dan Delanggu, Jawa Tengah.

Jenis buah naga ada empat macam, pertama buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super merah (Hylocereus costaricensis) dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicerius megalanthus).

Buah naga yang berasal dari jenis tanaman rumpun kaltes ini berasal dari Israel, dan terus dikembangkan di Australia, Thailand dan Vietnam.

“Saya melihat tanaman ini pertama di Israel, dan waktu itu ada teman dari Thailand pulang membawa bibitnya dan terus dikembangkan di negaranya sendiri sampai sekarang,” kata Djoko Raino Sigit yang juga sarjana biologi Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Setelah tahun 1997 Djoko Raino Sigit datang ke Thailand dan melihat tanaman buah naga yang bibitnya pernah dibawa dari Israel itu bisa berkembang baik.

Membawa diamdiam
Mahasiswa asal Thailand yang kuliah di luar negeri biasanya setiap pulang diwajibkan membawa tanaman yang di negaranya tidak ada dan tanamantanaman yang ada itu juga sulit untuk bisa dibawa keluar.

“Untuk mendapatkan bibit buah naga dari Thailand ini juga perlu perjuangan yang panjang, tidak semudah di Indonesia bibit tanaman apa saja sepertinya dibiarkan saja dibawa orang keluar negeri,” ujarnya.

Dia baru berhasil mendapatkan bibit buah naga tersebut setelah melakukan kerjasama dengan teman yang ada di Kedutaan Indonesia di Bangkok.

“Waktu itu saya bisa membawa pulang satu koper bibit buah naga berbentuk stekan pohonnya dan setelah tiba dirumah terus dicoba ditanam dan dikembangkan sampai sekarang,” ujarnya.

Bibit yang dibawa pulang ke tanah air itu jenis buah naga daging putih seperti dikembangkan di Thailand dan Vietnam.

Buah naga daging putih kulitnya merah dan sangat kontras dengan daging putih yang ada di dalamnya. Di dalam daging itu bertebaran bijihbijih hitam. Jenis ini banyak dijumpai di pasar lokal maupun mancanegara, bobot rataratanya 400500 gram.

Buah jenis ini bercitarasa manis bercampur masam segar, mempunyai sisik atau jumbai kehijauan di sisi luar, serta kadar kemanisannya tergolong rendah dibandingkan buah naga jenis lain, yakni 1013 briks.

Untuk mengembangkan tanaman buah naga ini, sampai sekarang (sudah tujuh tahun) Djoko Raino Sigit yang juga lulusan S2 teknik lingkungan UNS itu mengaku dibantu istrinya, Ny Endang Susilowati, SPd.

Dalam mengembangkan tanaman buah naga ini memang perlu ketekunan dan kesabaran, karena untuk merawat jenis tanaman ini memerlukan perlakuan tersendiri.

Dalam usahanya yang tanpa kenal menyerah dan putus asa dari bibit berbentuk stek satu koper itu dalam jangka waktu tujuh tahun ini telah bisa dikembangkan menjadi kebun buah naga seluas 17 hektare di Desa Purwodadi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan ratusan tanaman buah naga di dekat rumah sebagai kebun percontohan di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah.

Tanaman buah naga yang berada di Desa Purwodadi dan di dekat rumah sekarang ini sudah berbuah, bahkan diperkirakan pertengahan Januari akan terjadi panen raya.

Tiap pohon umur satu tahun minimal bisa menghasilkan buah tiga kilogram, sementara harga dijual di tempat Rp27 ribu/kilogram, dan kalau sudah sampai toko buah atau pasar swalayan antara Rp35 ribu sampai Rp40 ribu/kilogram.

Tanaman buah naga yang dikembangkan ini satu tahun bisa berbuah tiga kali, dan produksinya bisa terus meningkat, asalkan dirawat dengan baik dan tidak tercemar udara dari perusahaan dan lahan seluas satu hektar bisa ditanami 6.000 pohon, katanya.

Buah naga yang sangat cocok ditanam di lahan kering, dan dalam sekali tanam usianya bisa bertahan sampai 20 tahun.

Buah naga selain mempunyai nilai ekonomis tinggi, juga memiliki khasiat bagi kesehatan manusia, di antaranya sebagai penyeimbang kadar gula darah, pencegah kanker, pelindung kesehatan mulut, pengurang kolestrol, pencegah pendarahan, dan obat keluhan keputihan.

Pada umumnya, buah naga dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga, hal ini karena kandungan airnya yang sangat tinggi (90,2 persen) dari berat buah, serta rasanya cukup manis karena kadar gulanya mencapai 1318 briks.

Petani melirik

Hingga kini sudah cukup banyak petani yang melirik jenis tanaman buah ini, dan bahkan dari kalangan lembaga perguruan tinggi juga sudah banyak yang meminta dikirimi bibitnya untuk bahan penelitian.

“Hampir setiap hari libur ada petani secara rombongan yang datang ke sini dan terakhir Rabu (15/12) yang datang petani dari Banjarnegara satu bus untuk melihat kebun percontohan buah naga ini,” ujar Ny.Endang Susilowati SPd.

Djoko Raino Sigit mengatakan dari permintaan bibit yang telah dikirim itu kepada IPB dan saat ini sedang ditanam untuk dipelajari perlakuan buah naga ini.

Dia mengakui permintaan akan bibit itu cukup banyak, tetapi belum bisa dilayani semuanya, dan beberapa waktu lalu dari Malaysia juga minta satu kontiner untuk dikirim.

“Permintaan bibit satu kontiner dari Malaysia itu saya tolak, karena ini bukan citacita saya, memang saya juga butuh uang, tetapi saya akan lebih bangga kalau bisa menyejahterakan bangsa kita sendiri,” ujarnya.

Pengusaha perkebunan asal Malaysia itu pertengahan Januari 2005, akan datang ke sini untuk melihat kebun buah naga itu. “Silahkan anda datang ke sini melihat kebun buah naga saya, tetapi dengan catatan anda tidak boleh membawa pulang ke negara anda,” ujarnya.

Djoko Raino Sigit yang mempunyai obsesi mengangkat derajat kaum petani itu meminta kepada pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada tanamantanaman yang ada di Indonesia dan agar dicegah apabila dibawa keluar negeri. (m18/Ant) ()

MIMPI BERSAMA ANTHURIUM

Saat ini, semakin banyak orang yang jatuh cinta pada anturium. Selain terpikat oleh keindahan daun-daunnya, mereka bersemangat memelihara tanaman mirip talas itu lantaran dibuai harapan memperoleh untung besar. Maklum, tanaman yang sedang naik daun ini memang sedang punya pasar bagus.

Cobalah datang ke sentra tanaman hias di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Di sepanjang pinggir jalan kita bakal menemukan beragam anturium, mulai dari indukan besar, tanaman dewasa, sampai kecambah kecil hasil semaian. Kawasan itu juga menjadi tempat nongkrong para penggemar tanaman ini.

Salah satu tempat itu adalah Godongijo Nursery di Desa Sarua, Sawangan. Awal Oktober lalu, misalnya, sejumlah lelaki duduk-duduk santai di teras Godongijo Nursery sambil membahas berbagai perkembangan terbaru tanaman itu. Kebetulan saat itu mereka memperoleh buku anturium yang baru saja terbit.

“Perkembangan anturium sangat cepat. Makin banyak bermunculan hasil silangan baru dan harganya juga terus bergerak. Kami sering bertemu biar tak ketinggalan informasi,” kata Aji Basri (30), penggemar tanaman hias asal Pamulang, Tangerang.

Tak ada jadwal pertemuan khusus. Kumpul-kumpul seperti itu bisa terjadi kapan saja jika dirasa ada kebutuhan penting. Mereka terdiri dari para pedagang, penghobi, kolektor, serta penggemar anturium yang punya hubungan erat.

Mereka umumnya terdiri dari pencinta tanaman hias yang belakangan tersedot pesona anturium. Sebagian lagi penggemar ikan atau burung yang beralih ke tanaman itu. Tetapi, ada juga beberapa pemain lama yang memelihara anturium sejak tahun 1980-an.

Di Semarang, Jawa Tengah, terbentuk Komunitas Anturium Indonesia (KAI) di Semarang, awal September. Organisasi itu dideklarasikan kolektor, pedagang, pakar tanaman, serta penggemar dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Mereka merancang program pertemuan, diskusi, kontes, dan pameran lebih rutin lagi.

Sebelum itu, sudah ada Komunitas Anturium Karanganyar (KAK), yang banyak beranggotakan penggemar dan petani di kaki Gunung Lawu, Karanganyar. Kini KAK melebur dalam KAI. Hingga kini, KAI masih terus menjaring anggota baru dengan menyebarkan formulir serta meresmikan sejumlah cabang, antara lain di Denpasar, Yogyakarta, Batang, Pekalongan, dan Malang.

“Kami ingin menjaga stabilitas harga dan kualitas anturium serta menyiapkan program sertifikasi dan standardisasi jenis dan nama. Produk tanaman ini potensial untuk diekspor ke luar negeri,” kata Ketua KAI Bonaventura Sulistiana.

Maskulin
Kenapa mereka terpikat dengan tanaman yang di mata sebagian orang awam tampak “biasa-biasa saja” itu? Bagi penggemar fanatik, anturium sangatlah istimewa. Setiap lekuk, warna, tekstur, dan urat daunnya memendarkan pesona tersendiri.

Daun anturium berwarna hijau tua atau sedikit muda dengan urat dan tulang daun yang kekar dan menonjol. Sosoknya gagah sekaligus anggun dan mewah. Mungkin lantaran penampilannya yang terkesan maskulin, maka penggemarnya lebih didominasi laki-laki ketimbang perempuan. Jenis anturium yang kini banyak diburu antara lain berbagai turunan Jenmanii, Hookeri, Gelombang Cinta atau Wave Love, Garuda, dan Black Beauty.

Dulu, anturium jadi hiasan taman dan istana para raja. Tahun 1984-1985, hobi memelihara tanaman ini menggejala sebagai ikon gaya hidup elite. Sempat tenggelam sebentar, tanaman itu melejit lagi sekitar tahun 1987-1992. Awal tahun 2006, anturium kembali menduduki posisi puncak tanaman hias.

Menurut Ketua Florikultura Indonesia Iwan Hendrayatna, anturium muncul saat pasar jenuh dengan tanaman hias aglonema. “Saat aglonema turun, orang-orang mencari mainan baru dengan melirik anturium lagi,” katanya.

Pasang ketiga kali ini berlangsung cepat dan diwarnai lonjakan harga. Februari tahun 2006, harga satu anturium induk dewasa jenis Jenmanii klasik sekitar Rp 1 juta per pohon. Beberapa bulan kemudian, harganya sudah tak keruan.

“Saat pameran tanaman hias di Lapangan Banteng, Jakarta, Agustus 2006, saya beli jenis Jemanii ’kobra’ Rp 15 juta. Beberapa saat kemudian, pohon itu dibeli penggemar asal Jawa Tengah seharga Rp 25 juta,” kata Aseng Suwandi Taher (48), kolektor anturium asal Bogor.

Kini, harga jual dihitung dari jumlah daunnya. Satu daun jenis Jenmanii “kobra” dijual sampai puluhan juta. Bahkan, biji yang siap disemai sudah dihargai Rp 185.000-Rp 800.000 per buah. Bonggol (umbi), tongkol (bunga), dan kecambah hasil semaian juga laris.

Rekor harga dicapai satu jenis Jenmanii silangan baru di Kudus, Jawa Tengah, yang dijual sampai Rp 1,25 miliar belum lama ini. Padahal, tanaman itu masih setinggi 60-an sentimeter.

Komoditas
Keadaan ini memberi berkah bagi petani, pedagang pengumpul, kolektor, sampai penggemar. Kisah pemelihara anturium “yang kaya mendadak” jadi bumbu obrolan di kalangan pencinta tanaman hias. Impian meraup keuntungan tinggi dalam waktu cepat membuat banyak orang memburu tanaman ini.

“Masyarakat memelihara anturium karena ada harapan bakal memanen keuntungan. Impian ini tumbuh subur di tengah situasi ekonomi bangsa yang lesu,” kata Firdaus Alamhudi, pelukis asal Pondok Pinang, Jakarta Selatan, yang belakangan jatuh cinta pada anturium.

Sampai kapan fenomena ini berlangsung? Banyak kalangan optimistis tanaman ini masih akan bagus posisinya karena masih bermunculan bermacam jenis silangan baru. Meski begitu, tak sedikit yang menduga pasar ini hanya gelembung sementara hasil “goreng-gorengan” di antara pedagang sehingga bakal menurun juga suatu saat nanti.

“Punya anturium seperti menyimpan saham. Menjanjikan. Tetapi, kita tidak tahu kapan naik kapan turun,” ungkap Chandra Gunawan Hendarto, pemilik Godongijo Nursery di Sawangan, Depok. (Ilham Khoiri/ Kompas, 22 Okt. 2007)

MEMBUAT ADENIUM UNIK KREASI AKAR TERBALIK

Menanam adenium dengan akar di bawah mah sudah biasa. Yang tidak biasa, menanam adenium dengan akar di atas. Ternyata menghasilkan tampilan adenium mempesona, unik dan eksperimental. Diam-diam banyak peminatnya. Tapi bagaimana membuatnya? Apa resikonya? Baca saja artikel ini.

1. Akar balik merupakan kriteria yang paling eksperimental, tetapi digemari oleh hobiis yang bernyali besar untuk mentrain bonggol adeniumnya. Gaya akar balik ini mendominasi bonggol yang tumbuh alami di tanah.

Pertumbuhannya yang cenderung lurus-lurus minim lekukan. Keputusan menggunakan gaya ini lebih pada kondisi bonggol akar yang kurang menarik ditanam dengan gaya yang mana pun.

Gaya balik diperoleh dengan cara membalik akar, sehingga ujung akar akan berada di atas, sedangkan bonggol batanglah yang tertanam. bentuk-bentuk eksotis kerap muncul akibat bentuknya yang mengerucut mengecil ke ujung akar. Ditambah dengan kurva melengkung sedikit, mirip bilah keris.

Training yang cukup berat ini kerap gagal, karena membalik proses pertumbuhan adenium secara drastis , terutama pertumbuhan tunasnya. Kerap juga bonggol tadi tumbuh tunas tetapi tidak membesar dalam jangka waktu yang sangat lama, bagai kerakap tumbuh di batu

2. Cara mendisplay sebaliknya di balik vertikal, banyak yang mengadaptasikan dengan merebahkannya horisontal, tetapi kurang mnonjolkan kesan eksotisnya – tampak biasa-biasa saja.

3. Pada gaya balik ini jumlah akar tidak dibatasi, satu buah akar yang di balik dengan lenggokan seperti keris sudah memenuhi syarat. Lebih banyak akar akan menghasilkan pemandangan yang sangat eksotis. kombinasi ketinggian akar dari masing-masing akar akan menambah penilaian.

4. Persyaratan yang harus dipenuhi, akar haruslah mengerucut membesar dari bonggol batang yang ditanam, dan mengecil sampai ujung akar. Penggunaan akar yang lurus dengan besar yang relatif sama, tidak ditolerir karena tidak menunjukkan keindahan.

5. Pertumbuhan tunas batang bisa dimulai dari bonggol akar, dan membiarkan bonggol-bonggol akar menjulang keatas. Diusahakan agar percabangan tidak mengganggu atau menutupi bonggol akar yang ada. sedapat mungkin diupayakan jika bisa menjadi latar belakang.

6. Banyak hobiis menggrafting ujung-ujung akar. Hal ini juga diperbolehkan. resiko yang dihadapi hanya pada lambatnya pertumbuhan grafting.

7. Penggunaan wadah tanam/ pot, mengingat penanaman yang vertikal menjulang ke atas, sebaiknya dijaga kesembangannya dengan menggunakan pot yang agak dalam. Bentuk pot sebaiknya tidak terlalu lebar, 5 size diatas bonggol akar. Sehingga antara bonggol batang dan pinggir pot tidak menyisakan space kosong yang terlalu banyak.

8. Potensi akar dibalik ini banyak dijumpai dimana-mana. Keberanian hobiis untuk mencoba-coba juga kerap terlihat, tetapi mengingat kriteria gaya akar dibalik belum lumrah, banyak kesalahan yang terjadi didalam mengimplementasikannya.

(Sumber: http://myadenium.com/

MEMBESARKAN BONGGOL ADENIUM

Hampir 90 % sel tanaman tersusun air dan tidak salah bila dikatakan dimensi tanaman sangat tergantung dengan banyaknya air yang ditampung dalam sel (vacuola / rongga sel). Faktor-faktor yang berpengaruh dalam hal ini adalah tingkat kelenturan (extensibilitas) dinding sel dan besarnya influk air ke dalam sel.

Tingkat pertumbuhan sel meningkat dengan cepat bila extensibilitas sel dan influk air ke dalam sel juga meningkat. Nah tinggal dicari apa yang mempengaruhi dua faktor tersebut di atas.

Perlu digarisbawahi, pertumbuhan sel tanaman dimulai dengan pemanjangan (ratio pemanjangan jauh lebih tinggi dari pelebaran) dan disebut pertumbuhan primer. Setelah tahap pemanjangan sampai titik maksimum kemudian diikuti pertumbuhan kearah lateral/pelebaran (pertumbuhan sekunder). Pertumbuhan selanjutnya terjadi pada titik tumbuh baru (meristem) dengan mekanisme dan proses yang sama seperti di atas.

Bahwa hormon auksin, hormon giberelin, dan ekspansin (sejenis senyawa protein) dipercaya dapat meningkatkan kelenturan dinding sel.

Berita baik, urea yang sudah sangat kita kenal mempunyai dampak mirip dengan kerja ekspansin. Berita buruk, hati-hati dengan urea, tanaman mudah layu dan dinding sel jadi rawan pembusukan.

Mungkin tambahan 1 sendok makan (10 gram) urea dilarutkan dalam 25 liter air (setara 186 ppm urea 46%) diberikan satu minggu sekali akan cukup aman.

Catatan : bila pakai urea, agar efektif pastikan media tanam jangan pasir melulu, karena urea seperti halnya pupuk organik yang lain, perlu dekomposisi oleh mikroorganisme sebelum dapat diserap tanaman.

Tharie Wie
Omahijo.com

Dikutip dari Omahijo.com

Strategi Berdagang Tanaman Hias

Berdagang termasuk jualan tanaman hias, pada dasarnya adalah persaingan pasar. Perlu strategi khusus agar dagangan tetap laris dan tidak ditinggal pelanggan.

Sebagaimana dikutip dari Kedaulatan Rakyat terbitan awal bulan ini, menurut pengelola Griya Hobi Mitra, Yogyakarta, drh Budi Santosa, ada 15 sikap yang harus terpatri dalam jiwa seorang pedagang.

1. Jangan rakus dalam mengambil untung.

2. Jaga kualitas barang.

3. Jangan sekali-kali memalsu barang atau mengelabuhi pembeli.

4. Kalau tanaman selalu baru, akan kelihatan selalu segar dan menarik, tanaman harus yang dimaui pasar.

5. Dalam situasi harga yang terus menurun, harus siap merugi dengan menyesuaikan harga yang sekarang.

6. Buat setting tempat yang menarik.

7. Jadilah penjual yang baik, ramah, bisa berkomunikasi dengan baik terhadap pengunjung.

8. Berilah jaminan terhadap pembeli.

9. Sesekali membuat kejutan dengan menjual barang tanpa mengambil untung.
10. Dalam kondisi keuntungan tipis, bila pembeli menawar, lebih baik memberi bonus tanaman ketimbang memberi diskon karena sama saja menjual tanaman yang lain dan pembeli akan merasa senang.

11. Selalu optimis karena produk yang berhubungan dengan hobi, tak pernah berhenti.

12. Selalu mengikuti trend,

13. Bikin pembeli bersemangat memelihara tanaman.

14. Kreatif dalam berpromosi, tawarkan produk baru atau kejutan baru.

15. Berjualan harus bersuasana hati yang longgar dan senang, tidak perlu kemrungsung (gelisah, ed) dan nggresula (mengeluh, ed). Percayalah bahwa rezeki sudah diatur Tuhan